Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Persaingan Industri Seret Pasokan Batu Bara untuk PLTU Cirebon
Ilustrasi tambang batu bara (IDN Times/Aditya)
  • Persediaan batu bara di sejumlah PLTU Cirebon menurun, memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan energi dan stabilitas operasional pembangkit listrik berbasis fosil.
  • Perbedaan harga batu bara antar sektor membuat pemasok lebih memilih industri dengan nilai jual tinggi, sehingga pasokan untuk pembangkit listrik menjadi kurang prioritas.
  • PLTU sangat bergantung pada batu bara dengan spesifikasi tertentu, sehingga sulit beralih ke bahan bakar lain; namun pasokan listrik jelang Idul Fitri masih dinilai aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Persediaan batu bara di sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di wilayah Cirebon, Jawa Barat, mulai menyusut. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan energi listrik apabila distribusi bahan bakar utama pembangkit tidak segera diperkuat. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional, keterbatasan stok batu bara berpotensi menekan stabilitas operasional pembangkit listrik berbasis fosil.

Wakil Direktur Utama Cirebon Power, Joseph Pangalila, menjelaskan kondisi cadangan batu bara di beberapa pembangkit tidak merata. Sebagian unit pembangkit masih memiliki cadangan bahan bakar yang cukup untuk operasi lebih dari sepuluh hari. Namun di sisi lain, ada pula pembangkit yang cadangannya sudah berada di bawah ambang batas tersebut.

“Di beberapa unit stoknya masih di atas sepuluh hari operasi, tetapi ada juga yang sudah kurang dari itu,” kata Joseph saat ditemui beberapa waktu lalu.

Penurunan cadangan ini menjadi perhatian karena batu bara merupakan komponen utama dalam sistem produksi listrik berbasis PLTU. Jika pasokan tersendat dalam jangka panjang, operasional pembangkit dapat terdampak dan berpotensi memengaruhi keandalan sistem kelistrikan secara keseluruhan.

1. Tekanan pasokan akibat skema harga batu bara

ilustrasi PLTU (Pexels.com/Pixabay)

Menurut Joseph, salah satu faktor yang memicu terbatasnya pasokan batu bara bagi sektor kelistrikan berkaitan dengan kebijakan harga dalam mekanisme domestic market obligation (DMO). Dalam kebijakan tersebut, harga batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik ditetapkan jauh lebih rendah dibandingkan harga yang dibayarkan oleh sektor industri lain.

Harga batu bara yang disediakan bagi pembangkit listrik dipatok sekitar US$70 per ton. Nilai ini lebih rendah dibandingkan harga yang dibayarkan industri semen yang bisa mencapai sekitar US$90 per ton. Sementara itu, untuk sektor pengolahan mineral seperti smelter, harga batu bara umumnya mengikuti pergerakan pasar.

Perbedaan harga tersebut membuat pemasok batu bara cenderung menyalurkan produksi mereka ke sektor yang menawarkan nilai jual lebih tinggi. Akibatnya, distribusi batu bara ke pembangkit listrik kerap berada di posisi terakhir dalam prioritas penjualan.

“Karena harga untuk sektor listrik paling rendah, pemasok biasanya mendahulukan sektor lain yang memberikan margin lebih besar,” ujar Joseph.

2. Dampak persaingan industri energi

ilustrasi PLTU (pexels.com/Kelly)

Joseph mengungkapkan tekanan pasokan tersebut sebenarnya sudah mulai terasa sejak tahun lalu. Sejumlah pembangkit di berbagai daerah sempat mengalami penurunan stok yang cukup tajam akibat keterlambatan pengiriman batu bara dari perusahaan tambang.

Situasi ini menunjukkan semakin kuatnya persaingan antara sektor kelistrikan dan industri lain dalam memperoleh pasokan batu bara domestik. Selain pembangkit listrik, komoditas energi tersebut juga menjadi bahan bakar penting bagi industri semen serta fasilitas pemurnian mineral.

Dalam kondisi pasar seperti itu, distribusi batu bara menjadi sangat dipengaruhi oleh perbedaan harga jual di setiap sektor pengguna. Jika tidak diatur secara ketat, potensi ketidakseimbangan distribusi dapat terjadi dan berdampak pada sektor energi strategis seperti kelistrikan.

"Kami berharap pemerintah dapat memastikan distribusi batu bara untuk pembangkit listrik memperoleh prioritas yang memadai," katanya.

3. Ketergantungan PLTU pada batu bara

ilustrasi PLTU (pixabay.com/bhumann34)

Joseph menegaskan, pembangkit listrik tenaga uap tidak memiliki fleksibilitas besar dalam mengganti bahan bakar. Infrastruktur PLTU dirancang untuk menggunakan batu bara dengan spesifikasi tertentu yang berkaitan dengan nilai kalor dan karakteristik kimia bahan bakar tersebut.

Karena desain teknis tersebut, mengganti jenis batu bara saja tidak selalu mudah, apalagi beralih ke sumber energi lain dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, stabilitas pasokan batu bara menjadi faktor kunci dalam menjaga operasional pembangkit.

“PLTU memang dirancang untuk menggunakan batu bara. Bahkan mengganti jenis batu bara pun tidak selalu bisa dilakukan begitu saja,” katanya.

Meski demikian, Joseph memastikan, pasokan listrik menjelang periode Hari Raya Idul Fitri masih berada dalam kondisi aman. Hal ini karena konsumsi listrik nasional biasanya menurun selama masa libur Lebaran ketika banyak pabrik dan kawasan industri menghentikan kegiatan produksi sementara.

Editorial Team