Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Minat Beli Emas Makin Tinggi, Masyarakat Diimbau Tak FOMO
Karyawan menunjukkan sampel emas batangan di Butik Emas Logam Mulia PT. Aneka Tambang (ANTAM), Semarang, Jawa Tengah, Kamis (4/9/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
  • Minat investasi emas meningkat di kalangan Gen Z dan milenial sejak pertengahan 2025, namun banyak yang terdorong FOMO tanpa pemahaman mendalam terhadap risiko pasar.
  • Safi menyoroti bahwa investor FOMO sering membeli tanpa tujuan keuangan jelas, berbeda dengan penabung emas rutin yang lebih disiplin menghadapi fluktuasi harga.
  • Investasi emas perlu strategi matang: tentukan tujuan jangka panjang, gunakan uang dingin, dan pahami perbedaan emas fisik serta digital agar tidak terjebak euforia sesaat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times – Tren investasi emas di kalangan anak muda terus menunjukkan peningkatan dalam satu tahun terakhir. Kenaikan harga emas yang cukup signifikan sejak pertengahan 2025 membuat banyak orang, terutama Gen Z dan millennial, mulai melirik instrumen ini sebagai pilihan investasi.

Namun di balik tren tersebut, muncul fenomena fear of missing out (FOMO) yang justru bisa menjadi bumerang jika tidak diiringi pemahaman yang cukup. Sharia Financial Advisor, Dewi Safitri atau lebih dikenal sebagai Safidewi menilai bahwa lonjakan minat ini tidak sepenuhnya didorong oleh kesadaran finansial, melainkan juga euforia pasar.

“Biasanya kalau harga investasi naik, orang jual. Tapi di emas, justru banyak yang beli karena takut ketinggalan momentum,” ujarnya.

1. Investasi tetap punya risiko

ilustrasi emas edisi Idul Fitri 1447 H (logammulia.com)

Minat masyarakat terhadap emas, baik fisik maupun digital, memang meningkat signifikan. Safi melihat hal ini dari audiens maupun kliennya yang semakin aktif bertanya dan mulai membeli emas.

Bahkan, banyak anak muda yang mulai membeli emas meskipun dengan dana terbatas. Mereka cenderung langsung menghitung berapa gram yang bisa dibeli dari uang yang dimiliki. Namun, di balik itu ada pola yang cukup mengkhawatirkan.

Alih-alih membeli saat harga turun, banyak orang justru masuk ketika harga sedang tinggi. Hal ini dipicu oleh persepsi bahwa harga emas akan terus naik dalam jangka panjang.

“Mereka mikirnya, kalau sekarang naik nanti 5–10 tahun lagi pasti lebih tinggi lagi. Jadi takut enggak kebagian,” kata Safi.

Padahal dalam prinsip investasi, membeli saat harga tinggi tanpa strategi bisa meningkatkan risiko kerugian, terutama bagi investor pemula yang belum memahami siklus pasar.

2. Harus punya tujuan dan strategi

ilustrasi emas Antam (logammulia.com)

Safi menjelaskan bahwa investor yang terdorong FOMO biasanya memiliki ciri khas tertentu. Salah satunya adalah tidak memiliki tujuan keuangan yang jelas. Mereka membeli emas hanya karena mengikuti tren, bukan karena perencanaan jangka panjang.

“Biasanya mereka enggak mikirin spread, enggak mikirin tujuan. Temannya beli, ya ikut beli,” ujarnya.

Berbeda dengan investor yang sudah terbiasa menabung emas. Kelompok ini cenderung lebih disiplin dan konsisten, bahkan tidak terlalu terpengaruh fluktuasi harga.

“Mereka tetap nabung rutin, mau harga naik atau turun,” kata dia.

Tanpa tujuan yang jelas, investor pemula berisiko panik saat harga turun. Akibatnya, mereka bisa menjual emas di harga rendah dan justru merugi.

3. Siapkan ilmu sebelum terjun investasi

Emas antam https://umj.ac.id/just_info/emas-batangan-antam-alami-kenaikan-setelah-terus-turun/

Safi menekankan bahwa investasi emas tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ada beberapa hal mendasar yang harus dipahami terlebih dahulu. Pertama, menentukan tujuan keuangan. Emas lebih cocok untuk tujuan jangka panjang, seperti 5 hingga 10 tahun.

“Kalau tujuannya jangka pendek atau menengah, sebaiknya jangan pilih emas,” ujarnya.

Kedua, menggunakan “uang dingin”. Artinya, dana yang digunakan adalah uang yang tidak akan dipakai dalam waktu dekat.

“Harus benar-benar uang yang siap disimpan. Jangan uang kebutuhan bulanan,” kata Safi.

Ketiga, memahami strategi investasi. Misalnya dengan menabung emas secara rutin dibanding membeli dalam jumlah besar sekaligus. Selain itu, penting juga memahami perbedaan emas fisik dan digital, termasuk biaya dan spread yang menyertainya.

“Yang penting itu bukan ikut tren, tapi tahu tujuan dan cara mainnya,” ujarnya.

Dengan semakin tingginya minat investasi emas, Safi berharap anak muda tidak hanya ikut arus, tetapi juga membekali diri dengan pemahaman yang matang agar tidak terjebak euforia sesaat.

Editorial Team