Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
KLB Campak, Pemkot Cirebon Kebut Vaksinasi
ilustrasi vaksinasi anak (freepik.com/prostooleh)
  • Pemerintah Kabupaten Cirebon menetapkan status KLB campak di empat kecamatan dan menargetkan vaksinasi bagi 12.221 anak, dengan capaian sementara baru mencapai 54,72 persen.
  • Dinas Kesehatan mencatat tiga kasus kematian terkait KLB campak dan mempercepat vaksinasi melalui sweeping balita serta kolaborasi lintas sektor untuk mencegah penyebaran lebih luas.
  • Penolakan imunisasi dari sebagian orang tua masih menjadi tantangan, sehingga kader kesehatan diminta melakukan pendekatan persuasif agar masyarakat memahami pentingnya vaksinasi campak bagi anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Cirebon menargetkan sebanyak 12.221 anak mendapatkan vaksinasi campak menyusul penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di empat kecamatan. Hingga Jumat (8/5/2026), capaian vaksinasi tercatat baru mencapai 54,72 persen.

Bupati Cirebon, Imron Rosyadi, mengatakan percepatan vaksinasi terus dilakukan untuk menekan penyebaran campak sekaligus melindungi kesehatan anak-anak di Kabupaten Cirebon.

“Saat ini ada empat kecamatan di Kabupaten Cirebon yang masuk kategori KLB campak. Karena itu vaksinasi harus terus digencarkan,” kata Imron, Minggu (10/5/2026).

Empat kecamatan yang masuk kategori KLB campak yakni Kecamatan Mundu, Sumber, Greged, dan Ciwaringin. Pemerintah daerah pun meningkatkan kewaspadaan agar penyebaran kasus tidak meluas ke wilayah lain.

Imron mengatakan, pemerintah daerah optimistis target vaksinasi dapat tercapai apabila seluruh pihak ikut terlibat dalam edukasi dan pelaksanaan imunisasi di lapangan.

“Mudah-mudahan target tersebut bisa segera tercapai sehingga Kabupaten Cirebon tetap sehat dan anak-anak kita terlindungi dari campak,” ujarnya.

1. Dinkes lakukan penyisiran balita

ilustrasi vaksinasi (pexels.com/CP Khanal)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni, mengatakan percepatan vaksinasi dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Selain membuka layanan di pos kesehatan, petugas juga melakukan pendataan hingga penyisiran langsung terhadap balita yang belum menerima imunisasi.

Menurut Eni, pelaksanaan vaksinasi massal berlangsung sejak 4 Mei hingga 9 Mei 2026. Setelah itu, Dinas Kesehatan akan melakukan sweeping untuk menjangkau anak-anak yang belum sempat mengikuti vaksinasi, termasuk balita yang sebelumnya sakit.

“Setelah pelaksanaan vaksinasi selesai, kami melakukan sweeping untuk menyisir balita yang belum mendapatkan vaksin, termasuk yang sebelumnya sakit atau belum sempat hadir,” kata Eni.

Penyisiran dilakukan dengan melibatkan tenaga kesehatan, kader posyandu, pemerintah desa, hingga tokoh masyarakat. Langkah tersebut dilakukan agar cakupan imunisasi dapat meningkat dalam waktu cepat di wilayah terdampak KLB.

2. Tiga kasus kematian saat penanganan KLB

ilustrasi vaksinasi (pexels.com/CDC)

Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon mencatat terdapat tiga kasus kematian dalam penanganan KLB campak kali ini. Dari jumlah tersebut, dua kasus dinyatakan terkonfirmasi positif campak, sedangkan satu kasus lainnya negatif.

Kondisi itu membuat pemerintah daerah mempercepat cakupan imunisasi guna mencegah munculnya kasus baru. Selain vaksinasi, pemantauan kesehatan anak di wilayah terdampak juga terus diperketat.

Pemerintah daerah menilai keberhasilan penanganan KLB campak tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, melainkan membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.

“Kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Karena itu kami membutuhkan dukungan semua pihak untuk membantu percepatan vaksinasi dan edukasi kepada masyarakat,” ujar Eni.

3. Penolakan imunisasi masih jadi tantangan

Ilustrasi vaksinasi (pexels.com/RF._.studio)

Selain mengejar target vaksinasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon juga menghadapi tantangan berupa masih adanya penolakan imunisasi dari sebagian orang tua.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, kader kesehatan diminta melakukan pendekatan persuasif dan humanis agar masyarakat memahami pentingnya imunisasi campak bagi anak.

Eni mengatakan, edukasi kepada masyarakat terus diperkuat agar orang tua tidak termakan informasi keliru mengenai vaksinasi. Menurut dia, imunisasi menjadi langkah penting untuk mencegah risiko penyakit yang lebih berat pada anak.

“Kami berharap para kader dan tokoh masyarakat terus memberikan edukasi secara humanis kepada orang tua yang masih menolak vaksinasi. Imunisasi sangat penting untuk melindungi anak-anak dari risiko penyakit yang lebih berat,” katanya.

Editorial Team