Bandung, IDN Times - Waktu menunjukkan pukul 09.10 WIB, saat Adi Subakti sampai di gudang logistik JNE, Gedebage, Kota Bandung, Kamis (12/3/2026). Bertegur sapa dengan satpam dan sejumlah teman yang sudah membawa paket konsumen, dia bergegas masuk ke area belakang untuk menyimpan tas dan jaket yang dikenakan.
"Udah siang sih kalau jam segini," kata Adi sembari melihat banyaknya paket yang harus dipilah.
Adi adalah salah satu kurir yang sudah bekerja lebih dari empat tahun. Hampir setiap hari dia datang ke gudang di Gedebage dari rumahnya yang berada di Padalarang, Bandung Barat, jaraknya lebih dari 30 kilometer (km). Berangkat dari pagi hari, dia membutuhkan waktu paling cepat 45 menit, tapi ketika macet lama perjalanan bisa mencapai 1,5 jam.
Meski cukup melelahkan di perjalanan, dia tetap harus segera menyortir paket yang akan dikirim berdasarkan jalan, perumahan, atau kawasan tertentu. Ini dilakukan agar pengiriman bisa dilakukan dengan cepat, tidak harus bolak-balik. "Ini istilahnya ngejalur kang (membuat jalur). Saya kan buat area di Bandung Kidul, jadi dicek harus bener alamatnya di daerah itu. Kadang ada aja yang barang daerah lain masuk ke kita," kata dia.
Istilah ngejalur digunakan Adi dan teman-teman kurir lainnya untuk memetakan paket mana dulu yang akan dikirim ketika keluar dari gudang logistik. Mereka harus mempersiapkan paket yang paling dekat lebih dulu untuk kemudian menumpukkan paket dengan alamat paling jauh di karung paling belakang.
Dalam sehari, setiap kurir bisa mengirimkan paket mencapai puluhan bahkan ada yang di atas 100 ketika bulan-bulan tertentu seperti Ramadan. Sebab, banyak orang berbelanja untuk merayakan Idul Fitri. Seperti yang dilakukannya hari ini, Adi harus menyorit lebih dari 150 paket menjadi lima deret sesuai dengan alamat tertera.
Berdasarkan data Compas.co.id dari historis Ramadan 2025, perilaku konsumen Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan pada sejumlah kategori fast moving consumer goods (FMCG) yang berkaitan dengan kebutuhan jamuan hari raya dan persiapan penampilan diri. Ini membuat ada kenaikan jumlah pengiriman barang oleh kurir setiap tahunnya pada Bulan Suci.
Butuh ketelitian agar paket yang disusun benar-benar sesuai dengan jalur perjalanan yang akan ditempuhnya. Jika salah satu saja terselip, itu akan membuatnya kembali ke area yang sudah dilewati dan dampaknya pulang pun semakin larut.
Setelah paket-paket tersebut dirapikan, Adi kemudian harus memasukkannya ke dalam karung cukup besar. Paket disusun kembali agar tidak rusak dan mudah saat diambil. Dalam pengiriman pertama dia membawa tiga karung. Satu karung akan disimpan di bagian depan motor, dan dua karung berada di jok belakang.
"Nah kalau yang besar biasanya disimpan di luar karung. Terus kita taliin ini (ditali) biar pas dibawa ga goyang. Jadi kurir juga kaya anak pramuka harus bisa tali-temali," canda Adi sambil mengeratkan ikatan tali pada paket di motornya.
Pukul 10.50 WIB Adi baru selesai memilah dan menaikkan paket di motor. Artinya, butuh 1 jam 40 menit mempersiapkan barang yang kemudian harus dia kirim kepada konsumen. Menurut Adi, memilah paket seperti ini memang dilakukan masing-masing kurir dan bisa menghabiskan waktu 1,5 jam di gudang.
Cukup lelah dengan persiapan tersebut, Adi dan para kurir biasanya tidak langsung berangkat mengirimkan paket. Jika tidak puasa mereka akan beristirahat di warung-warung sekitar gudang untuk merokok, sarapan, atau sekedar minum kopi. Namun, di bulan Ramadan mereka lebih banyak nongkrong dan bertegur sapa melepas penat akan pekerjaan di jalanan.
Sekitar satu jam istirahat, Adi dan teman-temannya langsung tancap gas mengirimkan paket sesuai dengan area masing-masing yang dibagi per kecamatan hingga per kelurahan. Tujuan pertama Adi adalah Perumahan Buah Batu Regency, di kawasan ini Adi mengirimkan paket lebih dari 20, mulai dari kebutuhan rumah tangga, pakaian, hingga dokumen.
Hari ini Adi bisa menyelesaikan kiriman paket lebih cepat karena pukul 17.00 WIB sudah selesai semua, padahal dia telah menambah kiriman paket dengan kembali ke gudang JNE yang lain untuk membawa barang yang harus dikirim. Ini membuatnya cukup senang karena bisa pulang dan bertemu kedua anaknya lebih cepat.
"Kalau biasa ma bisa sampe malem. Kadang ada konsumen pesan pakai yang YES (yakin esok sampai) jadi kita bisa jam 11 atau 12 (malam) kirim paketnya karena diminta (koordinator) utamakan dulu yang itu," kata Adi.
