Bandung, IDN Times - Duduk bersila di ruang tengah, Deni Sopian (42 tahun) dengan tenang memerhatikan sang adik menjahit celana. Sesekali dia merapikan bahan yang berserakan di bawah mesin jahit.
Tak ada keramaian suara televisi di rumah tersebut. Hanya suara mesin jahit dan rintik hujan menemani Deni bersama adiknya Kokoy Rodiah (39) dan sang ibu, Kartini (62). Sebenarnya ada tiga orang lagi penghuni rumah ini, yaitu suami Kokoy dan dua anaknya, tapi ketika itu mereka sedang berada di luar.
Waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB di Desa Panguban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Hujan telah mengguyur desa ini sejak pukul 13.00 WIB. Deni yang biasa berkeliling sekitar rumah pun hanya berdiam dan membantu aktivitas keseharian adik dan ibunya.
"Alhamdulillah sekarang hideng barang damel (mandiri dalam melakukan berbagai pekerjaan). Bisa masak air, masukan ke termos, nimba air, moyan (jemur) baju," kata Kartini saat berbincang dengan IDN Times, Jumat (27/10/2022).
Deni merupakan salah satu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang ada di Desa Pangauban. Dia mengalami gangguan mental sejak duduk di kelas 4 sekolah dasar (SD).
Awalnya Deni kerap menerima bisikan-bisikan lewat mimpinya. Kemudian dia ketakutan seperti ada orang yang ingin menusuknya. Hingga puncaknya, pikiran dia makin tidak karuan dan sering minta mandi siang hari.
Kondisi ini sangat memukul keluarga Kartini. Sebagai orang dengan ekonomi pas-pasan, dia harus merogoh kocek bolak-balik mencari pengobatan formal hingga alternatif ke berbagai tempat.
Beberapa kali Kartini membawa Deni ke 'orang pintar' yang direkomendasikan keluarga hingga tetangga. Dia sempat diminta menyiapkan berbagai barang saat pengobatan seperti sajadah, makanan, sampai daun kelor. Namun semuanya nihil. Tak ada perubahan pada sikap Deni.
"Saya juga sama suami pernah bawa Deni ke rumah sakit jiwa. Cuman sebulan di sana karena anaknya marah-marah terus. Mana lecet-lecet tangan sama badannya," ungkap Kartini.
Yang lebih membikin kesal Kartini dan keluarga adalah sikap tetangga di rumah kontrakannya di Kota Bandung yang tidak ramah pada Deni. Bahkan ada saja anak kecil maupun orang dewasa mengolok-olok Deni.
"Pusing jadinya. Deni juga jadi lebih sering ngamuk kalau di rumah dulu," kata Kartini.
Keluarga ini lantas memilih pindah rumah ke Desa Panguban sejak 2012. Di rumah ini lingkungannya lebih tenang sehingga Deni tidak sering mengamuk. Meski demikian, Kartini dan Kokoy pun tetap menjaga Deni agar tidak keluar rumah berlama-lama. Deni bahkan lebih sering dirantai hingga dipasung agar tidak mengamuk ketika berada di dalam rumah.
