Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jabar Masuk KLB Campak Nasional karena Masih Ada Penolakan Vaksin
ilustrasi campak (IDN Times/NRF)
  • Kementerian Kesehatan mencatat 8.224 kasus suspek campak dengan empat kematian dan 21 KLB di 11 provinsi, termasuk Jawa Barat sebagai salah satu wilayah terbanyak.
  • Kepala Dinas Kesehatan Jabar menyoroti penolakan vaksinasi sebagai pemicu utama meningkatnya kasus campak yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti radang otak dan kebutaan.
  • Dinkes Jabar menindaklanjuti dengan imunisasi respons wabah (ORI), koordinasi penguatan surveilans penyakit, serta edukasi publik untuk meningkatkan kesadaran pentingnya imunisasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
23 Februari 2026

Kementerian Kesehatan mencatat 8.224 kasus suspek campak di seluruh Indonesia dengan empat kematian dan 21 KLB di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi.

pekan pertama Maret 2026

Dinas Kesehatan Jawa Barat menggelar pertemuan koordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota untuk memperkuat surveilans penyakit dan meningkatkan cakupan imunisasi.

11 Maret 2026

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, menyatakan penolakan vaksin menjadi pemicu munculnya kembali kasus campak dan menjelaskan langkah penanganan termasuk pelaksanaan ORI di Kabupaten Bogor, Kota Cirebon, dan Kabupaten Garut.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Jawa Barat ditetapkan masuk dalam status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak nasional akibat meningkatnya kasus dan masih adanya penolakan terhadap vaksinasi campak di sejumlah wilayah.
  • Who?
    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Dinas Kesehatan Jawa Barat di bawah pimpinan Vini Adiani Dewi menangani situasi penyebaran kasus campak serta pelaksanaan imunisasi respons wabah.
  • Where?
    Kasus tersebar di berbagai daerah Indonesia, dengan fokus penanganan di Jawa Barat termasuk Kabupaten Bogor, Kota Cirebon, dan Kabupaten Garut sebagai lokasi pelaksanaan imunisasi ORI.
  • When?
    Data terakhir tercatat per 23 Februari 2026, dengan tindak lanjut kegiatan imunisasi dan koordinasi dilakukan pada pekan pertama Maret 2026.
  • Why?
    Peningkatan kasus terjadi karena sebagian masyarakat masih menolak vaksinasi campak, sehingga perlindungan terhadap virus menurun dan risiko penularan meningkat.
  • How?
    Dinas Kesehatan Jabar melakukan pendampingan ke daerah terdampak, melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI), memperkuat surveilans penyakit, serta mengintensifkan edukasi publik tentang bahaya campak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang di Indonesia sakit campak, dan ada juga yang meninggal. Di Jawa Barat banyak anak kena karena masih ada yang tidak mau imunisasi. Bu Vini dari Dinas Kesehatan bilang imunisasi itu penting supaya tidak tertular. Sekarang petugas kasih vaksin ke daerah yang kena dan ajak orang biar mau imunisasi lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun Jawa Barat masuk dalam status KLB campak, langkah cepat Dinas Kesehatan menunjukkan komitmen kuat untuk mengendalikan situasi. Melalui pelaksanaan imunisasi respons wabah di beberapa daerah, koordinasi intensif dengan kabupaten/kota, serta penguatan edukasi dan sistem surveilans, pemerintah daerah memperlihatkan kesiapsiagaan dan keseriusan dalam melindungi kesehatan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Kementerian Kesehatan mencatat ada 8.224 kasus suspect campak di seluruh Indonesia per 23 Februari 2026. Dari data tersebut ada empat kasus kematian dan di periode yang sama, terdapat 21 KLB suspek campak yang tersebar di 17 kabupaten/kota di sebelas provinsi.

Kemudian, dari 13 KLB di enam provinsi telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, dan lima provinsi dengan jumlah KLB campak terbanyak yakni Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, serta Jawa Tengah.

Menanggapi kondisi ini, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, menilai masih adanya kelompok masyarakat yang menolak vaksinasi atau imunisasi campak menjadi salah satu pemicu munculnya kembali kasus penyakit menular tersebut.

"Kasus campak terjadi karena masih ada masyarakat yang menolak imunisasi. Sehingga yang penting harus imunisasi, karena campak adalah virus yang mudah menular," kata Vini, Rabu (11/3/2026).

1. Campak bisa sampai radang otak

Ilustrasi vaksin campak (Freepik/freepik)

Dia menegaskan, risiko yang ditimbulkan campak tidak bisa dianggap sepele, terutama bagi anak yang belum mendapatkan imunisasi. Tanpa perlindungan vaksin, infeksi virus campak dapat memicu komplikasi serius yang berdampak pada kesehatan jangka panjang.

"Bila tidak diimunisasi, akan menyebabkan radang otak, kebutaan, radang paru dan malnutrisi berat," ucapnya.

Dinas Kesehatan Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk segera mengambil langkah pencegahan apabila mengalami gejala campak, sekaligus mencegah penularan ke orang lain.

"Isolasi mandiri, memakai masker, berobat ke fasyankes (Fasilitas Layanan Kesehatan)," kata dia.

2. ORI Campak dimaksimalkan

ilustrasi campak pada anak (CDC/Public Health Image Library (PHIL), ID#28830)

Lebih lanjut, Vini mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti situasi tersebut dengan memberikan pendampingan intensif kepada kabupaten/kota yang masuk dalam definisi operasional KLB.

Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi respons wabah campak di sejumlah daerah yang terdampak.

"Kami tindaklanjuti untuk melaksanakan ORI campak. Yang sudah melaksanakan ORI, Kabupaten Bogor, Kota Cirebon dan Kabupaten Garut," kata Vini.

3. Pemantauan turut dilakukan langsung di masing-masing kabupaten dan kota

Pasien anak pada kasus campak di RSUD Soedarso Pontianak. (IDN Times/Teri).

Selain itu, pada pekan pertama Maret 2026, Dinas Kesehatan Jabar juga menggelar pertemuan koordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota guna memperkuat sistem surveilans penyakit dan meningkatkan cakupan imunisasi.

"Melakukan pemantauan dari sistem kewaspadaan dini, kemudian kami konfimasi ke kabupaten/kota setiap minggunya, bila ada kasus suspect atau konfirmasi, kami feedback ke kabupaten/kota yang bersangkutan untuk dilakukan PE (penyelidikan epidemiologi) secara fully investigated," katanya.

Tak hanya itu, Dinkes Jabar juga memperkuat upaya edukasi publik mengenai bahaya penyakit campak, termasuk menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat serta tenaga kesehatan.

Editorial Team