Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Edukasi Pangan Nabati Kian Didorong Lewat Program Berkelanjutan (IDN Times/istimewa)
Edukasi Pangan Nabati Kian Didorong Lewat Program Berkelanjutan (IDN Times/istimewa)

Intinya sih...

  • Transisi pangan nabati sebagai respons krisis iklim

    • Pangan nabati lebih efisien dan berkelanjutan daripada pangan hewani

  • Mendorong institusi untuk menyajikan menu berbasis nabati secara berkala

  • Edukasi langsung ke komunitas dan institusi lokal

    • Rangkaian road trip edukasi di Yayasan SAPA, Rumah Edukasi Kenanga, dan Yayasan Pertakina Indonesia Sejahtera Abadi

  • Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan lokal dalam mendukung misi NEH

  • Dari teori ke praktik lewat pendekatan interaktif

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Memasuki awal 2026, upaya mendorong sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan terus diperkuat di berbagai daerah. Jawa Barat menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus melalui rangkaian kegiatan edukasi yang menyasar institusi pendidikan dan organisasi sosial.

Program Nutrisi Esok Hari (NEH), sebuah inisiatif keberlanjutan berskala internasional, kembali melanjutkan agenda edukasinya setelah sepanjang 2025 aktif melakukan sosialisasi pangan ramah lingkungan. Fokus utama program ini adalah memperkenalkan pola konsumsi nabati yang seimbang dan mudah diterapkan dalam keseharian.

Salah satu kegiatan yang disorot adalah road trip edukasi yang berlangsung pada 22–29 November 2025. Program ini menyambangi sejumlah kota di Jawa Barat, seperti Majalaya, Indramayu, dan Cirebon, dengan membawa pesan penting tentang pangan nabati bagi kesehatan dan lingkungan.

Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, NEH berupaya menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan sistem pangan dapat dimulai dari lingkup paling dekat, yakni piring makan dan dapur institusi.

1. Transisi pangan nabati sebagai respons krisis iklim

Edukasi Pangan Nabati Kian Didorong Lewat Program Berkelanjutan (IDN Times/istimewa)

Dorongan untuk beralih ke pangan nabati tidak lepas dari tantangan lingkungan global. Produksi pangan saat ini menyumbang lebih dari 26 persen emisi gas rumah kaca dunia, dengan pangan hewani menjadi salah satu kontributor terbesar akibat tingginya penggunaan lahan dan air.

Berbagai riset menunjukkan bahwa produksi daging sapi membutuhkan hingga 20 kali lebih banyak lahan dan menghasilkan emisi jauh lebih besar dibandingkan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan. Fakta ini menjadikan pangan nabati sebagai alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan.

“Kami percaya bahwa transformasi menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan dimulai dari piring kita sehari-hari,” ujar Yohana Sadeli, perwakilan tim Nutrisi Esok Hari, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Senin (27/1/2026).

NEH pun mendorong institusi untuk mulai menyajikan menu berbasis nabati setidaknya satu kali dalam sepekan, dengan komposisi seimbang yang mencakup serealia, polong-polongan, sayuran, dan biji-bijian.

2. Edukasi langsung ke komunitas dan institusi lokal

Edukasi Pangan Nabati Kian Didorong Lewat Program Berkelanjutan (IDN Times/istimewa)

Perjalanan edukasi NEH dimulai di Yayasan SAPA, Majalaya, sebelum berlanjut ke Rumah Edukasi Kenanga di Indramayu. Di kota ini, kegiatan dihadiri Idah Nuryani yang memberikan dukungan terhadap inisiatif kesehatan berbasis pangan berkelanjutan.

Rangkaian road trip kemudian ditutup di Cirebon melalui kolaborasi dengan Yayasan Pertakina Indonesia Sejahtera Abadi dan Yayasan Banati. Pada puncak acara, Camat Gempol Sri Darmanto membuka kegiatan sekaligus menyampaikan apresiasi terhadap misi yang diusung NEH.

“Sudah banyak data membuktikan bahwa pangan nabati tak hanya lebih ramah bagi lingkungan, tapi juga lebih menyehatkan,” kata Yohana Sadeli.

Melalui keterlibatan berbagai pemangku kepentingan lokal, NEH berharap pesan tentang pangan etis dapat diterima lebih luas dan berkelanjutan.

3. Dari teori ke praktik lewat pendekatan interaktif

Edukasi Pangan Nabati Kian Didorong Lewat Program Berkelanjutan (IDN Times/istimewa)

Tak hanya menyampaikan materi, kegiatan NEH juga dirancang interaktif agar mudah dipahami peserta. Beragam aktivitas dilakukan, mulai dari pengenalan konsep “Isi Piringku” hingga penulisan komitmen pribadi untuk menjalani gaya hidup sehat.

Peserta juga diajak mengikuti demo memasak secara langsung untuk mempraktikkan pengolahan bahan pangan nabati menjadi menu yang lezat dan aplikatif. Pendekatan ini diharapkan mampu menghapus anggapan bahwa makanan nabati sulit diolah atau kurang menarik.

“Melalui rangkaian edukasi ini, kami ingin membuktikan bahwa beralih ke pangan nabati mudah dan terjangkau untuk diterapkan oleh institusi mana pun,” tutur Yohana.

Ke depan, Nutrisi Esok Hari berkomitmen melanjutkan kolaborasi serupa dengan menyediakan dukungan gratis, mulai dari resep, estimasi nilai gizi, hingga pelatihan dapur bagi institusi yang ingin bertransformasi menuju sistem pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Editorial Team