Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2026-01-30 at 6.57.39 AM.jpeg
pembukaan Indonesia Semiconductor Summit (ISS) 2026 di Kampus ITB, Kamis (29/1/2026). IDN Times/Debbie Sutrisno

Intinya sih...

  • Kemenperin fokus pada pengembangan desain chip dan talenta nasional sebagai langkah awal membangun industri semikonduktor.

  • Indonesia perlu mengurangi ketergantungan impor semikonduktor dengan penguatan ekosistem dalam negeri, termasuk desain chip dan kekayaan intelektual.

  • 16 perguruan tinggi di Indonesia siap kembangkan teknologi semikonduktor melalui ICDeC untuk memperkuat kapasitas nasional di bidang chip design dan pengembangan talenta.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat fondasi pengembangan industri semikonduktor nasional sebagai bagian dari strategi jangka panjang peningkatan daya saing industri manufaktur Indonesia. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan ekosistem semikonduktor yang terintegrasi, dengan menempatkan pengembangan desain chip dan sumber daya manusia (SDM) sebagai fokus utama pada tahap awal.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menuturkan, industri semikonduktor memiliki peran strategis sebagai penopang bagi berbagai sektor prioritas, mulai dari elektronika, otomotif, telekomunikasi, energi, hingga transformasi digital.

"Kebutuhan nasional terhadap komponen semikonduktor terus meningkat seiring dengan tingginya aktivitas industri hilir," kata dia pada pembukaan Indonesia Semiconductor Summit (ISS) 2026 di Kampus ITB, Kamis (29/1/2026).

1. Fokus pada pengembangan desain chip dan talenta nasional

Manufaktur Semikonduktor. (ShutterStock/Glitterstudio)

Kemenperin menempatkan pengembangan desain chip dan talenta sebagai langkah awal yang realistis dalam membangun industri semikonduktor nasional. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pengembangan industri ini tidak bisa dilakukan secara instan.

“Pengembangan industri semikonduktor nasional tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan ditempuh melalui pendekatan bertahap dan realistis dengan menempatkan pengembangan talenta dan desain chip sebagai langkah utama pada tahap awal,” ujar Agus.

Langkah ini dinilai krusial karena semikonduktor menjadi penopang berbagai sektor prioritas, mulai dari elektronik, otomotif, telekomunikasi, hingga transformasi digital. Kebutuhan nasional pun terus meningkat, seiring tingginya produksi ponsel, laptop, hingga kendaraan listrik dan hybrid yang membutuhkan kandungan semikonduktor lebih besar.

2. Mengurangi ketergantungan impor semikonduktor

ilustrasi ukuran semikonduktor (pexels.com/Sergei Starostin)

Meski Indonesia telah memiliki fasilitas perakitan dan pengujian yang terintegrasi dalam Global Value Chain, ketergantungan impor masih menjadi tantangan utama. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor semikonduktor Indonesia meningkat hampir dua kali lipat, dari USD 2,33 miliar pada 2020 menjadi USD 4,87 miliar pada periode Januari–November 2025.

Menurutnya, kondisi ini menjadi sinyal penting bagi ketahanan industri nasional. Ketergantungan terhadap impor perlu direspons dengan penguatan ekosistem dalam negeri, khususnya pada aspek desain chip dan pengembangan kekayaan intelektual.

“Tingginya ketergantungan impor semikonduktor menjadi sinyal penting bagi ketahanan industri nasional. Kondisi ini perlu direspons melalui penguatan ekosistem dalam negeri,” tegasnya.

Sebagai strategi jangka panjang, Kemenperin telah menyusun roadmap pengembangan industri semikonduktor nasional dengan visi menjadikan Indonesia berperan aktif dalam rantai pasok global. Roadmap ini mencakup empat pilar utama, yakni material, desain, fabrikasi (front end), serta assembly, testing, and packaging (back end).

Selain itu, pembentukan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem desain semikonduktor nasional. Inisiatif ini melibatkan Kemenperin, PT Hartono Istana Teknologi (Polytron), serta pakar desain chip dari 13 universitas, dengan dukungan 16 perguruan tinggi mitra.

ISS 2026 pun menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi global, alih teknologi, serta peningkatan kapasitas industri semikonduktor nasional, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga bagian dari rantai nilai global.

3. Ada 16 perguruan tinggu siap kembangkan teknologi semikonduktor

Gedung Institut Teknologi Bandung (itb.ac.id)

Sementara itu, Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., dalam sambutannya menegaskan komitmen ITB dalam pengembangan teknologi semikonduktor nasional dan penguatan kolaborasi lintas sektor. Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan forum strategis dan menjadi komitmen bersama menempatkan industri semikonduktor sebagai penggerak ekonomi baru Indonesia.

ITB sendiri telah menjajaki dan mengembangkan teknologi semikonduktor sejak tahun 1986, yang ditandai dengan berdirinya Pusat Antar Universitas (PAU). Inisiatif tersebut menjadi pondasi penting bagi pengembangan keilmuan dan sumber daya manusia di bidang mikroelektronika nasional.

“Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan, ITB telah berinvestasi dalam fasilitas clean room untuk mendukung pengembangan berbagai perangkat dan sistem mikroelektronika, baik untuk keperluan riset, pendidikan, maupun kolaborasi dengan industri,” tuturnya.

Dalam konteks semikonduktor, ITB secara aktif mendukung pembentukan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDeC), sebuah inisiatif kolaboratif yang melibatkan 16 perguruan tinggi di Indonesia dan 7 industri, dengan dukungan dari berbagai kementerian dan lembaga negara. ICDeC diharapkan dapat menjadi wadah strategis untuk memperkuat kapasitas nasional di bidang chip design, pengembangan talenta, serta akselerasi riset menuju produk dan industri.

Editorial Team