Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
HUT ke-385, Kabupaten Bandung Masih Dihantui Banjir dan Sampah
Masuki Usia ke-385 Tahun, Banjir-Sampah Masih Jadi Masalah di Kabupaten Bandung. Dok Diskominfo Kabupaten Bandung
  • Pada HUT ke-385, Bupati Dadang Supriatna menyoroti sejarah panjang Kabupaten Bandung sekaligus tantangan besar seperti banjir, sampah, dan peningkatan kualitas SDM.
  • Program Citarum Harum berhasil mengurangi luas genangan banjir, namun sedimentasi dan curah hujan tinggi masih memicu banjir di sejumlah wilayah cekungan.
  • Pemkab Bandung fokus pada pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat serta penguatan SDM dan ekonomi sirkular untuk mendukung visi Indonesia Emas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Tahun ini Kabupaten Bandung memasuki usia ke-385 tahun. Di usia yang sudah panjang, Bupati Dadang Supriatna menyebut bahwa daerah ini memiliki sejarah besar sebagai kawasan Cekungan Bandung yang melahirkan sejumlah daerah otonom seperti Kota Bandung, Kota Cimahi, hingga Kabupaten Bandung Barat.

Di balik itu, Dadang menekankan masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Mulai dari persoalan banjir yang kerap terjadi, pengelolaan sampah, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk menyongsong Indonesia Emas.

1. Daerah rawan tergenang

Banjir Rancabolang, Kota Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Dadang menegaskan Kabupaten Bandung masih menghadapi persoalan banjir, terutama saat musim hujan. Kondisi geografis sebagai cekungan membuat wilayah ini rawan tergenang air.

Ia menjelaskan, program Citarum Harum dari pemerintah pusat sebenarnya telah memberi dampak positif dengan menurunkan luas genangan banjir dari sekitar 4.000 hektare menjadi 1.500 hektare. Namun, persoalan belum sepenuhnya selesai.

Menurutnya, sedimentasi yang meningkat serta kurangnya pemeliharaan menjadi penyebab banjir kembali terjadi. Selain itu, curah hujan tinggi juga memperparah kondisi di lapangan.

“Dulu banjir bisa sampai satu bulan atau dua minggu, sekarang bisa lebih cepat surut, bahkan sempat dua hari. Tapi karena kondisi tertentu bisa kembali lebih lama,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

2. Sampah jadi perhatian serius, Pemkab siapkan inovasi

Truk yang tergabung dalam Forum Komunikasi Swakelola Sampah Bali (Forkom SSB) melakukan aksi damai di Kantor Gubernur Bali dan KLH, Kamis (16/4/2026). (IDN Times/Ayu Afria)

Selain banjir, Dadang juga menyoroti persoalan sampah yang dinilai menjadi tantangan besar di Kabupaten Bandung. Ia mengaku telah melakukan kajian dan menyiapkan terobosan untuk mengatasi masalah tersebut.

Menurutnya, pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Perlu keterlibatan seluruh masyarakat agar solusi yang dihadirkan bisa berjalan efektif. Di momen hari jadi ke-385 ini, isu sampah menjadi salah satu fokus yang akan diperjuangkan melalui program-program konkret ke depan.

3. Kejar SDM unggul dan ekonomi sirkular menuju Indonesia Emas

MSDM

Dadang menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM dalam menghadapi Indonesia Emas. Ia menyinggung program pemerintah pusat seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi yang sehat dan kompeten.

"Selain itu, konsep ekonomi sirkular juga terus didorong untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah," kata dia. Di sisi lain laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung mengalami peningkatan sebesar 1,34 persen pada periode 2024–2025.

Sebagai refleksi hari jadi, Pemkab Bandung juga menggelar perayaan secara sederhana tanpa karnaval. Dadang bahkan mengimbau agar karangan bunga diganti dengan bibit pohon, karena dinilai lebih bermanfaat dan tidak menambah sampah.

Ia juga membuka ruang kritik dari masyarakat selama bertujuan membangun. “Mari kita kompak membangun Kabupaten Bandung yang lebih BEDAS, maju, dan berkelanjutan,” kata dia.

Editorial Team