Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jalan Panjang Bunga Krisan, Pemanis di Hari Kasih Sayang (Debbie Sutrisno/IDN Times)
Jalan Panjang Bunga Krisan, Pemanis di Hari Kasih Sayang (Debbie Sutrisno/IDN Times)

Intinya sih...

  • Pemanis di Hari Kasih Sayang: Bunga krisan menjadi alternatif pemberian bunga selain mawar atau melati saat hari kasih sayang tiba.

  • Budidaya Bunga Krisan: Di Kabupaten Bandung Barat, terdapat pusat budidaya bunga krisan yang tersebar di sejumlah desa.

  • Produksi dan Permintaan: Produksi bunga krisan menempati posisi tertinggi setiap tahunnya, namun bisnis ini tetap menjanjikan meski ada persaingan dari bunga plastik.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Hari kasih sayang atau kerap disebut juga hari Valentine memang identik dengan pemberian bunga kepada orang tercinta. Bunga mawar atau melati menjadi paling dominan untuk diberikan saat hari kasih sayang tiba. Namun, kisah dari warna-warni bunga krisan atau seruni tak luput dari setiap buket bunga tersebut.

Di Kabupaten Bandung Barat, khususnya daerah Cihideung, menjadi salah satu pusat budidaya bunga krisan. Tersebar di sejumlah desa, pekan lalu para petani bunga sibuk mempersiapkan untuk menyambut hari kesayangan tersebut dengan memanen bunga.

"Sedang kami panen sekarang karena memang sudah waktunya juga panen. Tapi kalau memang ada hari khusus seperti nanti itu (valentine) bisanya pesanan naik," ujar Enok Kartini, salah satu petani bunga di Desa Karyawangi saat berbincang dengan IDN Times, Kamis (22/1/2026).

Di lahan yang mencapai 500 tumbak ini dia menanam berbagai jenis bunga berwarna-warni; ada putih, kuning, oranye, merah muda, hingga ungu. Bunga-bunga tersebut ditanam dalam satu hamparan agar lebih mudah ketika dipanen.

Enok yang sudah berusia 60 tahun menceritakan bahwa berkebun bunga seperti ini sudah dilakukannya sejak kecil. Bahkan sang ayah pun dulunya memiliki perkebunan bunga yang cukup luas. Bisnis ini juga yang sekarang coba dia ajarkan kepada anak laki-lakinya yang sering turun langsung untuk melihat kondisi perkembangan perkebunan bunga.

Menurutnya, menjalani usaha bunga gampang-gampang susah. Dari mulai menanamkan bibit hingga memanen sebenarnya tidak ada kesulitan berat. Yang jadi soal adalah cuaca yang kerap berdampak pada hama di bunga. Hama yang seperti kutu kecil membuat bunga lebih cepat layu atau warnanya tidak begitu cerah.

"Apalagi musim hujan begini ada saja hama yang muncul mau ke daun atau ke bunganya. Ini yang masih sulit dihilangkan," ungkap Enok.

Selain untuk perayaan hari kasih sayang, lanjut Enok, bunga krisan banyak dipakai untuk kegiatan pernikahan atau pemberian karangan bunga berbagai acara. Sayangnya, bunga krisan seperti ini sekarang sudah banyak saingan, bukan dari petani bunga juga melainkan dari bunga plastik (artificial) yang sering dipakai.

1. Produksi bunga krisan menempati posisi tertinggi setiap tahunnya

Jalan Panjang Bunga Krisan, Pemanis di Hari Kasih Sayang (Debbie Sutrisno/IDN Times)

Saat ini untuk menghabiskan satu kali masa panen, Enok memanennya secara perlahan dari hari ke hari. Berbeda dengan beberapa tahun lalu di mana dia dan para pekerja langsung memanennya serentak, sehingga untuk penanaman bunga pun bisa dilakukan kembali secara serempak. Sedangkan sekarang dipanen per hari karena pemintaannya pun berkurang.

Dalam satu kali panen, Enok bisa menghasilkan ribuan ikat bunga krisan. Setiap sepuluh ikat bunga krisan dijualnya kepada bandar sekitar Rp12 ribu hingga Rp13 ribu. Bunga ini ada yang dikirim ke Kota Bandung, Jakarta, Lampung, bahkan sampai ke Medan. Pembelian di luar kota masih ada, kata dia, walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak.

Meski pembelian bunga krisan belum meningkat signifikan, Enok tetap akan berwirausaha di sektor ini yang sudah menjadi bisnis keluarga.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Bandung Barat, produksi bunga krisan menempati posisi tertinggi setiap tahunnya. Pada 2018 jumlah produksi krisan mencapai 44,7 juta tangkai, kemudian naik pada 2019 menjadi 48,7 juta tangkai. Karena pandemik produksi bunga sempat alami penurunan di mana pada 2020 (19,6 juta), 2021 (8,2 juta), 2022 (7,38 juta), 2023 (44,3 juta), 2024 (43,1 juta)

Tekad untuk bertahan di bisnis ini juga dilakukan oleh Tatang Rustandi (40 tahun). Menjadi petani bunga bukan hal baru bagi pria yang berkecimpung selama 20 tahun tersebut. Sempat menjadi petani sayuran, bisnis bunga nyatanya lebih menarik karena harganya yang stabil dibandingkan sayur.

Naik turun harga sayur yang terjadi setiap hari membuatnya memilih bunga yang harganya lebih bisa ditebak. Ketika harga sayur bisa turun dari Rp10 ribu menjadi hanya Rp1 ribu per kilogram (kg), harga bunga turunnya hanya Rp1-2 ribu saja. Di sisi permintaan bunga pun masih tetap ada walaupun naik turun tetap terjadi.

"Permintaan banyak ke Sumatera dan Jakarta. Kalau di Bandung pasti ada saja yang minta," kata Tatang.

Meski bisnis ini cukup menjanjikan bagi para petaninya, tapi ada jalan panjang yang harus ditempuh sebelum bunga bisa hadiah untuk seseorang. Tatang mengatakan, dia dan petani lain harus membuat benih bunga lebih dulu.

Benih ini diambil dari batang bunga yang kemudian dipotong kecil dan dimasukkan dalam wadah penyemaian. Batang tersebut sebelumnya dimasukkan pada cairan khusus agar bisa menumbuhkan akar.

Benih ini pun harus disinari setiap malam selama tujuh hari agar tetap hangat dan tidak muncul bunga lebih dulu. Ketika dari batang benih tersebut muncul bunga maka tidak akan bisa dibuat lebih tinggi ukurannya.

Dalam usia tujuh hingga sepuluh hari barulah benih tersebut dipindahkan ke media tanam yang lebih besar agar bisa tumbuh dengan umur tiga hingga empat bulan sebelum dipanen.

Selama masa itu, pemberian pupuk dan pestisida harus dilakukan secara rutin agar tanaman bisa subur dan terhindar dari hama.

2. Tak pernah mendapat perhatian dari pemerintah

Jalan Panjang Bunga Krisan, Pemanis di Hari Kasih Sayang (Debbie Sutrisno/IDN Times)

Tatang menjelaskan, sejak menggeluti bisnis ini belum pernah sekalipun dapat bantuan dari pemerintah daerah. Padahal perkebunan bunga di kawasan Bandung Barat menjadi potensi ekonomi yang hasilnya tidak hanya dijual di dalam negeri tapi sampai luar negeri.

Untuk masalah pupuk saja, petani bunga sangat kewalahan. Harga pupuk sering kali naik dan jarang sekali untuk turun. Pupuk subsidi yang selama ini digadang-gadang pemerintah pun tidak cocok digunakan sehingga para petani banyak menggunakan pupuk jenis lain yang memang harganya cukup mahal.

"Inginnya ya jelas ada bantuan buat petani. Karena kalau di Bandung kan ya kawasan ini tuh udah sentra bunga lah. Harusnya ada perhatian lebih ke petani bunga gitu," ujar Tatang.

Dari usaha ini, Tatang dan petani bunga lainnya bisa mendapat Rp12 juta dalam sekali panen. Menurutnya, jumlah uang ini bisa lebih baik ketika pemerintah bisa menyediakan pupuk dengan harga lebih murah karena pengeluaran besar dalam pertanian ini adalah pupuk.

Nominal tersebut pun bisa berkurang tergantung dari kualitas bunga. Pada musim hujan seperti sekarang, lebih banyak hama pada daun dan bunga. Daun kadang lebih mengerut atau berjamur sehingga terlihat kurang segar. Kondisi tersebut jelas menurunkan nilai jual kepada pembeli.

Berbeda ketika musim panas, hasil panen bunga bisa lebih segar. Sebab, walaupun tempat ini tertutup dalam budidayanya, tapi penyiraman bunga terus dilakukan sehingga kondisinya bagus. Maka, ketika hujan terus terjadi dan intensitasnya tinggi jelas bisa berdampak buruk pada hasil pertanian bunga.

3. Tak pastinya pendapatan petani bunga

Jalan Panjang Bunga Krisan, Pemanis di Hari Kasih Sayang (Debbie Sutrisno/IDN Times)

Sementara itu, salah satu pengepul bunga di kawasan Bandung Barat, Taryana, mengatakan bahwa bunga sejatinya masih laris untuk berbagai jenis. Sebab kebutuhan bunga bisa dipakai untuk banyak kegiatan mulai dari perayaan hari tertentu, pernikahan, hingga karangan bunga orang meninggal.

Mulai dari bunga jenis mawar, krisan, lili breath, lili, dan jenis lainnya masih menjadi buruan pedagang bunga termasuk pada konsumennya.

Menurutnya, bunga yang dihasilkan dari Bandung Barat masih banyak diminta oleh kawasan Jabodetabek karena memang kawasan ini menjadi salah satu sentra terbesar untuk Jawa Barat. Sehingga banyak penjual bunga dari daerah lain mencarinya tetap di Bandung.

Jelang perayaan tertentu seperti valentine sudah pasti para pedagang bunga bakal menambah stoknya. Permintaan tersebut jelas menguntungkan untuk petani bunga karena mereka bisa memanen lebih banyak dari biasanya. Harga bunga mawar misalnya, bisa naik mencapai Rp 40 ribu-Rp 150 ribu per kodi.

"Harga mungkin ada kenaikan sedikit tapi tidak akan terlalu jauh kalau dari kami, pengepul. Kalau harga jual dari pedagang eceran kami gak tahu kan beda-beda menentukan harganya," ungkap Taryana.

Harga bunga di tingkat petani bisa berubah-ubah tergantung dengan cuaca. Jika permintaan banyak tapi kondisi cuaca jelek, dampaknya produktivitas petani akan terdampak dan berbuntut pada sulitnya mencari bunga tertentu di pasaran.

Dengan permintaan yang naik turun ini, pembayaran kepada petani pun berbeda-beda tergantung bagaimana komunikasi kedua belah pihak. Namun, mayoritas memang dibayar langsung oleh pembeli karena uang tersebut kemudian sebagian diputar kembali untuk pertanian bunga sehingga dalam waktu beberapa bulan bisa kembali panen.

Meski demikian, Taryana memastikan bahwa bisnis bunga ini tidak akan pernah surut karena permintaan dari masyarakat tetap ada. Walaupun sekarang mulai bersaing dengan makin banyaknya pedagang eceran yang memadupadankan buang asli dengan bunga plastik, atau justru seluruhnya pakai bunga plastik karena dianggap lebih terang dan lebih tahan lama saat disimpan.

Editorial Team