Peresmian petugas pemilah dan pengolah sampah (GASLAH) di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memaparkan, timbulan sampah di Kota Bandung saat ini mencapai 1.507,85 ton per hari. Sekitar 60 persen di antaranya berasal dari rumah tangga, didominasi sisa makanan dan daun.
Namun, berdasarkan evaluasi Kementerian Lingkungan Hidup, sampah yang benar-benar terkelola—dipilah, diolah, dan dimanfaatkan—baru sekitar 21,63 persen. Sisanya masih berakhir di TPA atau tercecer di lingkungan.
“Mindset yang harus kita ubah adalah ‘saya sudah bayar, sampah harus hilang’. Itu keliru. Sampah bukan soal hilang, tapi harus dikelola,” ujar Farhan.
Sebagai langkah konkret dari hulu, Pemkot Bandung meluncurkan program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah). Saat ini sudah direkrut 1.597 petugas atau satu orang per RW untuk mengedukasi warga sekaligus mengangkut sampah organik.
Setiap petugas ditargetkan mengumpulkan minimal 25 kilogram sampah organik per hari. Program ini ditopang anggaran sekitar Rp24 miliar per tahun dan dipantau lewat dashboard digital real-time.
Farhan menegaskan, kunci utama ada pada perubahan perilaku warga. Saat ini rata-rata warga Bandung menghasilkan 0,58 kilogram sampah per hari, dan ditargetkan turun di bawah 0,4 kilogram.
“Kalau kesadaran tidak dibangun, teknologi apa pun nanti ambyar,” katanya.