Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kemarau Buat Petani Indramayu Boncos, 10.000 Lebih Hektare Gagal Panen
ilustrasi kekeringan (pexels.com/jonathan)
  • Produktivitas gabah di sejumlah sawah Indramayu mencapai 7-9 ton per hektare, tetapi panen tidak merata karena puncak musim panen telah terlewati.

  • Kekeringan menyebabkan 10.670 hektare padi puso di Kroya, Gabuswetan, Terisi, Patrol, dan Balongan; mayoritas tanaman mati saat berusia sekitar 30 hari.

  • KTNA menyoroti pasokan dan distribusi air dari Waduk Jatiluhur serta Bendung Cipanas yang belum optimal, sehingga biaya pengolahan, pembibitan, dan pemupukan petani terancam tidak kembali.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kemarau membuat banyak sawah di Indramayu kekurangan air. Sekitar 10.670 hektare padi mati sebelum bisa dipanen. Petani di Kroya, Gabuswetan, Terisi, Patrol, dan Balongan sudah keluar uang untuk menanam dan memberi pupuk. Pak Sutatang bilang ada sawah lain yang masih panen banyak, tetapi air dari Bendung Cipanas belum lancar sampai ke semua sawah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah dampak kemarau yang berat, sejumlah areal persawahan Indramayu masih menunjukkan kapasitas produksi gabah yang kuat, dengan rata-rata minimal 7 ton per hektare dan mencapai 9 ton di beberapa lokasi. Sorotan KTNA terhadap jaringan air Bendung Cipanas juga memperjelas titik kendala yang perlu dibenahi agar pasokan air lebih menjangkau sawah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Indramayu, IDN Times- Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu menyebutkan, produktivitas gabah di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat mencapai 9 ton per hektare.

Namun, di tengah capaian tersebut, kekeringan justru menyebabkan sekitar 10.670 hektare tanaman padi mengalami puso akibat keterbatasan pasokan air.

Ketua KTNA Kabupaten Indramayu Sutatang mengatakan, puso terjadi di lima kecamatan, yakni Kroya, Gabuswetan, Terisi, Patrol, dan Balongan. Sebagian besar tanaman yang gagal panen baru berusia sekitar 30 hari setelah tanam.

"Sebagian petani masih dapat memanen gabah dengan produktivitas tinggi, sedangkan tanaman di wilayah terdampak kekurangan air mati sebelum menghasilkan panen," kata Sutatang, Jumat (16/10/2026).

1. Produktivitas tinggi tak merata

ilustrasi kekeringan (pexels.com/Rob)

Sutatang mengatakan, hasil panen musim ini tergolong cukup tinggi di sejumlah areal persawahan. Produktivitas gabah rata-rata mencapai minimal 7 ton per hektare, bahkan menyentuh 9 ton per hektare di beberapa lokasi.

Namun, panen tidak berlangsung merata di seluruh wilayah. Menurut dia, aktivitas panen kini hanya ditemukan di sejumlah titik karena puncak panen musim ini telah terlewati.

“Masih ada yang panen tapi spot-spot,” tutur Sutatang.

Di wilayah yang mengalami puso, tanaman padi tidak sempat mencapai masa panen. Padahal, petani telah melakukan pengolahan lahan, pembibitan, dan pemupukan pertama sebelum tanaman mengering.

2. Bendung Cipanas dan distribusi air

ilustrasi kekeringan (magnific.com/jcomp)

Persoalan pengairan menjadi salah satu kendala yang disoroti KTNA Indramayu. Sutatang menyebut lahan terdampak mengandalkan pasokan air dari Waduk Jatiluhur dan Bendung Cipanas.

Akan tetapi, infrastruktur penyaluran air dari Bendung Cipanas menuju areal persawahan belum optimal. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menghambat pemenuhan kebutuhan air di lahan pertanian.

“Kalau Waduk Cipanas sudah normal, insyaallah ke depannya aman. Salah satu faktor kendalanya adalah infrastruktur penyaluran air yang belum optimal,” kata Sutatang.

Ia menilai, optimalisasi jaringan distribusi diperlukan agar pasokan air dapat menjangkau sawah yang membutuhkan pengairan. Ketersediaan air menjadi penting terutama pada awal pertumbuhan tanaman, ketika padi belum memasuki fase pembentukan hasil panen.

3. Risiko produksi pada musim kemarau

Ilustrasi kekeringan (pexels.com/Khushali)

Berdasarkan data KTNA Kabupaten Indramayu, luas tanaman padi yang mengalami puso mencapai sekitar 10.670 hektare. Sebagian besar tanaman tersebut baru berumur 30 hari setelah tanam ketika kekeringan menyebabkan tanaman mati.

Sutatang mengatakan, petani telah mengeluarkan biaya untuk pengolahan tanah, pembibitan, hingga pemupukan pertama. Kegagalan tanaman pada fase awal membuat pengeluaran tersebut berisiko tidak kembali melalui penjualan gabah.

“Padahal tanaman padi yang puso sudah mengalami pemupukan pertama. Petani sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari pengolahan tanah, pembibitan, hingga pemupukan,” ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article