Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pemkot Bandung Optimistis Program Gaslah Bisa Atasi Tumpukan Sampah
Peresmian petugas pemilah dan pengolah sampah (GASLAH) di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Pemkot Bandung memperkuat program Gaslah untuk meningkatkan pengelolaan sampah berbasis lingkungan, dengan target kapasitas olahan mencapai 450 ton per hari dan kinerja petugas yang melebihi target.
  • DLH mendorong partisipasi warga melalui komposting, budidaya maggot, serta reaktivasi TPST agar pengolahan sampah bisa dilakukan di tingkat komunitas tanpa bergantung penuh pada TPA.
  • Pemerintah menargetkan penghentian open dumping dan peningkatan pengolahan mandiri hingga 300 ton per hari pada 2026, termasuk rencana pembangunan fasilitas Waste to Energy di lahan pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis lingkungan dengan mengoptimalkan peran Gaslah, yakni petugas pemilah dan pengolah sampah di tingkat masyarakat.

Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Bandung, Salman Faruq mengatakan, pemerintah daerah tengah meningkatkan kapasitas pengolahan sampah hingga 450 ton per hari sesuai arahan Wali Kota Bandung.

“Gaslah ini tingkat kinerjanya sudah sangat baik. Kita bisa lihat dari dashboard, bahkan target sering terlampaui,” ujar Salman melalui siaran pers, Jumat (1/5/2026).

Ia menjelaskan, dalam program Gaslah, setiap individu ditargetkan mampu mengelola sekitar 2,5 kilogram sampah per hari, dengan total kumulatif mencapai sekitar 40 ton. Capaian tersebut kerap melebihi target yang ditetapkan.

Namun demikian, Salman menyebut, tantangan utama saat ini bukan pada pengumpulan sampah organik, melainkan pada proses pengolahan lanjutan setelah sampah tersebut terkumpul dari masyarakat.

“Yang harus kita pastikan sekarang adalah pengolahan pasca pengumpulan. Artinya, fasilitas di lapangan seperti komposter, bata terawang, hingga rumah maggot harus aktif kembali,” paparnya.

1. Komunitas warga harus terlibat

Peresmian petugas pemilah dan pengolah sampah (GASLAH) di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Untuk itu, DLH Kota Bandung mendorong penguatan pengolahan sampah di tingkat kewilayahan, termasuk di kelurahan dan komunitas warga. Berbagai metode pengolahan sederhana seperti komposting dan budidaya maggot terus dioptimalkan agar mampu mengurangi beban sampah secara signifikan.

Selain itu, pengolahan sampah organik juga dilakukan di sejumlah lokasi seperti Jelekong dan Gedebage, yang difokuskan pada produksi kompos dan media tanam.

“Kalau terjadi kelebihan kapasitas (overflow), kita sudah siapkan skema aktivasi lokasi pengolahan tambahan, termasuk di eks TPA Jelekong untuk dijadikan kompos,” katanya.

2. Jangan sekedar andalkan pengangkutan sampah

Peresmian petugas pemilah dan pengolah sampah (GASLAH) di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Upaya ini juga diperkuat dengan rencana reaktivasi sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang sebelumnya sempat tidak beroperasi, guna menambah kapasitas pengolahan di tingkat kota.

Menurut Salman, penguatan pengolahan berbasis lingkungan menjadi kunci dalam mengatasi persoalan sampah di Kota Bandung, terutama di tengah keterbatasan kuota pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Dengan keterlibatan aktif masyarakat dan fasilitas pengolahan di lingkungan, diharapkan volume sampah yang harus diangkut ke TPA dapat ditekan secara signifikan.

“Pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pengangkutan. Harus dimulai dari lingkungan masing-masing,” ungkapnya.

3. Target akhir 2026 bisa olah sampah mandiri seluruhnya

Pengolahan sampah secara mandiri oleh masyarakat Bandung, dok. istimewa

Pemerintah menargetkan seluruh praktik open dumping (pembuangan sampah terbuka) dihentikan paling lambat tahun ini. Sebanyak 472 TPA ditargetkan selesai ditangani mulai akhir Juli 2026. Kebijakan ini mencakup penegakan hukum pidana bagi pengelola yang melanggar dan peralihan ke sistem sanitary landfill atau penutupan permanen.

Di Kota Bandung, Wali Kota Muhammad Farhan memastikan bahwa upaya untuk mengatasi sampah secara mandiri terus dilakukan dengan berbagai program. Untuk tiga bulan ke depan Pemkot menargetkan ada 300 ton sampah per hari yang bisa diolah sendiri.

"Saat ini produksi sampah mencapai sekitar 1.800 ton per hari, sementara yang mampu diolah baru sekitar 300 ton, dan 1.000 ton dibuang ke TPA Sarimukti. Artinya masih ada sekitar 500 ton yang harus diatasi," kata dia, Selasa (21/4/2026).

Saat ini Pemkot telah menyiapkan 36 lahan milik pemerintah daerah untuk dijadikan tempat pengolahan sampah organik maupun non-organik. Di sisi lain, Pemkot Bandung juga tengah menjajaki pembangunan teknologi Waste to Energy (WTE), meskipun investasi dan persyaratannya sangat besar termasuk kebutuhan lahan minimal tujuh hektare dan ketersediaan sumber air.

"Sebagai langkah awal, kami menyiapkan lahan sekitar 5.000 meter persegi untuk fasilitas pemilahan sampah sebelum masuk ke sistem WTE," paparnya.

Editorial Team