Ilustrasi listrik padam (Pexels/Burak The Weekender)
Pelaksana Tugas Kepala BPS Kota Cirebon, Ujang Mauludin, menjelaskan bahwa inflasi tahunan masih dipengaruhi oleh faktor-faktor struktural yang cenderung bertahan dalam jangka panjang. Tekanan tersebut terutama berasal dari kelompok pengeluaran perumahan, energi, pendidikan, serta berbagai jasa.
Menurutnya, meskipun sejumlah harga pangan mengalami koreksi pada Januari 2026, kondisi tersebut belum cukup untuk menahan dorongan inflasi secara tahunan. “Inflasi y-on-y mencerminkan kenaikan harga yang bersifat struktural, bukan sekadar fluktuasi musiman,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).
BPS mencatat sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami inflasi tahunan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 1,85 persen, sementara pakaian dan alas kaki mencatat inflasi 1,55 persen.
Tekanan inflasi paling signifikan terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak hingga 8,79 persen secara tahunan. Kelompok ini menjadi kontributor terbesar inflasi y-on-y dengan andil 1,44 persen.
Selain itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi 6,28 persen, diikuti pendidikan sebesar 4,79 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,11 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 4,03 persen.
Ujang menyebut tarif listrik sebagai komoditas dengan andil inflasi terbesar secara tahunan. Kenaikan biaya pendidikan, terutama akademi dan perguruan tinggi, juga turut memperkuat tekanan harga, disusul berbagai makanan jadi dan jasa.
Sejumlah komoditas lain yang mendorong inflasi antara lain beras, bakso siap santap, rokok kretek mesin, biaya servis, tarif dokter spesialis, bawang merah, emas perhiasan, hingga sayuran hijau dan makanan siap saji.