Cirebon, IDN Times - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat merespons munculnya istilah superflu yang belakangan ramai diperbincangkan publik, menyusul laporan Kementerian Kesehatan terkait temuan puluhan kasus influenza A H3N2 subclade K di Indonesia.
Organisasi profesi dokter itu menegaskan masyarakat perlu mendapatkan penjelasan berbasis medis agar tidak terjebak kepanikan berlebihan.
Ketua IDI Jawa Barat, dr. Moh Lutfhi, menegaskan kalau istilah superflu sejatinya tidak memiliki dasar dalam terminologi kedokteran. Menurutnya, istilah tersebut lebih merupakan label populer yang berkembang di ruang publik dan media sosial, bukan klasifikasi penyakit resmi.
Dalam dunia medis, gejala yang menyerupai flu, seperti demam, batuk, pilek, nyeri otot, dan lemas, umumnya dikategorikan sebagai influenza like illness (ILI). ILI merupakan kumpulan gejala yang bisa disebabkan oleh berbagai jenis virus, tidak hanya virus influenza.
“Banyak virus pernapasan yang dapat menimbulkan gejala mirip flu. Jadi, tidak tepat jika langsung menyimpulkan semua kasus ini sebagai penyakit baru yang luar biasa berbahaya,” ujar Lutfhi, Kamis (8/1/2026).
