Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lebaran Dekat, Jalur Lingkar Timur Kuningan Masih Rawan Kecelakaan
Jalan Lingkar Timur di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat
  • Menjelang arus mudik Lebaran 2026, kondisi jalur lingkar timur Kuningan masih rusak parah dengan banyak lubang, aspal mengelupas, dan minim penerangan di sejumlah titik.
  • Pengendara terpaksa melambat karena jalan bergelombang dan gelap, sementara marka jalan memudar membuat batas lajur sulit dikenali serta meningkatkan risiko kecelakaan malam hari.
  • Meski jalur ini strategis sebagai penghubung Cirebon–Tasikmalaya, hingga awal Maret belum ada perbaikan besar dilakukan, padahal volume kendaraan terus meningkat menjelang Lebaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
awal Maret 2026

Belum terlihat perbaikan besar-besaran di jalur lingkar timur Kuningan. Tidak ada alat berat atau pekerja konstruksi yang tampak di lokasi.

Rabu (4/3/2026)

Pantauan sore hingga malam menunjukkan banyak lubang dan retakan aspal di jalur lingkar timur Kuningan. Arus kendaraan mulai meningkat dan pengendara memperlambat laju untuk menghindari kerusakan jalan.

pukul 19.30 WIB

Lebih dari separuh segmen jalan berada dalam kondisi remang dengan minim penerangan. Pengendara terpaksa mengurangi kecepatan karena lubang tidak terlihat jelas pada malam hari.

kini

Menjelang arus mudik Lebaran 2026, kondisi jalur lingkar timur Kuningan masih memprihatinkan dengan banyak lubang dan penerangan minim, menimbulkan kekhawatiran bagi pengguna jalan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kuningan, IDN Times - Menjelang arus mudik Lebaran 2026, kondisi jalur lingkar timur Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, masih memprihatinkan. Ruas jalan yang menjadi penghubung utama arus kendaraan dari Cirebon menuju Tasikmalaya itu masih berlubang, retakan aspal, dan minim penerangan. Pada malam hari, sebagian titik bahkan nyaris tanpa lampu jalan.

Pantauan Rabu (4/3/2026) sore hingga malam menunjukkan sejumlah lubang menganga di badan jalan dengan diameter bervariasi, mulai dari 20 hingga 60 sentimeter. Kedalamannya mencapai 5 sampai 15 sentimeter.

Lubang-lubang itu tersebar tidak beraturan, terutama di jalur dari arah Cirebon menuju perbatasan wilayah selatan Kuningan. Di beberapa titik, tambalan aspal lama terlihat terkelupas, menyisakan permukaan yang tidak rata.

Arus kendaraan terpantau mulai meningkat pada sore hari. Sepeda motor dan mobil pribadi mendominasi, disusul truk logistik berukuran sedang. Pengendara terlihat memperlambat laju kendaraan saat memasuki segmen jalan yang rusak. Beberapa sepeda motor tampak oleng menghindari lubang, terutama ketika berpapasan dengan kendaraan besar dari arah berlawanan.

Jalur ini dikenal sebagai alternatif non-tol bagi pemudik yang melintasi wilayah selatan Jawa Barat. Fungsinya krusial karena menghubungkan jalur pantura di wilayah Cirebon dengan kawasan Priangan Timur, termasuk Tasikmalaya.

1. Lubang menganga dan aspal mengelupas

Jalan Lingkar Timur di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat

Kerusakan paling parah terpantau tersebar di beberapa ratus meter setelah simpang Cigandamekar. Permukaan jalan tampak bergelombang dengan bekas genangan air yang mengering.

Di sisi kiri dan kanan, bahu jalan dipenuhi kerikil lepas yang berpotensi membahayakan pengendara roda dua.

Di satu titik, lubang besar berada tepat di tengah lajur. Tidak ada rambu peringatan atau tanda cat semprot yang lazim dipasang sebagai penanda sementara. Pengendara hanya mengandalkan lampu kendaraan dan refleks menghindar.

Saat malam tiba, kondisi makin riskan. Lampu penerangan jalan umum hanya menyala di beberapa titik, dengan jarak antartiang cukup jauh. Di antara rentang itu, ruas jalan gelap. Sorot lampu kendaraan menjadi satu-satunya sumber cahaya.

Beberapa pengendara memilih menepi sejenak untuk memastikan kondisi jalan di depan mereka. Truk-truk besar terlihat melambat drastis, memicu antrean pendek di belakangnya.

2. Minim penerangan, risiko berlipat

Jalan Lingkar Timur di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat

Ketiadaan penerangan memadai menjadi keluhan utama pengguna jalan. Pada pukul 19.30 WIB, lebih dari separuh segmen yang dipantau berada dalam kondisi remang. Pepohonan di sisi jalan memperparah situasi karena menutup sebagian cahaya dari permukiman sekitar.

Pantauan menunjukkan setidaknya ada lima titik dengan lubang cukup dalam yang tidak terlihat jelas dari jarak lebih dari 10 meter pada malam hari. Kondisi ini memaksa pengendara mengurangi kecepatan hingga di bawah 30 kilometer per jam.

Jalur tersebut tidak dilengkapi marka jalan yang tegas di beberapa bagian. Garis pembatas lajur memudar. Pada kondisi gelap, batas antarjalur sulit dikenali. Risiko tabrakan frontal meningkat ketika kendaraan mencoba menghindari lubang dengan berpindah lajur secara mendadak.

Beberapa warga sekitar memasang lampu tambahan di depan rumah mereka. Namun penerangan itu hanya membantu di area terbatas, tidak menjangkau keseluruhan ruas.

Rizal (34 tahun), pengendara sepeda motor asal Cirebon yang rutin melintas menuju Tasikmalaya, mengaku waswas setiap kali melewati jalur tersebut. “Kalau siang masih kelihatan lubangnya, walau tetap bahaya. Tapi kalau malam, benar-benar gelap. Tiba-tiba saja sudah dekat lubang,” ujarnya ditemui di tepi jalan saat beristirahat, Rabu (4/3/2026).

Menurut dia, kondisi itu sudah berlangsung beberapa bulan tanpa perbaikan menyeluruh. Tambalan yang ada dinilai tidak bertahan lama. “Baru ditambal, beberapa minggu kemudian rusak lagi. Apalagi kalau hujan deras,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Dedi (41) pengemudi mobil pribadi yang membawa keluarganya menuju wilayah selatan. Ia memilih melintas lebih awal untuk menghindari kemacetan, tetapi tetap menghadapi kendala di jalur tersebut.

"Saya harus pelan sekali. Takut ban pecah atau suspensi rusak. Ini kan jalur utama non-tol, harusnya lebih diperhatikan menjelang mudik,” ujarnya.

Dedi menilai minimnya penerangan menjadi persoalan serius. “Kalau sudah ramai nanti saat puncak mudik, kendaraan padat. Menghindari lubang akan lebih sulit. Bisa saling serempet,” katanya.

3. Jalur strategis tanpa perbaikan menyeluruh

ilustrasi perbaikan jalan (freepik.com)

Sebagai penghubung arus kendaraan antara wilayah Cirebon dan Tasikmalaya, jalur lingkar timur Kuningan memegang peran strategis setiap musim mudik. Ketika jalur utama lain padat, ruas ini kerap menjadi pilihan alternatif.

Namun hingga awal Maret 2026, belum terlihat adanya perbaikan besar-besaran di sepanjang segmen yang rusak. Tidak tampak alat berat atau pekerja konstruksi saat pantauan dilakukan. Hanya terdapat bekas tambalan lama yang mulai retak kembali.

Dengan waktu kurang dari beberapa pekan menuju Lebaran, peningkatan volume kendaraan diperkirakan terjadi bertahap. Tanpa penanganan cepat, kombinasi lubang, aspal bergelombang, dan minim penerangan berpotensi memperbesar risiko kecelakaan.

Editorial Team