Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menabung Selama 10 Tahun, Petani Cirebon Akhirnya Berangkat Haji
Abdul Karpi (57) berdiri tenang di pelataran Asrama Haji Watubelah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jumat (24/4/2026) pagi. Wajahnya tidak banyak bicara, tetapi sorot matanya menyimpan perjalanan panjang yang baru saja sampai di titik berangkat. (IDN Times/Hakim Baihaqi)
  • Abdul Karpi, petani asal Cirebon, akhirnya berangkat haji setelah menunggu lebih dari satu dekade sejak mendaftar pada 2013.
  • Ia dan istrinya menabung sedikit demi sedikit dari hasil panen sawah hingga cukup untuk biaya pendaftaran haji.
  • Sebanyak 441 calon jemaah haji diberangkatkan dari Asrama Haji Watubelah menuju Embarkasi Indramayu dalam suasana haru dan tertib.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Abdul Karpi (57) berdiri tenang di pelataran Asrama Haji Watubelah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jumat (24/4/2026) pagi. Wajahnya tidak banyak bicara, tetapi sorot matanya menyimpan perjalanan panjang yang baru saja sampai di titik berangkat.

Bersama istrinya, ia menjadi bagian dari ratusan calon jemaah haji yang akhirnya menuju Tanah Suci.

Bagi Karpi, momen ini bukan sekadar keberangkatan. Ini adalah jawaban dari penantian sejak 2013, saat ia pertama kali mendaftarkan diri. Lebih dari satu dekade berlalu, hingga akhirnya namanya masuk dalam daftar yang dipanggil berangkat tahun ini.

“Yang penting sabar saja nunggunya,” ujarnya sebelum diberangkatkan menuju Embarkasi Haji Indramayu.

Ia tidak menyebut angka tahun dengan pasti. Namun ia tahu betul lamanya menunggu. Hari demi hari dijalani seperti biasa, tanpa kepastian kapan giliran itu datang. Ia hanya percaya, waktunya akan tiba.

1. Menabung dari hasil tani

Sebanyak 441 calon jemaah haji diberangkatkan dari Asrama Haji Watubelah, Kabupaten Cirebon, Jumat (24/4/2025). Rombongan ini menjadi kelompok terbang (kloter) kelima atau perdana dari wilayah Cirebon yang menuju Tanah Suci melalui Embarkasi Haji Indramayu. (IDN Times/Hakim Baihaqi)

Karpi bukan pegawai, bukan pula pedagang besar. Ia seorang petani di Desa Panguragan Lor, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon. Hidupnya sederhana, bergantung pada musim dan hasil panen. Dari sawah itulah niat berhaji mulai ia kumpulkan. Bukan dengan jumlah besar sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit.

“Setiap panen saya sisihkan,” katanya.

Tidak ada cara khusus. Ia hanya menyisakan sebagian dari hasil yang diperoleh, berapapun jumlahnya. Saat panen baik, yang disisihkan sedikit lebih banyak. Saat hasil menurun, ia tetap berusaha menyimpan meski tidak seberapa.

Uang itu kemudian ditabung di bank. Bertambah perlahan, tanpa terasa. Hingga suatu waktu, jumlahnya cukup untuk mendaftar haji.

“Sedikit-sedikit lama-lama terkumpul,” ujarnya.

Ia menyebut cara itu sebagai jalan orang tani. Tidak cepat, tetapi pasti. Tidak besar, tetapi terus berjalan.

2. Bersama istri dalam perjalanan panjang

Sebanyak 441 calon jemaah haji diberangkatkan dari Asrama Haji Watubelah, Kabupaten Cirebon, Jumat (24/4/2025). Rombongan ini menjadi kelompok terbang (kloter) kelima atau perdana dari wilayah Cirebon yang menuju Tanah Suci melalui Embarkasi Haji Indramayu. (IDN Times/Hakim Baihaqi)

Perjalanan menuju Tanah Suci ini tidak ia tempuh sendiri. Sejak awal, ia meniatkannya bersama sang istri. Keduanya menabung, menunggu, dan menjaga harapan yang sama.

Tidak ada kemewahan dalam proses itu. Mereka hanya menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa. Bertani, mengatur pengeluaran, dan menyisihkan yang bisa disimpan.

Selama masa tunggu yang panjang, Karpi tidak banyak mengeluh. Ia menganggap antrean sebagai bagian dari proses yang harus dijalani.

Ketika kabar keberangkatan itu akhirnya datang, perasaan yang muncul pun sederhana. “Senang,” katanya singkat.

Sarpi mengatakan, ia tidak berbicara tentang rencana besar di Tanah Suci. Tidak pula mengungkapkan harapan yang berlebihan. Baginya, bisa berangkat saja sudah menjadi pencapaian yang besar.

Ia pun merasa, langkahnya pada hari itu terasa ringan, tetapi sarat makna. Dari sawah di Panguragan Lor, dari tabungan kecil yang dikumpulkan setiap panen, hingga akhirnya tiba di titik keberangkatan. "Mudah-mudahan sampai sana sehat dan bisa kembali ke Cirebon dengan selamat. Doakan saja," kata Karpi.

3. Pergerakan sejak dini hari

Sebanyak 441 calon jemaah haji diberangkatkan dari Asrama Haji Watubelah, Kabupaten Cirebon, Jumat (24/4/2025). Rombongan ini menjadi kelompok terbang (kloter) kelima atau perdana dari wilayah Cirebon yang menuju Tanah Suci melalui Embarkasi Haji Indramayu. (IDN Times/Hakim Baihaqi)

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 441 calon jemaah haji diberangkatkan dari Asrama Haji Watubelah, Kabupaten Cirebon, Jumat (24/4/2025). Rombongan ini menjadi kelompok terbang (kloter) kelima atau perdana dari wilayah Cirebon yang menuju Tanah Suci melalui Embarkasi Haji Indramayu.

Pemberangkatan tersebut menandai dimulainya rangkaian perjalanan ibadah haji tahun ini dari kawasan Ciayumajakuning.

Pantauan IDN Times, aktivitas di asrama sudah berlangsung sejak sebelum subuh. Sejumlah bus berjajar di halaman, sementara petugas tampak mengatur jalur keberangkatan.

Sekitar pukul 06.00 WIB, jemaah mulai keluar dari gedung penginapan dengan mengenakan pakaian seragam. Mereka membawa koper besar dan tas kabin, berjalan tertib menuju titik pemeriksaan akhir sebelum naik kendaraan.

Di sisi lain halaman, keluarga pengantar memadati area yang telah dibatasi. Pelukan dan lambaian tangan mengiringi langkah para jemaah. Beberapa keluarga tampak menahan tangis, sementara lainnya terus melafalkan doa. Suasana haru bercampur khidmat terasa kuat, terutama saat jemaah satu per satu berpisah dari kerabat yang mengantar.

Sebelum keberangkatan, petugas melakukan pemeriksaan dokumen dan kondisi kesehatan secara menyeluruh. Setelah dinyatakan lengkap, jemaah diarahkan naik ke bus secara bergelombang.

Sekitar pukul 09.30 WIB, iring-iringan kendaraan mulai meninggalkan asrama dengan pengawalan aparat. Perjalanan menuju Embarkasi Indramayu berlangsung terkoordinasi, sebagai tahap lanjutan sebelum para jemaah terbang ke Arab Saudi.

Editorial Team