Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi wanita flu (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi wanita flu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Intinya sih...

  • Belum ada temuan kasus superflu di Kabupaten Cirebon

  • Pendekatan pencegahan berbasis perilaku, bukan sensasionalisme

  • Koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat dalam penanganan isu penyakit menular

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Cirebon memastikan hingga awal Januari 2026 belum ditemukan kasus gelombang influenza A H3N2 atau superflu di wilayahnya.

Penegasan ini disampaikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon menyusul maraknya perbincangan publik terkait kemunculan varian influenza A yang disebut-sebut memiliki tingkat penularan lebih cepat dibanding flu musiman biasa.

Otoritas kesehatan daerah menilai, kepanikan berlebihan justru berpotensi menyesatkan masyarakat dan mengaburkan langkah pencegahan yang rasional.

Dinkes menegaskan, seluruh fasilitas layanan kesehatan di Kabupaten Cirebon masih mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam batas normal dan belum menunjukkan pola epidemiologis yang mengarah pada superflu.

1. Belum ada temuan kasus di lapangan

ilustrasi anak kecil terkena flu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Ketua Kerja Bidang Survelains dan Imunisasi P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Dede Kurniawan mengatakan, hingga saat ini tidak ada laporan laboratorium maupun fasilitas kesehatan yang mengonfirmasi keberadaan superflu.

Setiap kasus flu berat yang ditemukan di puskesmas maupun rumah sakit masih dapat dijelaskan sebagai influenza musiman atau infeksi pernapasan umum lainnya.

Menurutnya, mekanisme deteksi dini terus berjalan melalui pemantauan rutin di layanan kesehatan tingkat pertama. Setiap lonjakan kasus flu atau gejala tidak biasa akan langsung dilaporkan secara berjenjang untuk ditelusuri lebih lanjut.

“Selama ini, tren kasus masih dalam batas kewajaran, tidak ada lonjakan ekstrem,” kata Dede, Kamis (8/1/2026).

2. Pendekatan preventif, bukan sensasional

ilustrasi gejala influenza (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Pemerintah daerah menilai isu superflu kerap berkembang lebih cepat di ruang publik dibanding data medis di lapangan. Oleh karena itu, pendekatan yang diambil Dinkes Kabupaten Cirebon menitikberatkan pada pencegahan berbasis perilaku, bukan pada narasi ancaman yang berlebihan.

Masyarakat diimbau kembali menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan secara rutin, menggunakan masker saat mengalami gejala flu, serta menjaga etika batuk dan bersin.

Langkah-langkah ini dinilai tetap relevan dan efektif dalam menekan penyebaran penyakit pernapasan, baik flu biasa maupun varian influenza lainnya.

"Kamis juga menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan seimbang dan istirahat cukup, terutama di tengah cuaca yang tidak menentu," ujarnya.

3. Koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat

ilustrasi orang sakit influenza (pexels.com/Gustavo Fring)

Dalam menangani isu penyakit menular, Dinkes Kabupaten Cirebon tidak bekerja sendiri. Koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Kesehatan terus dilakukan, khususnya dalam hal rujukan laboratorium dan pembaruan data surveilans.

Pemda menyadari, kewenangan penetapan status wabah dan identifikasi varian virus berada di tingkat yang lebih tinggi. Karena itu, setiap informasi resmi mengenai superflu akan merujuk pada hasil kajian dan rekomendasi pemerintah pusat.

Dede mengatakan, Pemerintah Kabupaten Cirebon mengajak masyarakat untuk menyikapi isu kesehatan secara rasional dan berbasis informasi resmi. Pemerintah meminta warga tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi, terutama yang beredar di media sosial.

“Kewaspadaan penting, tapi kepanikan tidak menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Editorial Team