Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
LPG Nonsubsidi Naik Harga, KDM Sarankan Warga Beralih Pakai Kayu Bakar
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
  • Pertamina resmi menaikkan harga LPG nonsubsidi 5,5 kg dan 12 kg hingga sekitar 18 persen, mengikuti kenaikan BBM nonsubsidi sebelumnya.
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyarankan warga beralih ke energi alternatif seperti kayu bakar atau biogas dari kotoran sapi untuk mengurangi ketergantungan pada LPG.
  • Kenaikan harga ini berdampak langsung pada pelaku usaha kuliner di Bandung yang harus menyesuaikan biaya produksi dan berharap kebijakan serupa diinformasikan lebih awal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
20 April 2026

PT Pertamina (Persero) mengumumkan kenaikan harga LPG nonsubsidi 5,5 kg dan 12 kg. Pada hari yang sama, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyarankan masyarakat beralih menggunakan energi alternatif seperti kayu bakar atau biogas dari kotoran sapi.

kini

Harga Bright Gas 5,5 kg naik menjadi Rp107 ribu dari Rp90 ribu, sedangkan ukuran 12 kg menjadi Rp228 ribu dari Rp192 ribu. Warga dan pelaku usaha di Bandung merasakan dampak langsung kenaikan ini terhadap biaya operasional dan harga jual produk.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    PT Pertamina (Persero) menaikkan harga LPG nonsubsidi ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram, dengan kenaikan masing-masing sekitar 18,89 persen dan 18,75 persen.
  • Who?
    Kenaikan diumumkan oleh PT Pertamina (Persero), sementara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan tanggapan dan saran kepada masyarakat. Warga seperti Beni, pelaku usaha kuliner di Bandung, turut merasakan dampaknya.
  • Where?
    Kebijakan berlaku secara nasional, namun laporan situasi disampaikan dari Kabupaten Bandung dan Kota Bandung, Jawa Barat.
  • When?
    Pengumuman kenaikan harga disampaikan pada Senin, 20 April 2026.
  • Why?
    Kenaikan dilakukan setelah penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi sebelumnya. Alasan resmi terkait kebijakan energi pusat belum dijelaskan lebih lanjut oleh pihak Pertamina.
  • How?
    Harga Bright Gas 5,5 kg naik dari Rp90 ribu menjadi Rp107 ribu, sedangkan ukuran 12 kg naik dari Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu. Pemerintah daerah menyarankan warga beralih ke sumber energi alternatif seperti kayu bakar atau biogas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pertamina bilang gas untuk masak yang tabung pink dan besar sekarang jadi lebih mahal. Orang di Bandung kaget karena harga naik banyak. Pak Dedi, Gubernur Jawa Barat, bilang orang bisa coba pakai kayu bakar atau gas dari kotoran sapi biar tetap bisa masak. Ada juga Pak Beni yang jual makanan jadi bingung karena biaya masaknya ikut naik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kenaikan harga LPG nonsubsidi di Jawa Barat memunculkan semangat adaptasi dan inovasi di tengah masyarakat. Gubernur Dedi Mulyadi menilai kondisi ini sebagai momentum untuk mengembangkan sumber energi alternatif seperti kayu bakar dan biogas dari kotoran sapi, menunjukkan kemampuan warga yang kreatif, mandiri, serta tangguh dalam menghadapi perubahan kebijakan energi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - PT Pertamina (Persero) mengumumkan kenaikan harga LPG nonsubsidi 5,5 kilogram dan 12 kilogram. Kenaikan ini terjadi setelah Pertamina sebelumnya menaikkan harga harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

Dikutip dari situs resmi PT Pertamina Patra Niaga, harga Bright Gas 5,5 kg mengalami kenaikan 18,89 persen, dan harga Bright Gas 12 kg naik 18,75 persen. Dengan kondisi ini, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM turut menyarankan agar masyarakat turut memanfaatkan energi lainnya.

"Kalau LPG dari sisi kebijakan energi kan kebijakannya pemerintah pusat, paling kita di daerah mendorong untuk masyarakat menggunakan energi yang lainnya," ujar Dedi di Kabupaten Bandung, Senin (20/4/2026).

1. Busa juga pakai kotoran sapi yang diubah menjadi gas

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Menurut dia, masyarakat bisa menggunakan alternatif lain selain menggunakan LPG, misalnya kayu bakar dan juga inovasi kotoran sapi yang bisa diubah menjadi gas yang ramah lingkungan untuk memasak.

"Bukan hanya menggunakan LPG, tapi juga bisa menggunakan, misalnya di daerah perkampungan, banyak kayu bakar, pakai kayu bakar. Di saya, bisa mengelola kotoran sapi berubah jadi energi gas, bisa, sampah, bisa, listrik bisa," jelasnya.

Dedi merasa, kenaikan LPG nonsubsidi ini bisa dihadapi oleh masyarakat dengan alternatif lainnya. Apalagi, masyarakat Jabar dirasakan dia sudah bisa melakukan banyak inovasi.

"Jadi memang kita harus berusaha menyesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan kita, dan saya meyakini warga Indonesia ini warga yang inovatif dan cerdas," kata dia.

2. Kenaikan LPG nonsubsidi terdampak langsung kepada pengusaha kuliner di Bandung

Ilustrasi LPG nonsubsidi 5,5 kilogram. (Dok. Pertamina)

Adapun kenaikan LPG nonsubsidi ini turut berdampak langsung ke masyarakat seperti di Kota Bandung, harga Bright Gas 5,5 kg kini naik menjadi Rp107 ribu dari sebelumnya Rp90 ribu, sementara ukuran 12 kg melonjak menjadi Rp228 ribu dari Rp192 ribu.

Seorang warga Kota Bandung, sekaligus pemilik usaha kuliner, Beni turut merasakan dampak langsung dari kenaikan ini. Sebagai pelaku usaha kuliner, Beni mengaku kenaikan ini cukup berdampak terhadap operasional sehari-hari. Dia harus memutar otak untuk menyesuaikan biaya produksi dengan harga jual kepada konsumen.

"Kalau saya kebetulan memang pelanggan nonsubsidi ya, jadi cukup kaget si, gak ada pemberitahuan tahu-tahu naik. Saya juga ada usaha rumah makan jadi ya lumayan, saya harus menyesuaikan harga-harganya juga," kata dia.

3. Pengusaha kuliner pastikan kenaikan harga jual makanannya

Ilustrasi LPG nonsubsidi Bright Gas 5,5 kg. (dok. Pertamina)

Kenaikan harga LPG nonsubsidi ini, dirasakan Beni cukup signifikan, dan membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit, karena jika harga dinaikkan maka konsumen ditakutkan tidak ada yang membeli.

"Ya kalau saya secara pengusaha betul agak keberatan karena otomatis bingung juga buat nge-balance harga, mau dinaikkin juga belum tentu konsumen mau," ungkapnya.

Beni berharap ke depan kebijakan kenaikan harga bisa disampaikan lebih awal agar masyarakat, khususnya pelaku usaha, dapat melakukan penyesuaian.

"Kalau pun naik diinformasikan lebih dulu, kalau naik juga jangan terlalu besar dan memberatkan masyarakat yang berusaha," ucap dia.

Editorial Team