ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)
Selain harga di pasar, Pemprov Jabar menyoroti lemahnya pengawasan distribusi sebagai salah satu celah yang kerap memicu distorsi harga. Erwan menilai, praktik penahanan pasokan atau distribusi yang tersendat sering kali terjadi ketika permintaan meningkat tajam.
Ia meminta pemerintah kabupaten dan kota di Ciayumajakuning untuk memastikan rantai pasok berjalan normal, mulai dari tingkat produsen, distributor, hingga pasar tradisional. Tanpa intervensi cepat, keterlambatan distribusi berpotensi dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk memainkan harga.
“Pengendalian inflasi tidak cukup dengan operasi pasar sesaat. Yang lebih penting adalah memastikan distribusi berjalan lancar dan stok benar-benar tersedia,” katanya.
Faktor cuaca ekstrem juga menjadi perhatian serius. Curah hujan tinggi, banjir, dan potensi longsor dinilai berisiko menghambat produksi serta distribusi pangan di beberapa wilayah Ciayumajakuning. Kondisi ini berpotensi mempersempit pasokan dan memicu kenaikan harga secara tiba-tiba.
Pemprov Jabar meminta kepala daerah memperkuat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengantisipasi dampak cuaca terhadap logistik pangan.
Menurut Erwan, kesiapsiagaan terhadap risiko cuaca harus menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah, bukan sekadar respons darurat ketika harga sudah terlanjur naik.