(IDN Times/Azzis Zulkhairil)
Sebelumnya, Dosen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)/Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan, mengatakan, gubernur populer memang bisa berdampak kepada program. Namun, ada beberapa yang dirasakannya masih ada kekurangan.
"Dengan hasil seperti ini kinerja provinsi Jabar dari satu tahun terkahir itu sangat baik dan beberapa ada nilai C dan D tapi lulus cuma belum Cumlaude apalagi Suma Cumlaude," ujar Djaya di Bandung, Senin (16/2/2026).
Djaya menilai secara keseluruhan hasil survei ini sangat positif dan angkanya tinggi, namun ada beberapa hal yang dirasakannya cukup mencolok yaitu tingkat kepuasan publik terhadap kinerja gubernur dan wakil gubernur terasa jomplang.
"Saya ada beberapa catatan. Approval rating tinggi terhadap gubernur. Itu dua kali lipat dari wakil gubernur, ini masalah apa bukan. Kalau publik Ingin keduanya kerja kang Erwan perlu mendongkrak elektabilitasnya," katanya.
Dalam hasil survei tersebut, Djaya merasa ada peran-peran yang belum dimaksimalkan atau belum diberikan terhadap wakil gubernur, sehingga tingkat kepuasannya mengalami perbedaan yang signifikan.
"Dalam konteks ini apakah diutamakan kepuasan terhadap wakil gubernur atau menjaga keutuhan. Saya menduga kalau keduanya solid dalam memerintah Kang Erwan harus kasih peran lain," kata dia.
"Bisa jadi kalau dia turun popularitas KDM merasa tersaingi. Di satu sisi ada one man show itu disengaja atau tidak disengaja," katanya.
Menanggapi semua itu, Dedi Mulyadi menilai angka kepuasan itu bukan cerminan keberhasilan kinerjanya selama hampir satu tahun menjabat namun bentuk kesetiaan warga mengawal kepemimpinannya.
"(Cerminan) Yang setia memberikan dukungan terhadap kegiatan pembangunan yang hampir berjalan satu tahun. Dan saya merasa bahwa belum berbuat apa-apa bagi warga Jabar. Saya merasa belum berbuat apa-apa," katanya, Senin (16/2/2026).