Bandung, IDN Times - Menu makanan bergizi gratis (MBG) dikeluarkan Mahesa Rayyan dari dalam tas usai pulang dari sekolah. Satu buah telur rebus, roti, susu kemasan, dan beberapa camilan lain menjadi menu yang didapat anak lima tahun tersebut pada hari kedua masuk sekolah usai libur panjang Idulfitri 2026.
Makanan bergizi yang menjadi program prioritas pemerintah ini baru didapat Rayyan sebelum bulan puasa dimulai. Itu sehubungan baru berdirinya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tak jauh dari sekolahnya di kawasan Pasir Jati, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ketika memasuki Ramadan, MBG yang didapat diberikan dua kali dalam seminggu setiap Senin dan Rabu. Ada makanan yang harus dimasak seperti ayam, tahu, tempe, ada juga rebusan seperti ubi, dimsum, serta telur.
"Enak ada telur rebus kesukaan aku," ujar Rayyan saat menyantap makanan yang didapat dari sekolahnya, Selasa (31/3/2026). Tak butuh waktu lama, telur, susu dan pisang yang ada pun langsung dihabiskannya. Senyum merekah pun terpaut pada wajah Rayyan usai menyantap makanan tersebut.
Makan bergizi gratis memang menjadi program yang dipersiapkan pemerintahan Prabowo-Gibran bahkan sebelum mereka menjabat sebagai presiden dan wakil presiden. Pemberian asupan makanan bergizi ini salah memiliki tujuan utama untuk menurunkan prevalensi gizi buruk dan stunting pada kelompok rentan, yakni balita, anak sekolah, hingga ibu hamil atau menyusui melalui pemenuhan gizi seimbang. Ini dijalankan demi memastikan pertumbuhan fisik dan kognitif optimal, mencegah malnutrisi permanen, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), prevalensi stunting di Indonesia pada 2024 berhasil turun menjadi 19,8 persen. Meskipun turun di bawah 20 persen untuk pertama kalinya, angka ini masih tergolong tinggi menurut standar WHO dan belum mencapai target pemerintah di angka 14 persen. Sementara di Kabupaten Bandung tempat Mahesa dan Setia tinggal menjadi salah satu daerah angka stuntingnya cukup tinggi 8,87 persen.
Menyantap MBG tidak hanya dilakukan Rayyan. Setia, ibu Rayyan juga mendapatkan menu tersebut karena dia masih memiliki bayi berusia 10 bulan. Setia masuk dalam kategori ibu menyusui dan harus mendapatkan asupan makanan bergizi. Bahkan makanan bergizi pun didapat anak keduanya, Kaynara.
"Saya juga dapat. MBG suka ada dibawa ke masjid deket rumah terus nanti bisa diambil dari sana. Anak saya juga dapat yang 10 bulan, jadi setiap hari dapat tiga paket," kata Setia.
Menurutnya, menu dari MBG cukup bervariasi, mulai makanan kekinian seperti dimsum hingga makanan bergizi lokal seperti umbi-umbian baik ketang atau ubi kukus. Perubahan menu makan seperti ini dinilai bagus sehingga anak tidak bosan ketika setiap hari mendapat makanan bergizi dari sekolah.
"Mending kata gini jadi ga itu-itu aja makanannya. Dicampur makanan lokal buat anak juga tahu kalau makanan itu banyak yang enak," ungkapnya.
