Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi Tawuran (Foto: IDN Times)
Ilustrasi Tawuran (Foto: IDN Times)

Intinya sih...

  • Kekerasan Pelajar Bukan Kasus Tunggal

  • Dorong Penanganan Berbasis Perlindungan Anak

  • Serukan Pendekatan Keibuan dan Pendidikan Karakter

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cianjur, IDN Times — Kasus perkelahian antar pelajar kembali terjadi di Kabupaten Cianjur. Terbaru, aparat mengamankan 10 pelajar SMP dan SMA terkait duel dua lawan dua di wilayah selatan Cianjur. Insiden yang viral di media sosial itu mengakibatkan satu pelajar mengalami luka serius.

Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Metty Triantika menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut. Menurutnya, kekerasan pelajar yang terus berulang menjadi sinyal kuat adanya persoalan mendasar dalam pembinaan generasi muda.

1. Kekerasan Pelajar Dinilai Bukan Kasus Tunggal

ilustrasi kekerasan pelajar/dipukul/dihajar (freepik)

Metty menilai peristiwa ini tidak bisa dipandang sebagai kejadian insidental. Dalam beberapa tahun terakhir, perkelahian pelajar di Cianjur terus berulang dengan pola yang relatif serupa.

“Kondisi ini menjadi alarm bagi kita semua dan menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam pembinaan karakter, pengawasan lingkungan pergaulan, serta pendampingan emosional terhadap anak-anak usia sekolah,” ujar Metty kepada wartawan, Kamis (22/1/2026).

Menurutnya, setiap kasus perkelahian pelajar harus dibaca sebagai alarm sosial. Anak-anak, kata Metty, tidak lahir dengan kecenderungan kekerasan, tetapi dibentuk oleh lingkungan, pola asuh, dan ruang sosial yang gagal memberi rasa aman serta teladan yang baik.

2. Dorong Penanganan Berbasis Perlindungan Anak

Ilustrasi Perlindungan Anak (IDN Times/Sukma Shakti)

Metty mengapresiasi langkah cepat kepolisian yang mengamankan para pelajar guna mencegah konflik meluas. Namun, ia mengingatkan agar penanganan kasus yang melibatkan anak tetap mengedepankan prinsip perlindungan anak.

“Proses penanganan harus mengutamakan pembinaan dan pemulihan, bukan semata-mata pendekatan represif,” ujarnya.

Sebagai pimpinan DPRD, Metty menekankan pentingnya melihat persoalan ini secara utuh dan tidak parsial. Menurutnya, hukuman tanpa pendampingan justru berpotensi membuat anak kehilangan arah dan memperparah masalah sosial di kemudian hari.

3. Serukan Pendekatan Keibuan dan Pendidikan Karakter

Ilustrasi pendidikan karakter (https://bit.ly/4dnmc1n)

Sebagai aktivis perempuan dan seorang ibu, Metty mengaku tersentuh secara personal melihat pelajar terlibat kekerasan fisik. Ia menilai anak-anak tersebut masih memiliki masa depan panjang yang tidak boleh rusak akibat kegagalan sistem pendampingan.

Ia mendorong penguatan pendidikan karakter secara nyata di sekolah, mulai dari relasi guru dan murid yang lebih humanis, kehadiran konselor sekolah yang aktif, hingga keterlibatan orang tua secara berkelanjutan.

“Pendidikan tidak cukup hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membentuk kedewasaan emosi dan empati sosial,” kata Bendahara Umum DPD Partai Golkar Jawa Barat itu.

Selain itu, Metty juga menyoroti peran media sosial yang kerap memicu adu gengsi dan tantangan kekerasan di kalangan remaja. Ia mendorong peningkatan literasi digital agar pelajar lebih kritis dan tidak mudah terprovokasi.

Di akhir pernyataannya, Metty menegaskan komitmen DPRD Kabupaten Cianjur untuk mendorong sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah, sekolah, tokoh masyarakat, dan aparat penegak hukum.

“Penanganan kasus ini harus menjadi momentum bersama untuk membangun lingkungan yang lebih aman, peduli, dan manusiawi bagi tumbuh kembang generasi muda Cianjur,” tutupnya.

Editorial Team