Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pengakuan Ibu Tiri yang Diduga Aniaya Bocah hingga Tewas di Sukabumi
ilustrasi penganiayaan. (pexels.com/mart)
  • TR, ibu tiri bocah 12 tahun di Sukabumi, membantah tuduhan penganiayaan dan penyiraman air panas yang viral di media sosial.
  • Ia menyebut korban mengidap leukemia dan autoimun, dengan hasil diagnosa rumah sakit menunjukkan tidak ada unsur kekerasan.
  • TR mengaku ikhlas atas kepergian anak tersebut dan menyerahkan sepenuhnya pada proses hukum serta waktu untuk membuktikan kebenaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sukabumi, IDN Times - TR (46), ibu tiri bocah 12 tahun yang meninggal dunia di Jampang Kulon, akhirnya angkat bicara terkait tudingan kekerasan yang ramai diperbincangkan di media sosial. Ia membantah keras tuduhan telah menganiaya korban hingga menyebabkan kematian.

“Saya berharap semoga ada kemukjizatan dari Yang Maha Kuasa, karena bukan seperti ini yang saya harapkan dan tidak sekejam itu seperti yang dituduhkan para netizen. Netizen itu memang yang maha benar segalanya, tapi tidak seperti itu sebenarnya,” ujar TR, Minggu (22/2/2026).

Ia juga menepis tuduhan soal penyiraman air panas yang sempat viral. Menurutnya, tidak pernah ada tindakan seperti yang dituduhkan.

“Terkait penyiraman itu tidak benar dan tidak ada. Jujur, kalau pun ada kulit yang melepuh itu faktor dari panas dalam dan akibat penyakitnya. Tidak ada yang namanya penyiraman air panas ataupun minum air panas. Saya tidak kejam seperti yang dituduhkan netizen,” tegasnya.

1. Sebut korban mengidap leukemia dan autoimun

Ilustrasi penganiayaan. Freepik

TR menyampaikan, berdasarkan diagnosis rumah sakit, anak tersebut disebut mengalami kanker darah atau leukemia serta gangguan autoimun. Ia mengatakan kondisi hemoglobin (HB) korban juga terus menurun sebelum meninggal dunia.

“Intinya hasil diagnosa rumah sakit juga anak itu sakit karena kanker darah, leukemia dan autoimun, terus HB-nya menurun,” katanya.

Ia menambahkan, meski hasil autopsi lengkap dari Jakarta belum diterima, menurutnya sudah ada penjelasan bahwa tidak ditemukan unsur kekerasan seperti yang ramai dituduhkan.

“Walaupun hasil autopsi dari Jakarta belum datang, tapi semuanya sudah tahu bahwa di sana tidak ada kekerasan seperti yang dituduhkan netizen,” ucapnya.

2. Singgung video viral dan kondisi korban saat sekarat

Ilustrasi penganiayaan.(pixabay.com)

TR juga menyinggung video yang beredar luas, berisi pengakuan korban sebelum meninggal dunia. Dalam video tersebut, korban menyebut kata “mamah” saat diwawancarai seseorang. Menurut TR, saat itu kondisi anak sudah dalam keadaan kritis.

“Anak itu dalam keadaan sekarat. Apalagi dikatakan disiram air panas atau dikasih minum air panas, tidak seperti itu,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan bahwa jika ada kulit melepuh, hal itu disebutnya sebagai dampak penyakit yang diderita korban, bukan akibat kekerasan.

3. Mengaku ikhlas

Ilustrasi penganiayaan

Di tengah polemik yang berkembang, TR mengaku telah mengikhlaskan kepergian anak tersebut. Dirinya menerima kejadian ini sebagai takdir.

“Ini sudah takdirnya, nasibnya. Apakah dengan adanya seperti ini nyawa anak akan kembali? Kan tidak. Paling tidak marilah kita berdoa semoga anak itu jadi anak soleh, khusnul khatimah dan bisa memberikan syafaat kepada orang tuanya,” ucapnya.

TR mengatakan dirinya memilih menyerahkan penilaian kepada proses hukum dan waktu.

“Kalau netizen merasa maha benar, silakan saja. Biar waktu yang menjawab semuanya, seperti apa kebenaran dan keasliannya,” pungkasnya.

Editorial Team