Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi penduduk warga negara (pixabay.com/Gerd Altmann)
ilustrasi penduduk warga negara (pixabay.com/Gerd Altmann)

Intinya sih...

  • Jepang menghadapi krisis generasi muda sejak lamaAngka kelahiran terus menurun, sementara populasi lansia meningkat tajam. Banyak anak muda memilih fokus pada karier dan kualitas hidup pribadi.

  • Korea Selatan mencatat angka kelahiran terendah duniaHarga properti yang melambung, persaingan kerja ekstrem, dan budaya kerja yang menuntut membuat anak muda merasa masa depan terlalu mahal untuk ditanggung.

  • Negara Eropa mulai merasakan kekosongan generasi mudaPopulasi muda berkurang, sementara angka kelahiran tak mampu menggantikan jumlah penduduk yang menua. Migrasi membantu menahan laju pen

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Fenomena penurunan jumlah penduduk muda bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang mulai dirasakan banyak negara saat ini. Generasi muda yang biasanya menjadi motor ekonomi, inovasi, dan perubahan sosial kini jumlahnya terus menyusut.

Berbagai faktor berkelindan di balik tren ini, mulai dari perubahan gaya hidup, tekanan ekonomi, hingga keputusan personal soal pernikahan dan memiliki anak. Anak muda di banyak negara kini menghadapi tantangan hidup yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Biaya hidup yang meningkat, ketidakpastian kerja, hingga krisis hunian membuat banyak orang menunda bahkan menghindari rencana berkeluarga. Dampaknya terasa langsung pada angka kelahiran dan struktur demografi.

Jika dibiarkan, penyusutan populasi muda bisa memengaruhi stabilitas ekonomi, sistem pensiun, hingga dinamika sosial sebuah negara. Berikut beberapa negara yang mulai merasakan dampak berkurangnya penduduk usia muda.

1. Jepang menghadapi krisis generasi muda sejak lama

Ilustrasi pekerja di Jepang (Unsplash.com/ Tycho Atsma)

Jepang menjadi contoh paling nyata soal penyusutan penduduk muda. Angka kelahiran di negara ini terus menurun, sementara populasi lansia meningkat tajam dari tahun ke tahun.

Banyak anak muda Jepang memilih fokus pada karier dan kualitas hidup pribadi. Jam kerja panjang, biaya membesarkan anak yang tinggi, serta tekanan sosial membuat generasi muda semakin enggan membangun keluarga.

2. Korea Selatan mencatat angka kelahiran terendah dunia

ilustrasi Korea Selatan (pexels.com/Pixabay)

Korea Selatan bahkan mencatat rekor global dengan tingkat kelahiran terendah. Jumlah penduduk usia produktif muda terus menurun drastis dalam satu dekade terakhir.

Harga properti yang melambung, persaingan kerja ekstrem, dan budaya kerja yang menuntut membuat anak muda merasa masa depan terlalu mahal untuk ditanggung. Akibatnya, pernikahan dan memiliki anak sering kali bukan prioritas.

3. Negara Eropa mulai merasakan kekosongan generasi muda

ilustrasi penampilan ala pria Italia (pexels.com/James Reyes)

Beberapa negara Eropa seperti Italia, Spanyol, dan Jerman juga menghadapi tren serupa. Populasi muda berkurang, sementara angka kelahiran tak mampu menggantikan jumlah penduduk yang menua.

Migrasi memang membantu menahan laju penurunan, tetapi tetap belum cukup. Banyak anak muda Eropa menunda punya anak demi stabilitas finansial dan kebebasan personal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penyusutan penduduk muda bukan sekadar persoalan satu negara, melainkan masalah global. Cara generasi muda memandang hidup, karier, dan keluarga telah berubah secara signifikan.

Menurut kamu, apakah penurunan jumlah penduduk muda ini wajar sebagai konsekuensi zaman, atau justru sinyal krisis sosial yang perlu segera ditangani?

Editorial Team