Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
FMIPA ITB: Nilai Kompetensi Matematika Siswa SMA di Jabar Lemah
ilustrasi matematika (pexels.com/JESHOOTS.com)
  • FMIPA ITB memetakan kompetensi matematika 3.046 siswa SMA di Jawa Barat dan menemukan lebih dari 75 persen masih berada pada level kemampuan dasar.
  • Hasil menunjukkan kesenjangan antarwilayah, dengan tujuh daerah mencatat skor tinggi seperti Pangandaran dan Kota Bekasi, sementara lima wilayah lain tertinggal signifikan.
  • FMIPA ITB dan Disdik Jabar menyiapkan program AMCT-Jabar untuk meningkatkan kompetensi guru matematika, menargetkan 80 persen guru memenuhi standar baru pada tahun 2028.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
21–22 Oktober 2025

FMIPA ITB melakukan pemetaan kompetensi matematika siswa SMA di Jawa Barat melalui platform MathERA, melibatkan 3.046 siswa dari 157 sekolah di 27 kabupaten/kota.

2025

Dinas Pendidikan Jawa Barat mencatat skor numerasi provinsi sebesar 66,81, masih di bawah target nasional 70,6.

9 Mei 2026

Guru Besar FMIPA ITB Edy Tri Baskoro menyoroti lemahnya kompetensi matematika siswa dan pentingnya peningkatan kualitas guru matematika.

2028

FMIPA ITB dan Disdik Jabar menargetkan 80 persen guru matematika SMA memenuhi standar kompetensi baru melalui program AMCT-Jabar dan pelatihan upskilling enam hingga dua belas bulan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    FMIPA ITB merilis hasil pemetaan kompetensi matematika siswa SMA di Jawa Barat yang menunjukkan sebagian besar siswa masih berada pada level kemampuan dasar.
  • Who?
    Pemetaan dilakukan oleh FMIPA Institut Teknologi Bandung dengan dukungan Dinas Pendidikan Jawa Barat, melibatkan 3.046 siswa dari 157 SMA negeri dan swasta.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di 27 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat melalui platform daring MathERA.
  • When?
    Pemetaan dilaksanakan pada 21–22 Oktober 2025, dengan hasil disampaikan kepada publik pada Mei 2026.
  • Why?
    Kegiatan ini bertujuan memetakan kemampuan matematika siswa serta menjadi dasar perencanaan peningkatan kompetensi guru dan kualitas pembelajaran di Jawa Barat.
  • How?
    Pemetaan dilakukan melalui tes daring berbasis platform MathERA, menghasilkan skor rata-rata provinsi sebesar 500 dan analisis distribusi kemampuan dalam empat level kompetensi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak anak SMA di Jawa Barat nilainya masih kecil kalau ngerjain soal matematika. Orang-orang dari ITB dan Dinas Pendidikan lihat hasilnya dan bilang banyak anak baru bisa soal gampang saja. Ada juga guru yang belum jago matematika, jadi nanti guru-guru mau diajar lagi supaya bisa bantu murid belajar lebih pintar berhitung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun hasil pemetaan menunjukkan tantangan dalam kompetensi matematika siswa SMA di Jawa Barat, langkah-langkah konkret yang diambil FMIPA ITB dan Dinas Pendidikan Jabar mencerminkan komitmen kuat terhadap perbaikan. Keterlibatan lebih dari tiga ribu siswa dari 27 kabupaten/kota menandakan proses evaluasi yang inklusif, sementara program AMCT-Jabar menunjukkan fokus jangka panjang pada peningkatan kualitas guru sebagai fondasi penguatan pendidikan matematika.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Skor kompetensi matematika tingkat SMA negeri dan swasta di Jawa Barat masih tergolong rendah. Hal ini diketahui berdasarkan hasil pemetaan kompetensi matematika yang dilakukan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 21–22 Oktober 2025.

Pemetaan yang dilakukan melalui platform online testing MathERA melibatkan 3.046 siswa dari 157 SMA negeri dan swasta di 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Skor rata-rata provinsi berada di angka 500, setara rerata skala PISA internasional.

Distribusi kompetensi siswa terbagi dalam empat level. Sebanyak 39,40 persen siswa berada di level I atau pemahaman konseptual dasar, dan 35,78 persen di level II kemampuan prosedural.

Artinya, lebih dari 75 persen siswa masih berada pada kemampuan dasar dan baru mampu menyelesaikan soal-soal rutin.

1. Geometri-kalkulus menjadi bidang dengan capaian paling lemah

ilustrasi matematika (pexels.com/Katerina Holmes)

Sementara itu, level III penalaran dan argumentasi matematis dicapai oleh 23,70 persen siswa dan hanya 1,12 persen atau 34 siswa yang berhasil menembus level IV problem solving tingkat tinggi, standar minimum yang dituntut dalam UTBK maupun asesmen internasional seperti PISA dan TIMSS.

"Matematika merupakan core competency yang harus dikuasai oleh semua siswa dari semua level. Matematika adalah fondasi untuk memahami perkembangan bidang-bidang lain, science, engineering, semuanya," ujar Guru Besar FMIPA ITB, Edy Tri Baskoro, dikutip Sabtu (9/5/2026).

Dari sisi bidang studi, kekuatan siswa Jawa Barat relatif merata pada bilangan serta data dan peluang. Adapun aljabar, geometri dan pengukuran serta matematika lanjut dan kalkulus menjadi bidang dengan capaian paling lemah.

2. Ada 13 wilayah dengan nilai di atas rata-rata provinsi

Ilustrasi matematika (freepik.com/jcomp)

Dari 27 kabupaten/kota, sebanyak 13 wilayah mencatat nilai di atas rata-rata provinsi. Berdasarkan data, tujuh wilayah menunjukkan kinerja tinggi dan konsisten. Rinciannya, Kabupaten Pangandaran (542,06), Kabupaten Purwakarta (529,61), Kota Bekasi (532,83), Kota Sukabumi (531,06), Kabupaten Tasikmalaya (531,33), Kabupaten Bogor (528,64), dan Kota Bandung (527,16).

Sebaliknya, lima wilayah mencatat capaian terendah, yakni Kota Cirebon (443,07), Kota Tasikmalaya (450,49), Kabupaten Bandung Barat (461,44), Kabupaten Kuningan (464,44), dan Kabupaten Majalengka (467,45). Kesenjangan antarwilayah ini dinilai signifikan dan memerlukan strategi intervensi berbasis wilayah.

Edy menyebut, dua aktor utama yang harus menjadi prioritas dalam upaya peningkatan kompetensi matematika, yakni siswa dan guru. Dia secara khusus menyoroti persoalan latar belakang akademik tenaga pengajar matematika di lapangan.

"Guru memegang kendali dalam pembelajaran. Tapi tidak sedikit guru matematika yang latar belakangnya bukan matematika. Ada yang dari sains, bahkan sosial. Ini yang perlu kita perbaiki, baik kemampuan mengajarnya maupun kemampuan matematikanya itu sendiri," ujarnya.

3. Disdik Jabar dorong peningkatan kompetensi matematika untuk guru

Ilustrasi Matematika dengan Sains Data (Sumber: freepik.com)

Merespons hal tersebut, Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Barat, Deden Saepul Hidayat mengatakan, kondisi numerasi Jabar pada 2025, skornya mencapai 66,81 atau masih berada di bawah target 70,6.

"Para kepala dinas pendidikan se-Indonesia pun menyampaikan hal yang sama bahwa nilai rapor numerasi masih sangat rendah, termasuk di Jawa Barat," katanya.

Persoalan ini, dikatakan Deden tidak hanya di SMA saja, melainkan jenjang SMK hingga sekolah luar biasa (SLB) pun mengalami kondisi yang sama.

"Dari hasil yang ada, terlihat adanya korelasi yang signifikan antara rapor mutu pendidikan dengan hasil TKA," ungkapnya.

FMIPA ITB bersama Disdik Jabar mendorong pelaksanaan Assessment of Mathematical Competency for Teachers (AMCT-Jabar) bagi seluruh guru matematika SMA di Jabar.

Program itu menargetkan 80 persen guru matematika memenuhi standar kompetensi baru pada 2028. Guru dengan kemampuan rendah, akan mengikuti program upskilling selama enam hingga 12 bulan.

"Intervensi juga perlu dilakukan kepada guru, baik melalui uji kompetensi maupun pelatihan. Sebab, ketika berbicara tentang STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) dan sains, akan sulit meningkatkan kualitas layanan pendidikan di Jawa Barat tanpa penguatan kompetensi guru," tegas Deden.

Editorial Team