Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Efisiensi BBM, Pemkot Bandung Kaji WFH untuk ASN
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Dok Diskominfo
  • Pemkot Bandung masih menunggu petunjuk teknis dari pemerintah pusat sebelum menerapkan WFH bagi ASN untuk efisiensi BBM di tengah dampak konflik Iran-Amerika-Israel.
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut program WFH setiap Kamis di Pemprov Jabar berjalan efektif dengan kinerja ASN dinilai dari hasil pembangunan, bukan kehadiran fisik.
  • Pemerintah pusat melalui Mendagri Tito Karnavian masih membahas kebijakan WFH nasional guna menghemat BBM, dengan koordinasi lintas kementerian dan keputusan akhir menunggu arahan Menko Ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Pemerintah masih melakukan kajian mengenai skema bekerja dari rumah atau work from home (WFH) untuk meminimalisir pembelian bahan bakar minyak (BBM) di tengah situasi perang Iran dengan Amerika-Israel yang berdampak pada lalu lintas kapal pengangkut minyak. Sejumlah negara sekarang sedang kewalahan karena BBM mereka mulai menipis sehingga banyak orang panik dan membeli minyak secara berlebihan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menuturkan, Pemkot Bandung belum bisa menerapkan WFH maupun WFA untuk seluruh aparatur sipil negara (ASN) karena belum ada kejelasan dari pemerintah pusat. Pemkot Bandung masih menunggu petunjuk teknis yang rinci untuk menjalankan skema tersebut.

"Untuk BBM efisiensinya kita masih menunggu juklak-juknis karena ini baru sekedar wacana. Ada yang bilang hari Rabu, ada bilang hari Kamis, atau Jumat. Kita tunggu aja analisis mana yang paling memungkinkan gitu," ujar Farhan, Senin ( 30/3/2026).

1. Harus ada cara ukur efektivitas kinerja

Ilustrasi PNS (Foto: IDN Times)

Menurutnya, ketika Pemda memberlakukan WFH atau WFA untuk menghemat BBM, maka harus ada cara mengukur efektivitas mereka dalam bekerja. Jangan sampai dengan skema tersebut pekerjaan ASN justru terbengkalai dan pelayanan pada masyarakat kurang optimal.

"Terutama nih bagaimana cara menguruk kehadiran kerja ketika kita persilakan ASN ini untuk melakukan WFH," paparnya.

2. Pemprov Jabar klaim program WFH efektif

Ilustrasi PNS (menpan.go.id)

Di lain pihak, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan, work from home (WFH) yang diterapkan setiap Kamis di lingkungan Pemda Provinsi Jawa Barat berjalan efektif. Ia menekankan, kinerja aparatur sipil negara tidak hanya dilihat dari kehadiran fisik di kantor, melainkan pada hasil pembangunan yang dicapai.

“Kita sudah dari dulu jalankan WFH, efektif. Lihat saja produk pembangunannya, berhasil atau tidak. Selama ini administrasi berjalan dengan baik, kemudian realisasi belanja anggaran malah over,” kata Dedi di Gedung Sate.

Dedi pun menegaskan pentingnya efektivitas birokrasi serta penguatan tenaga teknis dalam pelayanan publik. "Problem dari kita ini lebih banyak jabatan struktural, lebih banyak fungsi-fungsi yang menyuruh dibanding yang mengerjakan," ujarnya.

3. Pemerintah masih matangkan skema ini

Ilustrasi PNS (Foto: IDN Times)

Pemerintah masih mengkaji kebijakan work from home (WFH) untuk aparatur sipil negara (ASN) dan karyawan swasta. Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, mengatakan pembahasan untuk kebijakan WFH sudah dilakukan. Kebijakan WFH itu dilakukan untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM). Sebab, pasokan BBM terganggu akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

"Soal WFH sudah dirapatkan, tapi nanti biar satu suara. Oleh karena itu, kemarin yang memimpin rapat kan Menko Ekonomi didampingi juga Menko PMK. Jadi ya, biar yang mengumpulkan biar Pak Menko Ekonomi," ujar Tito beberapa waktu lalu.

Rapat mengenai kebijakan WFH digelar pada Selasa (24/3/2026) dan berjalan hampir empat jam. Dalam rapat itu, Tito mengaku memberikan sejumlah masukan. Meski begitu, dia menyatakan tak berwenang memberikan pernyataan hasil rapat.

"Sudah rapat kemarin, rapat hampir tiga atau empat jam. Ya, tapi kami sepakat untuk satu suara berarti yang menyampaikan. Ya, saya nggak tahu siapa di Istana. Apakah Pak Menko PMK, apakah Menteri Ekonomi, ataukah nanti oleh Pak Mensesneg," ucap dia.

Editorial Team