Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
DSC06565.JPG
Jenama fesyen muslim Haadiya perkenalkan produk jelang Ramadan 2025. IDN Times/Istimewa

Intinya sih...

  • Haadiya Syari mengusung tema besar “In Return” untuk mengajak perempuan melihat modesty sebagai pilihan sadar, bukan keterpaksaan. Mereka ingin mengubah stigma bahwa busana syar’i identik dengan kuno.

  • Brand ini menolak konsep fast fashion dan menerapkan konsep keberlanjutan (sustainability) serta mindful living. Semua produk diarahkan agar punya masa pakai panjang dan mengurangi limbah acara.

  • Haadiya Syari berkolaborasi dengan desainer Adrie Basuki menggunakan batik Sadabhumi dalam koleksi kapsul perdananya. Mereka juga meluncurkan jenama lamanya, Aleiya, yang akan lebih sederhana dan menyasar generasi muda.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, industri fesyen pakaian muslim Indonesia kedatangan pemain baru. Jenama Haadiya Syari resmi diperkenalkan di Kota Bandung akhir pekan ini. Peluncurannya tak sekadar fashion show, tapi diawali kajian bertema “How to be Inspired by Faith, Rooted in Values”

Mengusu tema by Faith, Rooted in Values, jenama ini mencoba menghadirkan pakaian muslim yang bukan cuma enak dipakai, tapi juga punya pesan spiritual. Founder Haadiya Syari, Alia Karenina, mengaku jenama ini lahir dari pengalaman pribadinya mencari busana syar’i yang nyaman sekaligus tetap berkelas.

“Saya ingin sama-sama belajar dengan muslimah lain agar tetap istiqomah berpakaian syar’i sesuai syariat,” ujar Alia.

Menariknya, konsep rilis produk pun dibuat sederhana dan ramah lingkungan. Dekorasi hanya memakai kain tanpa bunga segar, supaya tidak menimbulkan limbah.

“Kainnya nanti bisa dipakai lagi jadi tas atau sarung bantal. Saya tidak mau sesuatu yang hidup dipotong hanya untuk dekorasi,” jelasnya

1. Bukan sekadar tren, tapi soal makna

Jenama fesyen muslim Haadiya perkenalkan produk jelang Ramadan 2025. IDN Times/Istimewa

Haadiya Syari membawa tema besar “In Return”, yang ingin mengajak perempuan melihat modesty sebagai pilihan sadar, bukan keterpaksaan. Menurut Alia, ketika seseorang memilih berpakaian syar’i, justru ada hal yang didapat.

Ia menyebut perempuan tidak kehilangan gaya atau kepercayaan diri, tapi justru memperoleh ketenangan batin.

Brand ini juga ingin mengubah stigma bahwa busana syar’i identik dengan kuno. “Syar’i bukan sesuatu yang tertinggal, tapi pilihan kuat yang berlandaskan ketakwaan,” katanya.

2. Fashion yang lebih ramah lingkungan

Jenama fesyen muslim Haadiya perkenalkan produk jelang Ramadan 2025. IDN Times/Istimewa

Hal lain yang cukup ditekankan Haadiya adalah konsep keberlanjutan (sustainability). Brand ini menolak konsep fast fashion yang cepat tren lalu cepat hilang.

Mulai dari konsep acara, pemilihan dekorasi, hingga filosofi produk, semuanya diarahkan agar punya masa pakai panjang. Mereka juga mengedepankan mindful living—termasuk mengurangi limbah acara.

Bahkan filosofi jenama dikaitkan dengan menjaga “titipan Allah”, sehingga pakaian dibuat untuk dipakai lama, bukan sekali musim.

3. Kolaborasi produk lama dan baru

Jenama fesyen muslim Haadiya perkenalkan produk jelang Ramadan 2025. IDN Times/Istimewa

Dalam koleksi kapsul perdananya, Haadiya Syari berkolaborasi dengan desainer Adrie Basuki menggunakan batik Sadabhumi. Motifnya terinspirasi dari perjuangan para pejuang kanker, yang dekat dengan pengalaman personal sang pencetus.

“Saya harap makin banyak brand mau berkolaborasi dengan para pejuang hebat yang sedang diuji,” kata Alia.

Di acara yang sama, Alia juga meluncurkan jenama lamanya, Aleiya yang rilis pertama pada 2022. Versi barunya akan lebih sederhana dan menyasar generasi muda yang baru mulai berhijrah ke modest fashion. Produk Haadiya Syari dan Aleiya mulai bisa dibeli pada 18 Februari 2026 melalui laman inreturn.co.

Editorial Team