Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Perjalanan Panjang Guru Honorer Menjaga Semangat Belajar Anak
Perjalanan Panjang Guru Honorer Menjaga Semangat Belajar Anak (Dok. PNM)
  • Ibu Yustina Yuniarti, guru honorer di SDK Wukur, menempuh perjalanan berat setiap hari demi memastikan 34 siswanya tetap mendapat pendidikan layak meski fasilitas terbatas.
  • PT Permodalan Nasional Madani melalui program PNM Peduli memberikan dukungan sosial kepada Yustina sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya mengajar di daerah terpencil.
  • Kisah Yustina mencerminkan ketulusan dan daya juang para guru pelosok yang menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah dengan akses terbatas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Perjalanan menuju sekolah tak selalu mudah bagi para guru di daerah terpencil. Di sejumlah wilayah, akses pendidikan masih diwarnai medan berat, jalan setapak, hingga keterbatasan fasilitas yang harus dilalui setiap hari demi memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

Situasi itulah yang dijalani Ibu Yustina Yuniarti, guru honorer di SDK Wukur. Selama lebih dari satu dekade, ia rutin menempuh perjalanan sekitar 6 kilometer melewati hutan dan jalur berbukit untuk sampai ke ruang kelas tempat ia mengajar.

Di tengah keterbatasan akses dan kondisi ekonomi yang sederhana, Yustina memilih bertahan demi mendampingi para siswa tetap mendapatkan pendidikan yang layak. Sekolah tempatnya mengajar kini menjadi ruang belajar bagi 34 siswa dengan dukungan delapan tenaga pendidik.

Kisah Yustina menjadi gambaran perjuangan banyak guru di pelosok yang terus menjaga semangat pendidikan, meski harus menghadapi tantangan yang tidak ringan setiap harinya.

1. Guru di pelosok tetap bertahan di tengah keterbatasan

Ilustrasi guru di Indonesia (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Bagi Yustina, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati yang dijalani dengan penuh ketulusan. Ia mengaku kondisi medan dan keterbatasan ekonomi membuat tidak banyak orang bersedia mengajar di wilayah tersebut.

“Banyak orang tidak mau mengajar di sini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan. Namun, kami bertahan karena panggilan hati,” tutur Yustina, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Senin (18/5/2026).

Proses belajar di SDK Wukur berlangsung dalam kesederhanaan. Namun, para tenaga pendidik tetap berupaya menghadirkan suasana belajar yang mendukung tumbuhnya mimpi anak-anak di daerah tersebut.

Di balik perjalanan panjang yang harus ditempuh setiap hari, para guru di sekolah itu berusaha memastikan pendidikan tetap berjalan dan para siswa tidak kehilangan kesempatan untuk belajar.

2. Dukungan sosial hadir untuk para pendidik daerah

Perjalanan Panjang Guru Honorer Menjaga Semangat Belajar Anak (Dok. PNM)

Perjuangan guru di wilayah dengan akses terbatas mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak. Salah satunya melalui dukungan sosial yang diberikan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) lewat program PNM Peduli kepada Yustina.

Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi tenaga pendidik yang terus bertahan mengajar di tengah keterbatasan sarana dan kondisi geografis yang menantang.

“Terima kasih PNM sudah hadir membantu saya. Dukungan ini sangat berarti, bukan hanya untuk saya, tetapi juga menjadi semangat baru agar saya bisa terus mengajar anak-anak di sini. Semoga perhatian seperti ini membuat kami semakin kuat untuk tetap menjalankan tugas dengan hati,” ujar Yustina.

Kehadiran dukungan sosial itu diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi para guru di daerah agar tetap melanjutkan pengabdian mereka dalam menjaga akses pendidikan bagi anak-anak.

3. Ketulusan guru dinilai memberi dampak jangka panjang

Ilustrasi guru. (IDN Times/Mardya Shakti )

Perjuangan Yustina juga dinilai memiliki kesamaan dengan banyak perempuan prasejahtera yang terus bekerja dalam diam demi masa depan keluarga dan anak-anak mereka. Ada semangat bertahan dan ketulusan yang menjadi penggerak utama di balik pengabdian tersebut.

PNM menilai pemberdayaan tidak hanya hadir dalam ruang usaha, tetapi juga melalui dukungan terhadap sosok-sosok yang berkontribusi langsung pada masa depan masyarakat, termasuk para pendidik di daerah terpencil.

“Kehadiran PNM diharapkan dapat menjadi penguat langkah bagi para pendidik yang terus bertahan menjaga harapan di ruang-ruang kelas sederhana,” tulis keterangan dalam program tersebut.

Kisah Yustina menjadi pengingat bahwa pendidikan di banyak daerah masih bertumpu pada ketulusan para guru yang bekerja tanpa banyak sorotan. Dari ruang kelas sederhana itulah, harapan dan masa depan anak-anak terus dijaga setiap harinya.

Editorial Team