Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perputaran Ekonomi Acara Kirab Budaya Tatar Sunda Diklaim Capai Rp80 M
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi menunggangi kuda putih saat Kirab Budaya Tatar Sunda di Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
  • Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di sembilan daerah Jawa Barat menghasilkan perputaran ekonomi lebih dari Rp80 miliar dengan total penonton mencapai sekitar 1,2 juta orang.
  • Kota Bandung mencatat jumlah penonton dan nilai ekonomi tertinggi, disusul Sumedang dan Cianjur, dengan pengeluaran terbesar berasal dari konsumsi, akomodasi, dan transportasi lokal.
  • Pemerintah Provinsi Jabar menegaskan acara ini tidak menggunakan dana APBD karena seluruh pendanaan berasal dari partisipasi masyarakat dan tokoh budaya yang memberikan dukungan langsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2–16 Mei 2026

Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda digelar di sembilan kabupaten/kota di Jawa Barat. Acara ini menarik lebih dari satu juta penonton dan menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp80 miliar.

kini

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengklaim acara tersebut meningkatkan okupansi hotel dan mendorong ekonomi daerah. Gubernur Dedi Mulyadi serta Sekda Herman Suryatman menegaskan kegiatan didanai partisipasi masyarakat tanpa menggunakan APBD.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pemerintah Provinsi Jawa Barat melaporkan perputaran ekonomi dari acara Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda mencapai sekitar Rp80 miliar selama pelaksanaan di sembilan kabupaten/kota.
  • Who?
    Kegiatan ini melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi, Sekretaris Daerah Herman Suryatman, serta masyarakat dan tokoh budaya sebagai partisipan utama.
  • Where?
    Acara berlangsung di sembilan kabupaten/kota di Jawa Barat, termasuk Bandung, Sumedang, Cianjur, Tasikmalaya, Ciamis, Cirebon, Karawang, Bogor, dan Garut.
  • When?
    Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda digelar pada 2 hingga 16 Mei 2026 dengan rangkaian kegiatan di berbagai daerah secara bergiliran.
  • Why?
    Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperingati Milangkala Tatar Sunda sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata dan kebudayaan lokal.
  • How?
    Perputaran ekonomi dihitung dari pengeluaran pengunjung untuk konsumsi, akomodasi, transportasi lokal, serta dukungan langsung masyarakat dan tokoh budaya tanpa menggunakan dana APBD.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada acara besar namanya Kirab Budaya Tatar Sunda di banyak kota di Jawa Barat. Banyak orang datang, lebih dari sejuta penonton. Uangnya yang berputar banyak sekali, sampai delapan puluh miliar rupiah. Hotel-hotel jadi penuh karena banyak tamu. Katanya uangnya bukan dari pemerintah, tapi dari orang dan tokoh budaya yang mau bantu acara itu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Gelaran Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda menunjukkan bagaimana kegiatan berbasis kebudayaan dapat menjadi penggerak ekonomi yang inklusif. Dengan perputaran dana mencapai Rp80 miliar dan partisipasi lebih dari satu juta penonton, acara ini memperlihatkan sinergi antara masyarakat, pelaku budaya, dan pemerintah tanpa menggunakan APBD, sekaligus meningkatkan okupansi hotel serta aktivitas ekonomi lokal di berbagai daerah Jawa Barat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengklaim perputaran ekonomi dari gelaran Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di sembilan kabupaten/kota pada 2-16 Mei 2026, mencapai Rp80 miliar. Kegiatan ini juga berdampak pada okupansi hotel.

Berdasarkan data penyelenggara yang diterima IDN Times, total perputaran ekonomi dari rangkaian acara budaya tersebut mencapai hingga Rp60,67 miliar. Jika ditambah dengan belanja langsung sepanjang gelaran ini, Rp24,3 miliar, maka total perputaran ekonomi mencapai Rp80 miliar lebih.

Sementara, total estimasi penonton yang menghadiri rangkaian kirab budaya mencapai 1.213.500 orang. Perhitungan ini berasal dari akumulasi penonton di titik start, area finish, serta masyarakat yang menyaksikan di sepanjang jalur kirab.

1. Pengunjung dari Kota Bandung paling banyak

(Humas/Pemprov Jabar)

Kota Bandung menjadi daerah dengan jumlah penonton terbesar, yakni mencapai 281.000 orang dengan estimasi perputaran ekonomi sekitar Rp14,05 miliar. Sumedang sebanyak 170.000 penonton dengan potensi ekonomi Rp8,5 miliar, serta Cianjur mencapai 165.000 penonton dengan estimasi Rp8,25 miliar.

Kemudian, Tasikmalaya mencatat sekitar 120.000 penonton dengan estimasi perputaran ekonomi Rp6 miliar, Ciamis sebanyak 106.000 penonton senilai Rp5,3 miliar, dan Cirebon sekitar 97.500 penonton dengan estimasi Rp4,87 miliar.

Adapun Karawang diperkirakan dihadiri 125.000 penonton dengan potensi ekonomi Rp3,75 miliar, Bogor sebanyak 70.000 penonton dengan estimasi Rp6,25 miliar, serta Garut sekitar 65.000 penonton dengan nilai ekonomi Rp3,25 miliar.

2. Kirab budaya memberikan dampak ekonomi

(Humas/Pemprov Jabar)

Perhitungan perputaran ekonomi ini didasarkan pada estimasi pengeluaran pengunjung untuk kebutuhan makanan, minuman, akomodasi, hingga transportasi lokal, ditambah biaya yang dikeluarkan penyedia jasa maupun supplier selama kegiatan berlangsung.

Data penyelenggara juga menyebut estimasi tersebut mengacu pada standar pengeluaran wisatawan lokal berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar Rp50.000.

Selain itu, estimasi kebutuhan akomodasi peserta mencapai Rp405 juta, sedangkan estimasi akomodasi undangan tercatat sebesar Rp96 juta.

Sementara itu Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengatakan, gelaran ini turut mendorong perputaran ekonomi daerah. Dia mencontohkan tingkat hunian hotel yang meningkat selama agenda berlangsung.

"Dari sisi ekonomi memberikan implikasi yang cukup kuat. Coba lihat hotel-hotel penuh," kata dia belum lama ini.

3. Kirab Budaya Tatar Sunda tidak menggunakan dana APBD

(Humas/Pemprov Jabar)

Sementara itu Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menegaskan, anggaran kirab budaya ini bersumber dari partisipasi langsung masyarakat dan para tokoh budaya. Artinya, tidak menggunakan APBD.

"Ya memang tidak menggunakan APBD, ya dari partisipasi banyak pihak. Contoh di Sumedang ada tokoh (menyampaikan), kami ingin berpartisipasi sehingga kesenian, ada yang tanggung jawab sound system, ada yang tim musik, ada yang tim tarian. Jadi langsung bersangkutan," ujar Herman.

Menurut Herman, pemerintah provinsi hanya mengelola jalannya acara, sedangkan dukungan diberikan langsung kepada pihak pelaksana di lapangan.

"Jadi kami tidak mengumpulkan pendanaan. Kami hanya me-manage penyelenggaraannya, tapi dari sisi keuangannya, partisipan atau masyarakat yang berpartisipasi, tokoh atau siapapun, langsung dengan yang bersangkutan," ucapnya.

Dia mencontohkan pelaksanaan di Garut yang seluruh pembukaan acara seni silat ditanggung langsung oleh tokoh budaya setempat.

"Kemarin di Garut juga, untuk tim yang dari Garut itu kan ada seni silat sekaligus membuka acara ya. Ada tokoh menyampaikan, ini dari kami. Dan banyak entitas tokoh yang peduli terhadap kebudayaan, turut serta di dalam jadi tidak menggunakan APBD," katanya.

Herman menegaskan kontribusi yang diberikan bukan berupa uang tunai, melainkan dukungan nyata. "Dan tidak dalam bentuk uang, tapi tanggung jawab untuk menghadirkan tim kesenian, tim musik, sound system, dan lain sebagainya," ungkapnya.

Editorial Team