Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi influenza (pixabay.com/Mojpe)
ilustrasi influenza (pixabay.com/Mojpe)

Intinya sih...

  • IDI Jawa Barat konfirmasi 10 kasus influenza H3N2 subclade K di Jawa Barat

  • Mutasi virus tidak mengubah tingkat keganasan, tetap sebanding dengan flu musiman

  • Imbauan waspada tanpa panik, pencegahan sederhana dan jangan tunda pemeriksaan kesehatan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat merespons munculnya istilah superflu yang belakangan ramai diperbincangkan publik, menyusul laporan Kementerian Kesehatan terkait temuan puluhan kasus influenza A H3N2 subclade K di Indonesia.

Organisasi profesi dokter itu menegaskan masyarakat perlu mendapatkan penjelasan berbasis medis agar tidak terjebak kepanikan berlebihan.

Ketua IDI Jawa Barat, dr. Moh Lutfhi, menegaskan kalau istilah superflu sejatinya tidak memiliki dasar dalam terminologi kedokteran. Menurutnya, istilah tersebut lebih merupakan label populer yang berkembang di ruang publik dan media sosial, bukan klasifikasi penyakit resmi.

Dalam dunia medis, gejala yang menyerupai flu, seperti demam, batuk, pilek, nyeri otot, dan lemas, umumnya dikategorikan sebagai influenza like illness (ILI). ILI merupakan kumpulan gejala yang bisa disebabkan oleh berbagai jenis virus, tidak hanya virus influenza.

“Banyak virus pernapasan yang dapat menimbulkan gejala mirip flu. Jadi, tidak tepat jika langsung menyimpulkan semua kasus ini sebagai penyakit baru yang luar biasa berbahaya,” ujar Lutfhi, Kamis (8/1/2026).

1. Temuan kasus di Jawa Barat sudah dikonfirmasi genomik

ilustrasi infeksi influenza (unsplash.com/Engin Akyurt)

IDI Jawa Barat mengonfirmasi, dari total 62 kasus influenza H3N2 subclade K yang dilaporkan secara nasional, sebanyak sepuluh pasien berasal dari Jawa Barat. Seluruh kasus tersebut telah menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan metode whole genome sequencing (WGS).

Pemeriksaan WGS merupakan teknik laboratorium tingkat lanjut yang digunakan untuk mengidentifikasi susunan genetik virus secara rinci. Melalui metode ini, tenaga kesehatan dapat memastikan tipe virus, subclade, serta karakter mutasi yang terjadi.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien-pasien tersebut memang positif influenza A H3N2 subclade K,” kata Lutfhi. Namun demikian, ia menegaskan, IDI tidak berada pada posisi untuk memaparkan detail wilayah persebaran kasus.

2. Mutasi ada, tapi tidak mengubah tingkat keganasan

ilustrasi virus influenza (cdc.gov)

Lutfhi menjelaskan, virus influenza secara alami memang mudah mengalami mutasi. Subclade K merupakan salah satu hasil perubahan genetik dari virus H3N2 yang selama ini sudah lama beredar di Indonesia.

Meski demikian, mutasi tersebut tidak bersifat ekstrem dan tidak mengubah karakter dasar virus secara signifikan. Dari sisi klinis, tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkan masih sebanding dengan influenza musiman pada umumnya.

“Yang perlu dipahami, ini bukan virus baru seperti saat awal munculnya COVID-19. Secara keganasan hampir sama dengan flu biasa, hanya saja penularannya bisa berlangsung lebih cepat,” ujarnya.

Dengan karakter tersebut, IDI menilai situasi saat ini belum dapat disamakan dengan kondisi kedaruratan kesehatan masyarakat berskala besar.

3. Imbauan waspada tanpa panik

ilustrasi influenza (pexels.com/@olly)

Di tengah meningkatnya perhatian publik, IDI Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk bersikap waspada secara proporsional. Upaya pencegahan sederhana dinilai masih menjadi langkah paling efektif, seperti menjaga kebersihan diri, menerapkan etika batuk dan bersin, serta memperkuat daya tahan tubuh.

Lutfhi juga menyarankan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala flu berat, berlangsung lama, atau disertai penyakit penyerta tertentu.

“Penyebaran penyakit bisa ditekan jika masyarakat tetap tenang dan mengikuti anjuran kesehatan. Kepanikan justru berpotensi menimbulkan masalah baru,” katanya.

IDI berharap informasi yang beredar di ruang publik dapat disikapi secara kritis dan berbasis data medis, sehingga masyarakat tidak terjebak pada istilah sensasional yang berpotensi menyesatkan.

Editorial Team