Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kemendiktisaintek Siap Bantu Pemkot Bandung Atasi Masalah Sampah
Kemendiktisaintek Siap Bantu Pemkot Bandung Atasi Masalah Timbunan Sampah. Dok Diskominfo Bandung
  • Kemendiktisaintek siap bantu Pemkot Bandung atasi masalah sampah dengan melibatkan kampus dan mahasiswa melalui program KKN tematik serta pemetaan infrastruktur pengolahan sampah.
  • Bandung ditetapkan sebagai proyek percontohan nasional pengelolaan sampah kolaboratif, melibatkan pemerintah pusat, daerah, kampus, hingga TNI-Polri untuk pengawasan dan penegakan aturan di sektor horeka dan pasar.
  • Pemkot Bandung meluncurkan program Gaslah dengan 1.597 petugas RW untuk memilah dan mengolah sampah organik, menargetkan penurunan timbulan sampah warga di bawah 0,4 kilogram per hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Pemerintah pusat mulai serius “turun gunung” membantu penanganan sampah di Kota Bandung. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyatakan siap mengerahkan kampus dan mahasiswa untuk ikut menangani persoalan sampah di Kota Kembang.

Hal itu disampaikannya saat berkunjung ke Balai Kota Bandung, Rabu (25/2/2026). Menurutnya, Bandung punya modal besar berupa jejaring perguruan tinggi dan ribuan mahasiswa yang bisa dilibatkan secara langsung.

1. Mahasiswa bisa turun lewat KKN tematik sampah

Pengelolaan sampah di Kota Bandung. Dok Diskominfo

Brian mengatakan, keterlibatan kampus tak hanya sebatas wacana. Perguruan tinggi akan dilibatkan dalam pemetaan kebutuhan infrastruktur pengolahan sampah, mulai dari komposting, maggotisasi, biodigester, hingga RDF (refuse derived fuel). Mahasiswa pun direncanakan diterjunkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik.

“Kampus memetakan kebutuhan komposting, maggotisasi, biodigester, RDF sampai rantai pasoknya. Setelah itu kita usulkan ke pemerintah pusat, jadi tidak membebani APBD,” ujar Brian.

Ia menilai pendekatan kolaboratif ini jauh lebih efisien dibanding membangun fasilitas waste to energy berskala besar yang biayanya bisa mencapai Rp2–3 triliun per unit. Bahkan, jika model ini berhasil di Bandung, skema serupa akan diperluas ke kota-kota lain di Indonesia tahun depan.

2. Bandung jadi proyek percontohan nasional

Kemendiktisaintek Siap Bantu Pemkot Bandung Atasi Masalah Timbunan Sampah. Dok Diskominfo Bandung

Bandung termasuk satu dari lima daerah yang ditetapkan pemerintah pusat sebagai pilot project pengelolaan sampah berbasis kolaborasi kampus dan pemerintah daerah. Empat daerah lainnya yakni Bogor, Tangerang, Purwokerto, dan Yogyakarta.

Brian menegaskan program ini akan melibatkan banyak pihak, mulai dari kampus, pemerintah pusat, Pemkot Bandung, hingga unsur TNI-Polri untuk pengawasan, khususnya di sektor hotel, restoran, kafe (horeka), dan pasar. Langkah penegakan hukum juga disiapkan, disertai insentif bagi pelaku usaha yang patuh terhadap aturan pengelolaan sampah.

“Kita jadikan Bandung panggung percontohan nasional. Tahun ini kita keroyok bersama,” katanya.

3. Timbulan sampah 1.500 ton per hari, Gaslah jadi ujung tombak

Peresmian petugas pemilah dan pengolah sampah (GASLAH) di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memaparkan, timbulan sampah di Kota Bandung saat ini mencapai 1.507,85 ton per hari. Sekitar 60 persen di antaranya berasal dari rumah tangga, didominasi sisa makanan dan daun.

Namun, berdasarkan evaluasi Kementerian Lingkungan Hidup, sampah yang benar-benar terkelola—dipilah, diolah, dan dimanfaatkan—baru sekitar 21,63 persen. Sisanya masih berakhir di TPA atau tercecer di lingkungan.

“Mindset yang harus kita ubah adalah ‘saya sudah bayar, sampah harus hilang’. Itu keliru. Sampah bukan soal hilang, tapi harus dikelola,” ujar Farhan.

Sebagai langkah konkret dari hulu, Pemkot Bandung meluncurkan program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah). Saat ini sudah direkrut 1.597 petugas atau satu orang per RW untuk mengedukasi warga sekaligus mengangkut sampah organik.

Setiap petugas ditargetkan mengumpulkan minimal 25 kilogram sampah organik per hari. Program ini ditopang anggaran sekitar Rp24 miliar per tahun dan dipantau lewat dashboard digital real-time.

Farhan menegaskan, kunci utama ada pada perubahan perilaku warga. Saat ini rata-rata warga Bandung menghasilkan 0,58 kilogram sampah per hari, dan ditargetkan turun di bawah 0,4 kilogram.

“Kalau kesadaran tidak dibangun, teknologi apa pun nanti ambyar,” katanya.

Editorial Team