Perusahaan EV Bandung Siap Maksimalkan Dana Rp635 Miliar untuk Konversi Motor. Dok Istimewa
Menurut Raine, pengembangan industri konversi motor listrik tidak cukup hanya dengan mengganti mesin berbahan bakar bensin menjadi penggerak listrik. Program tersebut juga membutuhkan dukungan infrastruktur dan layanan yang memadai.
Sejumlah komponen yang diperlukan di antaranya fasilitas konversi, tenaga teknisi, ketersediaan baterai dan komponen, stasiun penukaran baterai atau Battery Swap Station (BSS), perangkat lunak, teknologi Internet of Things (IoT), pemeliharaan, hingga pembiayaan.
EV-GO mengembangkan ekosistem yang mencakup teknologi konversi kendaraan, BSS, IoT, manajemen armada (fleet management), dan infrastruktur energi.
Salah satu wilayah yang dinilai memiliki potensi untuk penerapan program tersebut adalah Bali. Menurut Raine, tingginya aktivitas kendaraan roda dua serta dukungan kebijakan daerah terhadap kendaraan listrik berbasis baterai dapat menjadi faktor pendorong.
“Saya rasa Bali menjadi lokasi yang paling siap melakukan transformasi energi dan transportasi hijau. Dukungan pemerintah daerah, masyarakat, komunitas, dan regulasi akan sangat membantu,” katanya.
EV-GO sebelumnya juga menyiapkan gagasan konversi hingga satu juta sepeda motor di Bali. Namun, realisasi dalam skala tersebut membutuhkan pembangunan infrastruktur yang lebih luas, mulai dari jaringan stasiun penukaran baterai, fasilitas servis, distribusi baterai, sistem pemantauan, hingga ketersediaan tenaga teknis.
Kesiapan ekosistem tersebut menjadi salah satu faktor penting agar program konversi tidak berhenti pada penggantian mesin, tetapi juga memberikan kemudahan bagi pengguna dalam mengoperasikan dan merawat kendaraan listrik.