Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Minat Naik Gunung Meningkat, Kemenhut Ingatkan Etika Saat Mendaki
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho.
  • Minat pendakian di Indonesia meningkat pesat hingga diproyeksikan mencapai lebih dari 1,2 juta pendaki pada 2025, dengan dominasi wisatawan domestik di gunung-gunung populer seperti Rinjani dan Batur.
  • Kementerian Kehutanan menegaskan pentingnya etika mendaki: menjaga keselamatan, tidak merusak alam, serta mematuhi aturan kawasan hutan demi kelestarian ekosistem dan keamanan pendaki.
  • Dalam kampanye cinta lingkungan di Bandung, Ditjen Gakkumhut menggandeng musisi Ady yang memperkenalkan lagu 'Merbabu' sebagai media kreatif untuk menyampaikan pesan konservasi dan tanggung jawab terhadap alam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Minat masyarakat khususnya anak muda untuk mendaki gunung meningkat setiap tahunnya.

Pada tahun 2025, jumlah pendaki gunung di Indonesia kegiatan ini didominasi oleh pendaki domestik dan minat yang tinggi pada wisata alam. Kementerian Kehutanan memproyeksikan total pendaki di seluruh kawasan melebihi 1,2 juta orang. Gunung populer seperti Rinjani mencatat lebih 80 ribu pendaki, Batur 73 ribu pendaki, dan Dempo 7 ribu pendaki.

Dengan peningkatan ini, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Kehutanan meminta para pendaki untuk bisa meningkatan kesadaran dalam menjaga keselamatan dan etika berada di kawasan hutan.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho menuturkan, gunung bukan arena untuk menantang alam secara serampangan melainkan dalah ruang hidup, kawasan bernilai ekologis, sekaligus tempat manusia belajar rendah hati.

"Setiap pendaki wajib memastikan keselamatan dirinya, mematuhi aturan kawasan, tidak meninggalkan sampah, tidak menyalakan api sembarangan, tidak merusak vegetasi, dan tidak mengganggu satwa liar,” kata Dwi Januanto Nugroho dalam kampanye cinta lingkungan serta keamanan dan keselamatan pendakian di Arei Flagship Experience Store, Cihampelas, Bandung, Selasa (28/4/2026).

1. Pendaki harus jadi bagian penjaga hutan

gambar kelompok pendaki di jalur pendakian (unsplash.com/Jamal Mahfudz )

Menurut Dwi, kecintaan terhadap alam harus dibuktikan melalui tindakan nyata. Pendaki tidak cukup hanya mengagumi keindahan gunung, tetapi juga harus hadir sebagai bagian dari penjaga hutan.

“Mencintai gunung berarti menjaga jalurnya, membawa turun kembali sampahnya, menghormati petugasnya, mematuhi kuota dan prosedur pendakian, serta tidak melakukan aktivitas yang merusak kawasan. Keselamatan pendakian dan kelestarian hutan adalah satu kesatuan,” ujarnya.

2. Mereka yang merusak alam akan ditindak secara hukum

Rombongan pendaki Gunung Leuser (dok.Akang untuk IDN Times)

Dia juga mengingatkan bahwa kawasan hutan, termasuk kawasan konservasi dan taman nasional, memiliki aturan yang harus dihormati. Aktivitas ilegal seperti perburuan satwa liar, pembalakan, perusakan vegetasi, pembakaran lahan, vandalisme, serta masuk kawasan tanpa izin bukan hanya membahayakan lingkungan, tetapi juga dapat berhadapan dengan penegakan hukum.

“Ditjen Gakkumhut mendukung wisata alam dan pendakian yang bertanggung jawab. Namun, terhadap tindakan yang merusak kawasan hutan, mengancam satwa liar, atau membahayakan keselamatan publik, penegakan hukum tetap dilakukan secara tegas dan terukur,” tegasnya.

3. Luncurkan lagu berjudul 'Merbabu'

Diskusi tentang keamanan mendaki di Kota Bandung bersama Kementerian Kehutanan. IDN Times/Debbie Sutrisno

Dalam Kampanye ini juga menghadirkan Ady, mantan vokalis Naff, yang memperkenalkan lagu terbarunya berjudul “Merbabu”. Lagu tersebut membawa pesan emosional tentang kekaguman manusia pada gunung, keheningan jalur pendakian, kabut, sabana, senja, dan puncak yang menghadirkan rasa tunduk pada kebesaran alam.

Melalui lagu ini, pesan konservasi disampaikan dengan cara yang lebih dekat, hangat, dan mudah diterima publik. Lirik lagu tersebut menggambarkan perjalanan pendaki yang menyusuri jalur, menghadapi kabut dingin, menyaksikan keindahan sabana, hingga merasakan kekaguman mendalam pada Merbabu. Penggalan rasa dalam lagu seperti “setapak kudaki” dan “Merbabu aku luluh” menjadi pengingat bahwa gunung bukan sekadar latar foto, melainkan ruang yang harus dihormati.

“Merbabu bagi saya bukan hanya tentang pemandangan. Ada keheningan, perjalanan, rasa kecil di hadapan alam, dan pelajaran untuk lebih mencintai bumi. Saya berharap lagu ini bisa membuat orang bukan hanya ingin mendaki, tetapi juga ingin menjaga,” ujar Ady.

Melalui kampanye ini, Ditjen Gakkumhut mengajak seluruh pendaki dan pecinta alam untuk memegang prinsip pendakian bertanggung jawab: mempersiapkan fisik dan perlengkapan, mengecek cuaca, mengikuti jalur resmi, melapor kepada petugas, tidak mendaki secara ilegal, membawa turun sampah, tidak mengambil apa pun dari alam, tidak meninggalkan apa pun selain jejak, serta segera melapor bila melihat aktivitas yang merusak kawasan hutan.

Editorial Team