Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kalau Tersesat saat Naik Gunung Jangan Panik! Lakukan Hal Ini
instagram.com/twindyrarasati

Bandung, IDN Times - Sebentar lagi tahun 2019 akan segera berakhir dan berganti dengan 2020. Pada saat pergantian tahun banyak kegiatan yang dilakukan masyarakat, salah satunya dengan naik gunung dan merayakannya di puncak.

Namun, di musim penghujan ini masyarakat yang akan mendaki gunung dan merayakan pergantian tahun di atas gunung harus tetap waspada. Kondisi musim yang sudah masuk penghujan cukup berbahaya bagi kalian yang harus melintasi alam di pegunungan. Bahkan tak sedikit pendaki yang kemudian tersesat karena kondisi alam yang tidak memungkinkan saat musim hujan tiba.

Kepala kantor SAR Bandung Deden Ridwansyah mengatakan, ada empat hal yang harus dilakukan pendaki ketika mereka tersesat di hutan pegunungan baik sendiri maupun berkelompok. "Jadi ada istilahnya itu STOP. Seat (duduk), Think (berpikir), observasi, dan jangan panik," ujar Deden ditemui di kantornya, Rabu (18/12).

1. Yang paling utama adalah kita jangan panik

Sumber Foto Dokumentasi Pribadi

Deden menuturkan, hal yang paling utama untuk para pendaki ketika mereka tersesat adalah jangan panik. Sebab ketika mereka panik, cara berpikir akan berbeda dan inginnya segera mencari jalan. Padahal bisa jadi jalan yang mereka ingat atau langsung dituju tidak tepat.

"Kalau sudah tenang kita bisa melakukan observasi dan melihat lingkungan sekitar. Untuk kemudian baru melangkah," papar Deden.

Untuk mencari jalan juga kita harus mencari memikirkan secara matang. Jangan sampai apa yang dilakukan justru membuat kita semakin tersesat dan jauh dari jalan yang tepat.

2. Jangan sengaja berjalan melintasi jalan yang jarang dilalui

superadventure.co.id

Para pendaki, lanjut Deden, jangan mencoba mendaki ke puncak gunung melewati akses jalan yang tidak biasa dilalui. Terlebih ketika pendaki berjalan sendiri atau dalam kelompok kecil.

Kalau memang mau melakukan ekspedisi dan membuka jalur baru maka mereka yang mendaki harus memiliki keterampilan khusus. "Juga jangan kupa tetap berkoordinasi dengan petugas di jalur pendakian gunung tersebut, misalnya Perhutani atau pihak daerah setempat," kata Deden.

Pendaki juga sebisa mungkin memberi tahu kepada petugas titik awal dan titik akhir pendakian yang dijalankan. Dengan demikian jika ada sesuatu yang tidak diinginkan petugas bisa lebih mudah mencari para pendaki.

3. Mendaki di Gunung Cimerai saat ini dikurangi kuotanya

IDN Times/Wildan Ibnu

Pasca kebakaran hutan dan lahan, kawasan Gunung Ciremai masih ditutup untuk aktivitas pendakian. Saat ini, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) sedang membahas evaluasi status Gunung Ciremai menjelang libur pergantian tahun.

Dari hasil evaluasi tim internal dan eksternal, jalur pendakian masih belum bisa dibuka atau rawan untuk pendakian. Kendati demikian, BTNGC memastikan akan membatasi kuota pendakian saat pergantian tahun baru 2020 mendatang. Pembatasan kuota jumlah pendaki dilakukan sebagai upaya pemulihan hutan dan mengurangi risiko ancaman keselamatan.

Humas BTNGC, Agus Yunantara mengatakan, kondisi jalur pendakian Gunung Ciremai masih rawan dilalui. Sebab, apabila terjadi hujan maka air dari hulu masih membawa abu sisa-sisa kebakaran kemarin. Hal itu diperparah dengan vegetasi yang belum tumbuh pasca kekeringan di musim kemarau lalu.

"Seperti di jalur Linggarjati, jika hujan air dari atas masih membawa abu bekas kebakaran. Kami berharap hujan turun terus, agar rumput dan edelweiss bisa tumbuh baik, serta kondisi air semakin bersih," ujarnya saat ditemui di kantor BTNGC.

4. Kawasan ini sedang dalam pemulihan vegetasi dan mencegah kerusakan ekosistem

Instagram.com/explorekuningan

Pembatasan kuota akan dilakukan di penghujung akhir tahun. Dalam sehari jumlah pendaki di Gunung Ciremai di empat jalur pendakian tidak boleh dari 1.600 orang. Dengan demikian, pembatasan kuota ini diharapkan dapat mencegah kerusakan ekosistem dan pemulihan vegetasi.

Keempat jalur pendakian itu adalah, jalur Palutungan (Kabupaten Kuningan), jalur Linggajati (Kabupaten Kuningan), jalur Linggasana (Kabupaten Kuningan), dan jalur Apuy (Kabupaten Majalengka).

Editorial Team