Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
_AKE9037.jpg
Dok IDN Times

Intinya sih...

  • Terlambat terdeteksi, angka kematian kanker paru tetap tinggiPara ahli menegaskan, tingginya mortalitas kanker paru di Indonesia sangat berkaitan dengan keterlambatan diagnosis. Banyak pasien baru datang berobat saat penyakit sudah berada di stadium lanjut, sehingga peluang hidup menjadi rendah.

  • Rokok jadi faktor risiko utamaMerokok disebut sebagai faktor risiko terbesar kanker paru. Sebagian besar kasus kanker paru berkaitan langsung dengan paparan rokok, baik pada perokok aktif maupun perokok pasif.

  • Forum POTI dorong implementasi ilmu ke layanan nyataPOTI menyelenggarakan POTI 2026 2nd Lung Cancer Forum bertema

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times — Kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker di Indonesia. Tingginya angka kematian ini bukan semata karena penyakitnya agresif, tetapi juga karena sebagian besar pasien baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut, ketika pilihan pengobatan semakin terbatas.

Kondisi tersebut kembali disorot dalam POTI 2026 2nd Lung Cancer Forum yang digelar di Bandung. Para ahli menilai, negara perlu hadir lebih kuat melalui kebijakan skrining dini dan program berhenti merokok yang terintegrasi.

1. Terlambat terdeteksi, angka kematian kanker paru tetap tinggi

Dok IDN Times

Para ahli menegaskan, tingginya mortalitas kanker paru di Indonesia sangat berkaitan dengan keterlambatan diagnosis. Banyak pasien baru datang berobat saat penyakit sudah berada di stadium lanjut, sehingga peluang hidup menjadi rendah.

Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa skrining kanker paru, khususnya pada kelompok berisiko tinggi, mampu mendeteksi penyakit pada tahap awal. Pada fase ini, pengobatan masih lebih efektif dan angka kesintasan pasien jauh lebih baik.

Namun hingga kini, skrining kanker paru belum terintegrasi secara optimal dalam program kesehatan nasional, sehingga deteksi dini masih menjadi tantangan besar.

2. Rokok jadi daktor risiko utama

ilustrasi merokok dan risiko kanker paru-paru (aerrepici.org)

Merokok disebut sebagai faktor risiko terbesar kanker paru. Sebagian besar kasus kanker paru berkaitan langsung dengan paparan rokok, baik pada perokok aktif maupun perokok pasif.

Karena itu, upaya menurunkan angka kematian akibat kanker paru dinilai tidak bisa hanya bergantung pada pengobatan. Program skrining harus berjalan beriringan dengan penguatan program berhenti merokok serta kebijakan pengendalian tembakau yang tegas dan berkelanjutan.

Ketua Perkumpulan Onkologi Toraks Indonesia (POTI), dr. Andika Chandra Putra, Ph.D, Sp.P(K)-Onk, MARS, menegaskan perlunya kebijakan nasional yang lebih kuat.

“Mortalitas kanker paru di Indonesia masih tinggi karena sebagian besar pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. Diperlukan kebijakan nasional yang kuat untuk skrining kanker paru pada kelompok berisiko tinggi serta program berhenti merokok yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujarnya.

3. Forum POTI dorong implementasi ilmu ke layanan nyata

ilustrasi pemeriksaan kanker paru-paru (freepik.com/freepik)

Dalam rangka mendorong perubahan tersebut, POTI menyelenggarakan POTI 2026 2nd Lung Cancer Forum bertema “The Art & Science of Thoracic Oncology: Practical Implementation for Daily Practice” yang berlangsung pada 16–18 Januari 2026 di Hotel Aryaduta Bandung.

Forum ini menjadi ruang diskusi strategis bagi tenaga kesehatan, akademisi, dan pemangku kebijakan untuk membahas perkembangan terbaru skrining, diagnosis, serta tatalaksana kanker paru.

Ketua Panitia POTI 2026, dr. Yun Amril, Sp.P(K) Onk.T., MARS, menekankan pentingnya menjembatani ilmu dengan praktik klinis.

“Forum ini diharapkan dapat menjembatani ilmu dan praktik klinis, sehingga deteksi dini dan tatalaksana kanker paru dapat diterapkan secara nyata dalam pelayanan kesehatan sehari-hari,” jelasnya.

Melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat, para ahli berharap skrining dini dan pengendalian rokok dapat diperkuat untuk menekan angka kematian kanker paru secara signifikan.

Editorial Team