Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp-Image-2026-02-15-at-11.53.21.jpeg
Wisuda kampus Unisba. IDN Times/Istimewa

Intinya sih...

  • Rokan lulus kuliah kedokteran di usia 19 tahun 7 bulan dengan IPK 3,49 dan predikat sangat memuaskan.

  • Perjalanan pendidikan serba akselerasi Rokan bercerita perjalanan studinya berlangsung lebih cepat sejak kecil.

  • Rokan ingin kembali ke Ciamis setelah lulus sarjana dan melanjutkan pendidikan profesi dokter (koas) sekitar dua tahun sebelum menjalani masa internship.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Biasanya seseorang lulus dari perkuliahan di umur 22 atau 23 tahun. Ini setelah mereka menamatkan semua mata kuliah termasuk pembuatan skripsi selama empat hingga lima tahun.

Namun, ada beberapa mahasiswa justru bisa lulus lebih cepat salah satunya adalah Muhammad Rokan Bastian yang berkuliah di kampus Univesitas Islam Bandung (Unisba).

Rokan dinobatkan sebagai wisudawan termuda setelah resmi meraih gelar Sarjana Kedokteran dengan IPK 3,49 dan predikat sangat memuaskan. Ia lulus pada 2 Februari 2026 di usia 19 tahun 7 bulan saat wisuda Gelombang I Tahun Akademik 2025/2026, 14–15 Februari 2026.

Lahir di Ciamis, 2 Juli 2006, capaian ini bukan pertama kalinya ia menjadi yang termuda. Pada awal kuliah, Rokan juga tercatat sebagai mahasiswa termuda Unisba Tahun Akademik 2022/2023.

1. Perjalanan pendidikan serba akselerasi

Wisuda kampus Unisba. IDN Times/Istimewa

Rokan bercerita perjalanan studinya berlangsung lebih cepat sejak kecil. Ia mengikuti program percepatan di hampir setiap jenjang pendidikan.

“SD saya tempuh lima tahun dan SMP dua tahun,” katanya.

Ia juga menuntaskan SMA melalui jalur akselerasi sehingga bisa masuk fakultas kedokteran di usia belasan tahun. Ketertarikannya pada dunia medis tak lepas dari lingkungan keluarga. Sang ayah berprofesi sebagai dokter, sementara ibunya perawat. Kakaknya bahkan pernah menjadi mahasiswa termuda FK Unisba pada 2019.

2. Tantangan terbesar justru mengatur waktu

Wisuda kampus Unisba. IDN Times/Istimewa

Masuk kuliah kedokteran di usia muda bukan tanpa tantangan. Rokan mengaku sempat merasakan perbedaan usia dengan teman seangkatan, terutama di awal perkuliahan. Namun ia merasa diterima dengan baik.

“Teman-teman di sini baik dan merangkul,” ujarnya.

Menurutnya, kesulitan utama justru datang dari banyaknya materi. Ia harus disiplin membagi waktu antara belajar, kegiatan kampus, dan istirahat. Selain kuliah, Rokan aktif di kepanitiaan Taruf PPMB divisi psikiatri dan forensik serta terlibat Program Kreativitas Mahasiswa bersama dosen.

Ia juga sempat meraih Juara 1 lomba poster tingkat fakultas pada mata kuliah IKMK dan penghargaan harapan pada ajang Resvex. Pengalaman menghadapi ujian besar seperti SOCA dan OSCE menjadi fase yang paling menegangkan karena menuntut penguasaan teori sekaligus keterampilan klinis.

3. Ingin kembali mengabdi ke Ciamis

Wisuda kampus Unisba. IDN Times/Istimewa

Setelah lulus sarjana, Rokan akan melanjutkan pendidikan profesi dokter (koas) sekitar dua tahun sebelum menjalani masa internship. Ia bahkan sudah memiliki gambaran masa depan: menjadi dokter spesialis jantung.

“Sistem kardiovaskular menarik, dan selama kuliah saya merasa paling menguasai di bagian itu,” ucapnya.

Meski peluang terbuka luas di kota besar, Rokan justru ingin kembali ke daerah asalnya. Ia berencana praktik dan mengabdi di Ciamis.

Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak minder karena usia. “Jangan takut mencoba meskipun merasa lebih muda. Fokus pada tujuan dan jangan lupa minta doa orang tua,” katanya.

Bulan ini Unisba meluluskan lebih dari 1.200 dari jenjang Doktor, Magister, Profesi, dan Sarjana. Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man. menegaskan bahwa wisuda merupakan momentum penting dalam perjalanan akademik lulusan. Ia menekankan bahwa wisuda bukanlah akhir, melainkan awal dari pengabdian nyata kepada masyarakat, bangsa, dan agama.

Menurutnya, lulusan Unisba diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual, intelektual, sosial, dan fisik yang seimbang. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan globalisasi, para lulusan dituntut untuk terus belajar, adaptif, dan inovatif agar tetap relevan serta kompetitif.

Editorial Team