Bandung, IDN Times - Fenomena penggunaan gawai pintar (gagdet) oleh anak usia pra sekolah hingga anak yang sudah bersekolah makin banyak baik di perkotaan maupun di pedesaan. Hal tersebut saat ini sudah dianggap lumrah karena orang tua yang memberikan gawai secara langsung pada anak. Di sisi lain, banyak anak yang tidak diberikan batasan waktu dalam bermain gawai sehingga durasi penggunaan bisa berjam-jam.
Kondisi ini jelas tidak baik karena penggunaan gawai memberikan dampak negatif pada anak dalam berbagai sisi dari segi emosial, sosial, hingga literasi kaitannya pada minat membaca dan menulis. Berbagai penelitian pun telah dilakukan yang hasilnya memperlihatkan bahwa penggunaa gawai berlebihan bisa mengurangi minat anak dalam belajar sehingga bisa berdampak pada kemampuan mereka dalam membaca maupun menulis.
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik terdapat data angka buka aksara di mana Provinsi Jawa Barat presentasenya pada 2024 mencapai 1,31 persen dari jumlah penduduk. Angka ini perlahan menurun dibandingkan dua tahun sebelumnya pada 2022 (1,38 persen) dan 2023 (1,36 persen).
Adapun dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat terdapat tiga daerah yang presentase angka melek huruf untuk anak 15 tahun ke atas masih rendah pada 2024 karena berada di bawah rata-rata, yaitu Indramayu hanya 93,26 persen, Cirebon 96,49 persen, dan Subang, 96,39 persen.