Peringatan satu tahun gempa Cianjur oleh para pelestari seni Mamaos Cianjuran lintas generasi ini disuport oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Provinsi Jawa Barat Kemdikbudristek RI, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cianjur, Yayasan Wira Budaya termasuk Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia atau Lokatmala Foundation.
Salah satu tokoh penembang dan pemetik kecapi Cianjuran, DR. Yus Wiradiredja, mengaku terharu atas pagelaran yang menampilkan para penembang senior dan yunior lintas generasi ini.
“Ini harus terus dikembangkan ini harus terus diupayakan supaya mendapat tempat terbaik, agar Mamos Cianjuran bisa dinikmati dan lestari dari generasi ke generasi,” kata Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung tersebut.
Pada kesempatan itu, Yus Wiradiredja, menceritakan, bahwa seni Mamaos Cianjuran merupakan salah satu musik tradisional Jawa Barat yang berasal dari Cianjur sejak dua abad lalu dan masih lestari hingga kini.
“Alhamdulillah hingga kini masih selalu dilaksanakan berbagai pasanggiri atau perlombaan yang secara rutin salah satunya diselenggarakan oleh Damas (Daya Mahasiswa Sunda),” sambung Dewan Pembina Yayasan Wirabudaya Indonesia itu.
Bahkan kata dia, karena memiliki nilai (value) yang tinggi secara filosofis Tembang Sunda Cianjuran sudah dikenal hingga ke mancanegara. Diantaranya berdasarkan data yang dimilikinya sejak tahun 1970-an hingga tahun 2000 beberapa acara di kawasan Eropa, Asia, Amerika sempat menampilkan seni leluhur Cianjur ini.
Para tokoh penembang yang semantiasa mengisi ruang-ruang Mamaos Cianjuran di zamannya hingga hari ini tampil bersama dengan lantunan tembang yang mampu membuat penonton terpukau. Terlebih saat penembang senior seperti Mamah Tati Syafitri, Heni Suhaeni, Nani Nurbani dan Cucu Suminar ikut nembang dengan suaranya yang khas.
Tampil pula pemilik suara apik lainnya seperti Nina Nurnaningsih, Iis Siti Rohmah, Enung Sunariah, Wiwin Ruswiani, Lia Amalia, Dian Wahyuni, Nina Kurniasih, Firni Apriliani Sifa, Dianopita Mustika dan lain-lain. Semuanya dipadukan dengan penebang generasi baru seperti Neng Sely Zawahirul Madaniyah, Nurul Khairunisa, Sansha Azani Fajariah, Nazareta Arassy, Grisela Dita Fridayanti dan Vanesa Aurel Nurhafiz.
Kemudian sejumlah penembang laki-laki juga ikut menyeimbangkan suasana kebatinan saat itu dengan tampilnya penembang Dadan Iskandar, Asep Juanda, Dzaki Naufal Arifin, Endi Naredo, Irfan Abdi Alwali serta Mochamad Fadillah Dikriana. Selanjutnya ada penembang Lukman Nurdiansyah, Muhammad Rizky dan Ahmad Rijal Nasrullah.
Semua berpadu dalam satu orkestra pamirig yang dikemas oleh Wildan Firdaus, Muhammad Alif Yusup, Hadi Kusumayadi dan M. Rizky Ramdhani dengan latar penari Rafi Taufik. Sungguh menjadi tontonan penuh kualitas dan mampu melahirkan kontemplasi mendalam terhadap peristiwa gempa bumi yang sempat meluluhlantakkan Cianjur tempo hari.