Bandung, IDN Times – Setiap pukul tiga dini hari, ketika sebagian besar anak seusianya masih terlelap, sementara Jeni Adilasari sudah terbiasa bangun lebih awal. Di rumah sederhana di Bojonegoro, ia membantu ibunya membungkus nasi untuk dijual, bahkan sebagian dibawa ke sekolah untuk ditawarkan kepada teman-temannya.
Hari-hari masa remaja Jeni tak pernah lepas dari perjuangan keluarga. Sepulang sekolah, rumah kerap sepi karena ibunya belum pulang.
Rasa penasaran membuat Jeni bertanya kepada tetangga, yang kemudian menjawab bahwa sang ibu sedang “sekolah”.
Di lingkungannya, istilah “sekolah” bukan merujuk ruang kelas formal. Warga menggunakan sebutan itu untuk Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM) nasabah PNM Mekaar, ruang belajar bersama bagi para ibu untuk memahami pengelolaan usaha, keuangan, dan perencanaan masa depan.
Dari sanalah Jeni mulai memahami bahwa ibunya tak sekadar berjualan, melainkan sedang berjuang membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga.
