Pedagang Daging Sapi di Pasar Kosambi Mogok Berjualan. IDN Times/Istimewa
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyebabkan harga sapi impor dari Australia menjadi naik. Belum lagi harga sapi di Australia sudah naik sejak akhir tahun 2025 lalu akibat meningkatnya persaingan ekspor Australia ke pasar global, hingga ketidakpastian geopolitik.
Kondisi ini menjadi alarm bagi ketahanan pangan hewani di Indonesia. Meskipun kondisi ini menguntungkan peternak lokal karena mendorong kenaikan harga sapi domestik, akan tetapi ketergantungan terhadap impor membuat harga daging sapi nasional tetap rentan terhadap gejolak eksternal.
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Panjono menyebut, kenaikan harga sapi impor memiliki dampak positif dari sisi peternak lokal, kondisi tersebut justru dapat memberikan keuntungan karena harga sapi domestik ikut terdorong naik.
“Kalau harga sapi impor naik, bagi peternak sebagai pelaku usaha justru menguntungkan karena otomatis harga ternak sapi domestik juga akan ikut naik,” ujarnya dikutip dari laman ugm.ac.id.
Namun, dari perspektif nasional, kata Panjono, kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan Indonesia khususnya untuk komoditas daging sapi masih rentan terhadap gejolak eksternal seperti nilai tukar rupiah, kondisi geopolitik, dan dinamika pasar global.
Menurutnya, apabila harga sapi impor terus tinggi, volume impor berpotensi menurun. Akibatnya, pemotongan sapi lokal akan meningkat untuk menutupi kebutuhan pasar. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan populasi sapi nasional.
“Kalau impor turun, tingkat pemotongan domestik akan meningkat. Kalau terus seperti itu, populasi sapi kita bisa menurun dan pada akhirnya terjadi kelangkaan,” jelasnya.