Ilustrasi pendidikan karakter (https://bit.ly/4dnmc1n)
Sebagai aktivis perempuan dan seorang ibu, Metty mengaku tersentuh secara personal melihat pelajar terlibat kekerasan fisik. Ia menilai anak-anak tersebut masih memiliki masa depan panjang yang tidak boleh rusak akibat kegagalan sistem pendampingan.
Ia mendorong penguatan pendidikan karakter secara nyata di sekolah, mulai dari relasi guru dan murid yang lebih humanis, kehadiran konselor sekolah yang aktif, hingga keterlibatan orang tua secara berkelanjutan.
“Pendidikan tidak cukup hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membentuk kedewasaan emosi dan empati sosial,” kata Bendahara Umum DPD Partai Golkar Jawa Barat itu.
Selain itu, Metty juga menyoroti peran media sosial yang kerap memicu adu gengsi dan tantangan kekerasan di kalangan remaja. Ia mendorong peningkatan literasi digital agar pelajar lebih kritis dan tidak mudah terprovokasi.
Di akhir pernyataannya, Metty menegaskan komitmen DPRD Kabupaten Cianjur untuk mendorong sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah, sekolah, tokoh masyarakat, dan aparat penegak hukum.
“Penanganan kasus ini harus menjadi momentum bersama untuk membangun lingkungan yang lebih aman, peduli, dan manusiawi bagi tumbuh kembang generasi muda Cianjur,” tutupnya.