Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Microlibrary Bima yang Viral di Jaman Ridwan Kamil Makin Terbengkalai
Microlibrary Bima yang Viral di Jaman Ridwan Kamil Kini Makin Terbengkalai. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Microlibrary Bima di Cicendo, Bandung, yang pernah viral berkat desain dari 2.000 ember es krim bekas dan meraih penghargaan internasional, kini terbengkalai serta tidak lagi menggelar aktivitas membaca.
  • Area perpustakaan terlihat jarang digunakan, dengan daun berserakan, fasilitas rusak, pintu terkunci, dan akses harus melalui izin pengurus RW setelah tempat ini dipakai untuk kegiatan negatif.
  • Dinas Arsip dan Perpustakaan Bandung mengajak warga setempat mengaktifkan kembali Microlibrary Bima lewat kalender kegiatan rutin, sementara pemerintah menyatakan sarana, prasarana, dan koleksi buku telah tersedia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perpustakaan kecil Bima di Bandung dulu ramai dan cantik. Bangunannya dibuat dari 2.000 ember es krim bekas. Sekarang tempat itu sepi, pintunya terkunci, dan halamannya kotor. Bu Dewi dari dinas mengajak warga dan komunitas membuat kegiatan lagi. Buku-bukunya masih ada, tapi warga perlu ikut menghidupkan tempat membaca itu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Microlibrary Bima tetap menyimpan modal kuat untuk kembali menjadi ruang bersama: bangunannya pernah mendapat pengakuan internasional, koleksi buku serta sarana dasarnya masih disediakan, dan pemerintah telah membuka komunikasi dengan warga serta pengurus setempat. Penekanan pada inisiatif komunitas memberi ruang bagi kegiatan yang benar-benar sesuai kebutuhan lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Kota Bandung sempat memiliki sebuah perpusatakaan kecil yang viral pada masanya. Microlibrary Bima, yang berada di jalan Bima, Cicendo, Kota Bandung, adalah salah satu tempat membaca yang dibangun pada masa Wali Kota Ridwan Kamil yang dulu sempat menjadi perbincangan khalayak karena desainnya yang unik dan bahan bangunnya tidak biasa, di mana menggunakan 2.000 ember es krim bekas.

Saking menariknya, bangunan yang diresmikan pada 2015 tersebut sempat memperoleh penghargaan tingkat dunia sebagai Architizier Project of The Day pada 2016 dan Silver Award Lafarge Holcim Awards 2017 Asia Pasifik.

Namun, seiring berjalannya tahun dan pergantian kepempimpinan di Pemkot Bandung perpustakaan ini sekarang sudah mati suri. Tak ada lagi kegiatan membaca di tempat tersebut.

Dari pantauan IDN Times, Rabu (7/10/2026), halaman bangunan ini telihat sudah jarang digunakan. Daun kering berserakan dan sebagian sudah ada yang dibakar di dekat bangunan. Hanya ada dua gawang sepakbola yang sudah tidak berjaring berada di sudut halaman.

Tiang lampu yang mengelilingi halaman bangunan pun tampak sudah tidak bisa digunakan. Terlebih beberapa lampu tidak terpasang. Sementara ram kawat juga berlubang di sejumlah sudut.

Usai menaiki anak tangga, pintu untuk masuk ke ruangan ini terkunci. Di bagian kanan bawah pintu bahkan sudah ada lubang seukuran anak kecil. Jika sebelumnya setiap hari buka dari jam 08.00-17.00 WIB, sekarang harus mendapat izin dan melapor kepada pengurus RW. Keputusan itu diambil karena Microlibrary Bima banyak digunakan oleh orang tak bertanggung jawab untuk melakukan hal negatif.

1. Dinas ajak warga bisa memanfaatkannya kembali

Microlibrary Bima yang Viral di Jaman Ridwan Kamil Kini Makin Terbengkalai. IDN Times/Debbie Sutrisno

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Dewi Kaniasari mengaku bahwa kondisi microlibrary Bima yang sepi pengunjung menjadi perhatiannya. Menurutnya, perlu peran aktif masyarakat untuk meramaikan kembali kegiatan di perpustakaan tersebut.

"Ya, itu PR. Karena itu ya itu tadi. Kita sebetulnya sempat mengajak warga setempat ya, termasuk komunitasnya. Ayo reaktivasi ruangan, ya ini ya, microlibrary ini," kata dia, ditulis, Selasa, 6 Oktober 2026.

Ia mengaku telah berkomunikasi dengan Camat dan Lurah setempat terkait bagaimana microlibrary Bima kembali aktif seperti dulu. Namun hingga kini belum ada upaya yang benar-benar menunjukkan hasil yang konsisten.

Pemerintah tak ingin terlihat memaksa warganya untuk datang ke perpustakaan tersebut. Justru masyarakat sendiri yang harus mengaktifkan kembali kegiatan di microlibrary Bima.

"Kita udah siapkan tuh sarana prasarananya, buku-bukunya udah ada. Nah, hanya, kan satu perpustakaan itu termasuk unsur-unsurnya itu selain pustakawan, pemustaka, ada juga aktivasi kegiatan-kegiatannya" ungkapnya.

2. Tunggu inisiatif warga

Microlibrary Bima yang Viral di Jaman Ridwan Kamil Kini Makin Terbengkalai. IDN Times/Debbie Sutrisno

Menurutnya, pengaktifan kembali Microlibrary Bima idealnya berasal dari inisiatif warga setempat. Ia menyebut masyarakat sekitar merupakan pihak yang paling tepat untuk menentukan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan mereka.

"Jadi, kegiatan-kegiatan ini justru lebih idealnya direaktivasinya oleh warga setempat. Jangan dari mungkin dari yang lain-lain. Tapi dari warga setempat," ujarnya.

Ia mendorong warga untuk membuat kalender kegiatan yang dapat digelar secara rutin di Microlibrary Bima. Konsep tersebut diharapkan dapat menjadikan perpustakaan sebagai ruang aktivitas bersama yang diinisiasi dan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

"Saya sempat sampaikan, coba bikin kalender event di sana, khusus di sana, oleh warga, dari warga, dan untuk warga," kata Dewi.

Gagasan tersebut, kata dia, sebenarnya telah disampaikannya sejak tahun lalu. Ia mengaku sudah dua kali mendatangi lokasi dan berkomunikasi dengan Ketua RW setempat untuk membahas rencana mengaktifkan kembali Microlibrary Bima.

"Saya sudah sampaikan lho itu sejak tahun kemarin. Saya udah dua kali ke sana, saya ketemu dengan Pak RW-nya. Sok mangga, ini kan kita udah ada nih perpustakaannya. Mau diapakan nih, mau diaktivasinya mau seperti apa," tuturnya.

3. Tidak akan lepas tanggung jawab

Microlibrary Bima yang Viral di Jaman Ridwan Kamil Kini Makin Terbengkalai. IDN Times/Debbie Sutrisno

Pemerintah pada dasarnya telah menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan, termasuk koleksi buku. Karena itu, pihaknya kini menunggu rencana dan inisiatif dari masyarakat setempat mengenai bentuk kegiatan yang akan dilakukan di Microlibrary Bima.

Dewi mengatakan bahwa dorongan kepada warga tersebut bukan berarti pemerintah lepas tangan. Menurutnya, Microlibrary Bima memang disediakan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat, sehingga keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam menghidupkan kembali aktivitas di dalamnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article