Foto Soeharto dari DWnesia
Selain itu, GMNI menyoroti politik de-Soekarnoisasi yang dilakukan Soeharto. Menurut mereka, penghapusan peran Bung Karno dari sejarah nasional, pelarangan ajaran Marhaenisme, serta revisi buku pelajaran sejarah pada masa Orde Baru adalah bentuk pengkhianatan terhadap revolusi.
"Bung Karno dijadikan tahanan rumah hingga wafat. Memberi gelar pahlawan kepada Soeharto tanpa mengakui hal itu sama saja memutihkan sejarah," ujar Rifky.
GMNI juga menolak klaim keberhasilan pembangunan orde baru yang dinilai semu dan hanya memperlebar kesenjangan sosial. Menurut Rifky, pahlawan sejati bukan hanya pemimpin pembangunan, tapi juga penjaga moral dan kemanusiaan. Soeharto, katanya, gagal memenuhi prinsip itu karena meninggalkan jejak pelanggaran HAM, korupsi, dan represi politik.
"Tak ada rekonsiliasi tanpa kebenaran. Penghargaan tanpa pertanggungjawaban hanya akan melukai korban dan keadilan sejarah," ujarnya.
GMNI Sukabumi Raya merumuskan lima alasan penolakan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional, yaitu:
Menyimpang dari nasionalisme Bung Karno.
Mengingkari semangat Trisakti.
Melakukan de-Soekarnoisasi.
Menjadi simbol anti-demokrasi dan penindasan rakyat.
Belum ada penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu.
"Pahlawan bukan yang dipuja kekuasaan, tapi yang membebaskan rakyat dari penindasan. Soeharto bukan simbol kepahlawanan, melainkan cermin kegagalan bangsa menegakkan keadilan sejarah," tutur Rifky.