Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20250805-WA0032.jpg
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Intinya sih...

  • Kepuasan warga Jawa Barat terhadap kinerja Gubernur Dedi Mulyadi alias KDM di satu tahun memimpin Jabar mendapatkan respons positif di masyarakat.

  • 35,8 persen responden menyatakan sangat puas, 59,7 persen cukup puas dengan kinerja KDM.

  • Tingkat kepuasan publik terhadap Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan jomplang, kalah jauh dibandingkan KDM.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Kepuasan warga Jawa Barat terhadap kinerja Gubernur Dedi Mulyadi alias KDM di satu tahun memimpin Jabar mendapatkan respons positif di masyarakat. Meski begitu banyak catatan kinerja dan program yang masih perlu dimaksimalkan selem empat tahun mendatang.

Berdasarkan hasil survei Indikator Politik Indonesia pada 30 Januari 8 Februari 2026, menggunakan metode multistage random sampling terhadap 800 responden, dengan margin of error sebesar ±3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Tercatat 35,8 persen responden menyatakan sangat puas, 59,7 persen cukup puas. Jika dibandingkan dengan survei pada Mei 2025, tingkat kepuasan sangat puas saat itu berada di angka 41,1 persen dan cukup puas 53,6 persen.

1. KDM sudah lama melakukan kerja-kerja politik di Jabar

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Respon kurang puas tercatat 4,1 persen, sedangkan 1,3 persen responden menjawab tidak tahu atau tidak menjawab. pengamat dari Departemen Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran (Unpad) Firman Manan mengatakan, tingginya respons publik itu bukan lah sesuatu yang mengejutkan.

Sebab, menurutnya, kerja-kerja politik KDM sudah dilakukan sejak lama dan jauh sebelum menjadi Gubernur Jawa Barat saat ini. Dedi juga dinilainya sudah sangat paham peta politik Jabar.

"KDM politisi yang paham path akan ke mana dia. Dia sudah menjadi Anggota DPRD lanjut Bupati DPR dan dia juga sudah mau jadi gubernur pada saat 2007. Tapi itu gagal kan. Jadi sebelum Pilgub 2024 dia sudah melakukan konsolidasi dan kerja-kerja politik, sudah dilakukan secara lima tahun ke belakang," ujar Firma dikutip Selasa (17/2/2026).

2. Wajar tingkat kepuasan masyarakat tinggi

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Firman pun tidak heran jika tingkat kepuasan publik terhadap Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan jomplang, kalah jauh dibandingkan KDM. Adapun Erwan dalam survei ini hanya mendapat 49,7 persen cukup puas, sangat puas 5,6 persen dan tidak puas sama sekali 1,8 persen.

Selain ke Wakil Gubernur, hal itu juga tidak berdampak kepada Pemprov Jawa Barat yang mana para pegawai di lingkungan Gedung Sate belum mampu sepenuhnya memahami keinginan dari KDM.

"Ini merupakan apa yang dia tanam. Tapi itu tidak terjadi ke Wakil Gubernur dan juga kinerja Pemprov. Apa yang jadi ide KDM belum sepenuhnya dipahami Pemprov Jabar," ucapnya.

3. Tagline di masyarakat Bapak Aing sangat kuat dan melekat

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Meski demikian, Firman mengkritik ada beberapa program dan janji kampanye yang belum maksimal selama satu tahun kepemimpinan KDM-Erwan Setiawan. Salah satunya soal perekonomian yang mana belum terlihat membuat adanya penurunan kemiskinan dan problematika lainnya.

Di balik semua itu, Firman menegaskan, ada salah satu yang membuat tingkat kepuasan gubernur meningkat dibandingkan dengan kinerja Erwan dan juga Pemprov Jabar yaitu tagline Bapak Aing yang kini banyak diucapkan oleh masyarakat.

"Saya lihat kekuatan dalam konteks leadership bagaimana warga Jabar melihat leadership dan itu lah yang diinginkan warga Jabar. Bahasa mudahnya kan Bapak Aing dan itu lah yang di ingkang warga Jabar dan itu terasosiasi," kata dia.

"Satu sisi mereka empati tapi pada kesempatan tertentu itu sangat tegas. Pendekatan sangat Egaliter dalam berhadapan dengan publik kebanyakan. Itu yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan," ujarnya.

KDM dalam memimpin Jawa Barat juga memiliki pola penyelesaian masalah yang sangat menyentuh masyarakat. Firman mengatakan, Dedi lebih banyak menginginkan agar warga kecil tidak mendapatkan dampak langsung dari sesuatu persoalan di lingkungan sekitarnya.

"Kalau ada kebijakan yang ada dampak negatif itu dia langsung atasi jangan sampe ke masyarakat kecil itu selalu polanya. Dia seperti ke puncak Bogor terus melihat wilayah bangunan liar. Kemudian berikan kompensasi ke masyarakat kecil itu berdampak jadi sebisa mungkin tidak berdampak ke publik kebanyakan," tuturnya.

4. Ada gap antara kepuasan kepada gubernur dan wakilnya apakah itu wajar?

(IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Sebelumnya, Dosen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)/Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan, mengatakan, gubernur populer memang bisa berdampak kepada program. Namun, ada beberapa yang dirasakannya masih ada kekurangan.

"Dengan hasil seperti ini kinerja provinsi Jabar dari satu tahun terkahir itu sangat baik dan beberapa ada nilai C dan D tapi lulus cuma belum Cumlaude apalagi Suma Cumlaude," ujar Djaya di Bandung, Senin (16/2/2026).

Djaya menilai secara keseluruhan hasil survei ini sangat positif dan angkanya tinggi, namun ada beberapa hal yang dirasakannya cukup mencolok yaitu tingkat kepuasan publik terhadap kinerja gubernur dan wakil gubernur terasa jomplang.

"Saya ada beberapa catatan. Approval rating tinggi terhadap gubernur. Itu dua kali lipat dari wakil gubernur, ini masalah apa bukan. Kalau publik Ingin keduanya kerja kang Erwan perlu mendongkrak elektabilitasnya," katanya.

Dalam hasil survei tersebut, Djaya merasa ada peran-peran yang belum dimaksimalkan atau belum diberikan terhadap wakil gubernur, sehingga tingkat kepuasannya mengalami perbedaan yang signifikan.

"Dalam konteks ini apakah diutamakan kepuasan terhadap wakil gubernur atau menjaga keutuhan. Saya menduga kalau keduanya solid dalam memerintah Kang Erwan harus kasih peran lain," kata dia.

"Bisa jadi kalau dia turun popularitas KDM merasa tersaingi. Di satu sisi ada one man show itu disengaja atau tidak disengaja," katanya.

Menanggapi semua itu, Dedi Mulyadi menilai angka kepuasan itu bukan cerminan keberhasilan kinerjanya selama hampir satu tahun menjabat namun bentuk kesetiaan warga mengawal kepemimpinannya.

"(Cerminan) Yang setia memberikan dukungan terhadap kegiatan pembangunan yang hampir berjalan satu tahun. Dan saya merasa bahwa belum berbuat apa-apa bagi warga Jabar. Saya merasa belum berbuat apa-apa," katanya, Senin (16/2/2026).

Editorial Team