Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260131-WA0012.jpg
(IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Intinya sih...

  • Mendikti Saintek siap memberikan pendanaan riset untuk mendukung industri di Indonesia

  • Kemendiktisaintek memiliki program riset hilirisasi yang fokusnya menyasar kebutuhan industri dan inovasi

  • Pemerintah menyiapkan basis data komprehensif mengenai potensi perguruan tinggi dan para akademisi di Indonesia

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Brian Yuliarto siap memberikan pendanaan riset dan inovasi untuk mendukung industri di Indonesia. Hal ini juga dilakukan guna mencapai target pertumbuhan ekonomi delapan persen.

Brian mengatakan, untuk mencapai target tersebut tentunya kampus ikut berperan penting, dengan memenuhi Sumber Daya Manusia termasuk hasil penelitian riset dan inovasi yang dilakukan kampus-kampus.

"Peran yang vital adalah munculnya industri berbasis sains dan teknologi, itu yang akan memiliki efek berlipat untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi," ujar Brian dalam seminar ITB80 di kampus Ganesha, Kota Bandung, Sabtu (31/1/2026).

1. Guru besar siap membantu riset industri

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendikti Saintek), Prof Brian Yuliarto (Youtube.com/Sekretariat Presiden)

Brian menyampaikan, Kemendiktisaintek memiliki program riset hilirisasi yang mana fokusnya menyasar kebutuhan industri dan inovasi. Nantinya, kebutuhan industri akan dibahas langsung oleh para guru besar dan hasil risetnya digunakan untuk industri.

"Industri kita tanya apa kebutuhannya, apa yang mesti diriset, kebutuhan inovasi apa, nanti kementerian akan mencarikan guru besar dan peneliti yang sesuai bidangnya, bahkan kita akan mendanai melalui program pendanaan riset untuk mendukung kebutuhan industri," ujar Brian.

Dia berharap, melalui pendekatan ini, industri nasional memiliki fondasi inovasi dan riset yang kuat sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan naik kelas di tingkat global.

"Harapannya industri memiliki kekuatan inovasi, riset dan dengan begitu industri semakin tinggi produktivitas dan menjadi industri berkelas," ucapnya.

2. Kementerian sudah buat klaster guru besar

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendikti Saintek), Prof Brian Yuliarto (Youtube.com/Sekretariat Presiden)

Pemerintah juga telah menyiapkan basis data komprehensif mengenai potensi perguruan tinggi dan para akademisi di Indonesia. Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden untuk menyelaraskan kebutuhan bangsa dengan kapasitas riset nasional.

"Kami punya database perguruan tinggi, guru besar, bahkan pak presiden meminta dilakukan kajian soal kebutuhan bangsa, kita sudah klaster kan yang diisi dosen dan guru besar lintas perguruan tinggi," tuturnya.

Menurutnya, fokus utama pengembangan tetap diarahkan pada bidang sains dan teknologi, terutama untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang melimpah.

"Yang utama bidang sains teknologi, dalam kondisi sekarang kita butuh industri berbasis sains teknologi apalagi kami punya kekayaan mineral banyak," ujarnya.

3. Bonus demografi tidak akan berarti jika tidak dididik menjadi tenaga terampil

ilustrasi industri pangan (unsplash.com/Arno Senoner)

Sementara itu Rizal Affandi Lukman, alumni ITB80, yang juga tim ahli Kemenko Perekonomian, menjelaskan jika bonus demografi yang dialami Indonesia akan mencapai puncaknya pada periode 2035-2040. Di era bonus demografi ini, usia produktif mendominasi struktur populasi.

"Bonus demografi tidak akan berarti jika tidak dididik menjadi tenaga terampil. Tenaga terampil diperlukan untuk meningkatkan peran AI dan digital teknologi dalam dunia UMKM yang jumlahnya amat banyak," ujar Rizal.

Kata dia, dengan peningkatan ketrampilan diharapkan pendapatan masyarakat bertambah sehingga secara nasional bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

"Pendorong utama pertumbuhan ada tiga yaitu inovasi, produktivitas, dan peningkatan kualitas SDM," katanya.

Editorial Team