Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi listrik ramah lingkungan (pexels.com/Markus Spiske)
ilustrasi listrik ramah lingkungan (pexels.com/Markus Spiske)

Intinya sih...

  • Inflasi tahunan di Cirebon mencapai 3,20 persen, didominasi tekanan struktural dari sektor energi dan jasa yang diatur pemerintah.

  • Deflasi bulanan sebesar 0,44 persen didorong oleh koreksi harga pangan dan energi, namun masih ada komoditas yang memberikan andil inflasi bulanan.

  • BPS menilai inflasi di Kota Cirebon masih perlu dicermati, terutama dari komoditas administered prices dan sektor jasa. Pengendalian inflasi perlu difokuskan pada komoditas energi dan jasa.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Laju inflasi tahunan di Kota Cirebon kembali menguat pada awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon mencatat inflasi year-on-year Januari 2026 sebesar 3,20 persen, mencerminkan tekanan harga masih berlangsung, terutama dari sektor energi dan jasa yang diatur pemerintah.

Kenaikan inflasi tahunan tersebut tercermin dari pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 104,44 pada Januari 2025 menjadi 107,78 pada Januari 2026. Meski demikian, secara bulanan dan kumulatif sejak awal tahun, Cirebon justru mengalami penurunan harga.

1. Inflasi tahunan didominasi tekanan struktural

Ilustrasi listrik padam (Pexels/Burak The Weekender)

Pelaksana Tugas Kepala BPS Kota Cirebon, Ujang Mauludin, menjelaskan bahwa inflasi tahunan masih dipengaruhi oleh faktor-faktor struktural yang cenderung bertahan dalam jangka panjang. Tekanan tersebut terutama berasal dari kelompok pengeluaran perumahan, energi, pendidikan, serta berbagai jasa.

Menurutnya, meskipun sejumlah harga pangan mengalami koreksi pada Januari 2026, kondisi tersebut belum cukup untuk menahan dorongan inflasi secara tahunan. “Inflasi y-on-y mencerminkan kenaikan harga yang bersifat struktural, bukan sekadar fluktuasi musiman,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

BPS mencatat sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami inflasi tahunan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 1,85 persen, sementara pakaian dan alas kaki mencatat inflasi 1,55 persen.

Tekanan inflasi paling signifikan terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak hingga 8,79 persen secara tahunan. Kelompok ini menjadi kontributor terbesar inflasi y-on-y dengan andil 1,44 persen.

Selain itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi 6,28 persen, diikuti pendidikan sebesar 4,79 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,11 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 4,03 persen.

Ujang menyebut tarif listrik sebagai komoditas dengan andil inflasi terbesar secara tahunan. Kenaikan biaya pendidikan, terutama akademi dan perguruan tinggi, juga turut memperkuat tekanan harga, disusul berbagai makanan jadi dan jasa.

Sejumlah komoditas lain yang mendorong inflasi antara lain beras, bakso siap santap, rokok kretek mesin, biaya servis, tarif dokter spesialis, bawang merah, emas perhiasan, hingga sayuran hijau dan makanan siap saji.

2. Deflasi bulanan ditopang koreksi harga pangan

Ilustrasi Inflasi (Foto: IDN Times)

Berbeda dengan inflasi tahunan, secara month-to-month (m-to-m) dan year-to-date (y-to-d), Kota Cirebon mengalami deflasi 0,44 persen pada Januari 2026. Penurunan harga ini terutama didorong oleh koreksi sejumlah komoditas pangan dan energi.

Komoditas penyumbang deflasi bulanan terbesar antara lain daging ayam ras, cabai merah dan rawit, bawang merah, telur ayam ras, bensin, wortel, cabai hijau, hingga beberapa sayuran dan komoditas hortikultura lainnya. Penurunan tarif kereta api juga ikut menahan laju inflasi.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah komoditas yang memberikan andil inflasi bulanan, seperti rokok, roti bakar, daging sapi, tarif rumah sakit, emas perhiasan, hingga beberapa barang kebutuhan rumah tangga.

3. Inflasi masih perlu diwaspadai

ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

BPS menilai kondisi ini menunjukkan inflasi di Kota Cirebon masih perlu dicermati, terutama yang bersumber dari komoditas administered prices dan sektor jasa. Fluktuasi harga pangan dinilai hanya bersifat sementara dan belum cukup kuat menekan tekanan struktural.

“Ke depan, pengendalian inflasi perlu difokuskan pada komoditas energi dan jasa yang memberikan andil besar terhadap inflasi tahunan,” kata Ujang.

Ia menegaskan koordinasi antarinstansi tetap diperlukan agar stabilitas harga dan daya beli masyarakat dapat terjaga sepanjang 2026.

Editorial Team