Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pemkot Bandung Dorong Hotel hingga Museum Ramah Wisatawan Muslim

Kota Bandung
4 min read
Pemkot Bandung Dorong Hotel hingga Museum Ramah Wisatawan Muslim
Bandung Punya Potensi Wisata Ramah Muslim, Museum Geologi Jadi Contoh. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Pemkot Bandung mendorong fasilitas ramah muslim di hotel, restoran, mal, museum, dan kampung wisata, meliputi ruang salat, area wudu terpisah, serta kepastian makanan halal.
  • Museum Geologi Bandung dan sejumlah hotel pernah mendapat penghargaan tingkat Jawa Barat; pemerintah terus membina pengelola destinasi agar meningkatkan kualitas layanan bagi wisatawan muslim.
  • Indonesia Halal Travel Fair di Bandung menawarkan produk perjalanan ramah muslim di luar haji dan umrah, sekaligus membuka peluang promosi destinasi lokal kepada pasar lebih luas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Kota Bandung memiliki potensi untuk mengembangkan pariwisata ramah muslim melalui penyediaan fasilitas yang mendukung kebutuhan wisatawan saat berkunjung. Mulai dari tempat ibadah yang nyaman, fasilitas wudu yang memadai, hingga jaminan makanan halal menjadi aspek yang perlu diperhatikan pengelola destinasi wisata.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disparbud) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, mengatakan bahwa konsep wisata ramah muslim tidak hanya berlaku di hotel atau restoran. Fasilitas tersebut juga perlu tersedia di pusat perbelanjaan, museum, hingga kampung wisata kreatif.

Menurut Adi, Pemerintah Kota Bandung menyambut baik penyelenggaraan Indonesia Halal Travel Fair yang mengangkat konsep Muslim Friendly Tourism atau pariwisata ramah muslim. Kegiatan tersebut dinilai menjadi salah satu kesempatan untuk memperkenalkan destinasi di Bandung yang telah memperhatikan kebutuhan wisatawan muslim.

“Kalau dari sisi kepariwisataan, sudah sangat layak karena penduduk Indonesia mayoritasnya muslim. Maka, kita menyediakan tempat-tempat destinasi wisata yang ramah terhadap muslim,” ujar Adi, Kamis (8/10/2026).

  1. 1. Wisata ramah muslim bukan hanya soal makanan halal

    ilustrasi makanan halal (unsplash.com/Mohamed Shaffaf)
    ilustrasi makanan halal (unsplash.com/Mohamed Shaffaf)

    Adi menjelaskan, wisata ramah muslim mencakup sejumlah fasilitas yang membantu wisatawan menjalankan ibadah selama bepergian. Salah satunya adalah tempat salat yang nyaman, bersih, dan mudah ditemukan.

    Fasilitas wudu juga menjadi perhatian, termasuk ketersediaan tempat wudu yang memadai dan terpisah bagi laki-laki dan perempuan. Selain itu, kepastian mengenai kehalalan makanan menjadi bagian penting dalam memberikan kenyamanan kepada wisatawan muslim.

    Menurut Adi, fasilitas tersebut perlu diperhatikan oleh pengelola berbagai jenis destinasi, termasuk hotel dan pusat perbelanjaan yang kerap dikunjungi wisatawan.

    “Tempat salatnya bagus, rapi, wangi. Kemudian juga tempat kamar mandinya, wudu, dan lain-lain. Tempat makanan juga harus halal,” katanya.

    Meski demikian, ia menegaskan bahwa kebutuhan wisatawan muslim pada dasarnya tidak berbeda dari wisatawan lain dalam hal kenyamanan perjalanan. Destinasi tetap harus menawarkan keamanan, kenyamanan, dan pengalaman yang berkesan.

    Dengan demikian, konsep wisata ramah muslim bukan berarti membatasi jenis aktivitas wisata, melainkan memastikan fasilitas yang dibutuhkan wisatawan tersedia dengan baik.

  2. 2. Museum Geologi menjadi salah satu contoh destinasi ramah muslim

    Museum Geologi
    Museum Geologi (museum.geologi.esdm.go.id)

    Adi menyebut, pengembangan wisata ramah muslim di Kota Bandung mencakup beragam jenis destinasi, mulai dari wisata belanja, kuliner, penginapan, hingga wisata edukasi. Salah satu destinasi yang ia ingat pernah memperoleh penghargaan dalam penilaian wisata ramah muslim tingkat Jawa Barat adalah Museum Geologi Bandung. Destinasi tersebut dinilai memiliki fasilitas yang mendukung kebutuhan wisatawan muslim.

    Selain museum, Adi juga menyebut terdapat hotel yang telah memperoleh penghargaan dalam penilaian tersebut. Namun, ia tidak merinci kategori maupun tahun penghargaan yang dimaksud. Menurutnya, penilaian dan pemberian penghargaan dapat menjadi pemicu bagi pengelola destinasi untuk meningkatkan kualitas fasilitas ramah muslim.

    Pemkot Bandung pun terus melakukan pembinaan terhadap pengelola destinasi wisata agar semakin memperhatikan kebutuhan pengunjung.

    “Biasanya kalau ada lomba-lomba itu pemicu saja. Nanti kita berikan penghargaan kepada destinasi yang sudah memberikan fasilitas yang sifatnya ramah muslim,” tutur Adi.

    Ia menambahkan, upaya tersebut perlu menjangkau seluruh sektor pariwisata, termasuk kampung wisata kreatif yang menjadi salah satu pilihan wisata di Kota Bandung.

  3. 3. Indonesia Halal Travel Fair membuka peluang bagi wisata Bandung

    IMG_20261008_165407.jpg
    Bandung Punya Potensi Wisata Ramah Muslim, Museum Geologi Jadi Contoh. IDN Times/Debbie Sutrisno

    Sementara itu, perwakilan DPP Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), Priyadi Abadi, mengatakan, Indonesia Halal Travel Fair (IHTF) merupakan pameran perjalanan yang menawarkan beragam produk wisata ramah muslim.

    Pameran tersebut tidak hanya berfokus pada perjalanan ibadah seperti haji dan umrah, tetapi juga menawarkan pilihan perjalanan bagi wisatawan muslim yang ingin menjelajahi berbagai destinasi, termasuk negara-negara dengan penduduk muslim sebagai kelompok minoritas.

    Kebutuhan terhadap informasi makanan halal, tempat ibadah, dan warisan sejarah Islam atau Islamic heritage menjadi bagian yang diperhatikan dalam layanan perjalanan tersebut.

    Priyadi mengatakan, ASTINDO telah menyelenggarakan kegiatan seperti ini sebanyak 25 kali. Sementara itu, Indonesia Halal Travel Fair mulai dikembangkan pada 2025 dan kembali diselenggarakan di Bandung pada 2026. Menurutnya, pengembangan pameran khusus wisata ramah muslim ini didorong oleh permintaan dari kalangan muslim travelers.

    “Jadi bukan hanya umrah dan haji saja, tetapi mengusung atau mengedepankan produk-produk ramah muslim,” ujar Priyadi.

    Ia berharap inisiatif di Jawa Barat dapat diikuti oleh daerah lain. Bagi Kota Bandung, pameran wisata ramah muslim dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan destinasi lokal kepada pasar wisatawan yang lebih luas. Namun, promosi tersebut perlu diiringi peningkatan kualitas fasilitas agar wisatawan memperoleh informasi yang jelas dan pengalaman perjalanan yang nyaman.

    "Dengan memperhatikan kebutuhan ibadah, akses makanan halal, dan kenyamanan pengunjung, destinasi wisata di Bandung berpeluang memperkuat daya tariknya bagi wisatawan muslim tanpa mengesampingkan kebutuhan wisatawan secara umum," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More