Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dulu Mendunia, Kini Sepi: Nasib Microlibrary Bima di Kota Bandung
Bima Microlibrary Bandung (miclib.com)
  • Microlibrary Bima di Bandung, yang diresmikan pada 2015 dan dikenal lewat fasad ribuan ember es krim bekas, kini sepi, terkunci, serta mengalami kerusakan fasilitas.

  • Perpustakaan yang pernah meraih penghargaan internasional ini kini hanya dapat diakses dengan izin pengurus lingkungan, setelah sempat digunakan untuk aktivitas yang tidak sesuai fungsinya.

  • Dinas Arsip dan Perpustakaan Bandung menyebut buku dan sarana masih tersedia, tetapi reaktivasi kegiatan warga dan komunitas belum berjalan konsisten untuk menghidupkan fungsi sosialnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Microlibrary Bima di Bandung dulu ramai dan terkenal sampai luar negeri. Bangunannya unik karena memakai ember es krim bekas. Sekarang tempatnya sepi, pintunya terkunci, dan ada bagian yang rusak. Buku dan fasilitas masih ada. Bu Dewi dari dinas perpustakaan ingin warga membuat kegiatan lagi agar perpustakaan hidup kembali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meski kini sepi, Microlibrary Bima masih menyimpan modal penting untuk kembali berfungsi: bangunannya tetap berdiri, fasilitas dasar dan koleksi buku tersedia, serta desain inovatifnya pernah mendapat pengakuan internasional. Komunikasi pemerintah dengan warga dan gagasan agenda berbasis komunitas menunjukkan adanya perhatian untuk menghidupkan kembali ruang sosial tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times – Sulit membayangkan bangunan kecil di Jalan Bima, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung ini pernah menjadi salah satu ikon yang dibicarakan hingga ke luar negeri. Sinar matahari siang ini tidak terlalu panas, ketika IDN Times melihat langsung kondisi bangunan Microlibrary Bima.

Dari luar, bentuknya masih sama seperti saat pertama kali diresmikan pada 2015. Dinding yang tersusun dari ribuan ember es krim bekas masih menjadi ciri khas yang membuat orang mudah mengenalinya. Namun suasana di sekitarnya sudah jauh berbeda.

Halaman perpustakaan tampak sepi. Daun-daun kering berserakan di beberapa sudut. Sebagian bahkan terlihat sudah dibakar di dekat bangunan. Tak ada warga yang beraktivitas di lokasi ini. Tak ada aktivitas komunitas yang dulu sempat ramai. Apalagi warga yang datang untuk membaca buku. Pintu bangunan untuk menuju ruang perpustakaan terkunci rapat dengan beberapa bagiannya yang rusak.

Di area lapangan juga terlihat hanya tampak dua gawang sepak bola tanpa jaring yang berdiri di sisi halaman. Beberapa tiang lampu yang mengelilingi area perpustakaan juga terlihat tidak lagi berfungsi. Ada lampu yang hilang, ada pula yang tidak terpasang.

Kondisi serupa terlihat pada pagar kawat yang mengelilingi area bangunan. Di sejumlah titik, kawat sudah berlubang dan rusak. Untuk masuk ke dalam perpustakaan, pengunjung harus menaiki tangga di bagian depan. Namun setibanya di atas, pintu utama terlihat terkunci. Pada bagian bawah pintu bahkan terdapat lubang yang cukup besar.

Padahal lebih dari satu dekade lalu, Microlibrary Bima menjadi salah satu simbol inovasi ruang publik Kota Bandung. Perpustakaan yang dibangun pada masa kepemimpinan Ridwan Kamil itu sempat mencuri perhatian karena desainnya yang tidak biasa. Sekitar 2.000 ember es krim bekas digunakan sebagai bagian dari fasad bangunan.

Keunikan tersebut membuat Microlibrary Bima meraih sejumlah penghargaan internasional, di antaranya Architizer Project of The Day pada 2016 dan Silver Award LafargeHolcim Awards Asia Pacific 2017. Namun penghargaan ternyata tidak menjamin sebuah ruang publik akan terus hidup.

Kini, warga tidak bebas bisa datang pada jam operasional. Warga yang mengakses ke bangunan harus melalui izin pengurus lingkungan setempat. Keputusan tersebut diambil setelah perpustakaan sempat digunakan oleh sejumlah orang untuk aktivitas yang tidak semestinya.

1. Bangunan masih ada, aktivitas yang hilang

Microlibrary Bima kini kondisinya sepi dan terbengkalai. (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Dewi Kaniasari, mengakui kondisi Microlibrary Bima menjadi perhatian pihaknya.

Menurut Dewi, persoalan utama saat ini bukan pada bangunan ataupun koleksi buku yang tersedia. Fasilitas dasar perpustakaan masih ada. Yang belum berhasil dihidupkan kembali adalah aktivitas yang membuat perpustakaan memiliki fungsi sosial bagi masyarakat.

"Ya, itu PR. Karena itu ya itu tadi. Kita sebetulnya sempat mengajak warga setempat ya, termasuk komunitasnya. Ayo reaktivasi ruangan, ya ini ya, microlibrary ini," kata Dewi.

Ia mengatakan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung telah berkomunikasi dengan camat, lurah, hingga warga sekitar untuk mencari cara menghidupkan kembali aktivitas di Microlibrary Bima. Namun hingga kini belum ada program yang berjalan secara konsisten.

Menurutnya, keberadaan perpustakaan tidak cukup hanya dengan menyediakan bangunan dan buku.

"Kita udah siapkan tuh sarana prasarananya, buku-bukunya udah ada. Nah, hanya, kan satu perpustakaan itu termasuk unsur-unsurnya itu selain pustakawan, pemustaka, ada juga aktivasi kegiatan-kegiatannya," ungkapnya.

2. Dulu ramai dikunjungi, kini harus izin untuk masuk

Microlibrary Bima kini kondisinya sepi dan terbengkalai. (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Beberapa tahun lalu, Microlibrary Bima merupakan ruang yang relatif terbuka bagi masyarakat. Warga bisa datang untuk membaca, berdiskusi, atau sekadar menikmati suasana perpustakaan dengan desain yang berbeda dari kebanyakan fasilitas publik lainnya.

Kini situasinya berubah. Bangunan yang pernah menjadi salah satu ikon ruang publik Bandung itu tidak lagi bisa diakses secara bebas.

Saat IDN Times berada di lokasi, pintu utama perpustakaan terlihat terkunci. Tidak ada tanda-tanda aktivitas di dalam bangunan. Untuk bisa masuk, pengunjung harus terlebih dahulu berkoordinasi dengan pengurus lingkungan setempat.

Perubahan itu bukan tanpa alasan. Menurut informasi yang diperoleh di lokasi, pembatasan akses dilakukan setelah bangunan sempat digunakan oleh sejumlah pihak untuk aktivitas yang tidak sesuai dengan fungsi perpustakaan.

Kondisi tersebut menghadirkan ironi tersendiri. Bangunan yang awalnya dirancang sebagai ruang publik terbuka justru perlahan menjadi ruang yang tertutup karena kehilangan aktivitas positif yang dulu menghidupkannya.

Bagi sebagian warga, yang hilang dari Microlibrary Bima bukan hanya akses terhadap bangunan, melainkan juga fungsi sosial yang pernah melekat di dalamnya.

3. Persoalannya bukan buku, tetapi aktivitas yang menghidupkan ruang

Microlibrary Bima kini kondisinya sepi dan terbengkalai. (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Dewi Kaniasari, menilai tantangan terbesar Microlibrary Bima saat ini bukan terletak pada koleksi buku maupun fasilitas yang tersedia. Menurutnya, unsur terpenting dari sebuah perpustakaan justru adalah aktivitas yang berlangsung di dalamnya. Tanpa kegiatan yang melibatkan masyarakat, bangunan semenarik apa pun akan sulit mempertahankan fungsinya sebagai ruang publik.

"Kita udah siapkan tuh sarana prasarananya, buku-bukunya udah ada. Nah, hanya, kan satu perpustakaan itu termasuk unsur-unsurnya itu selain pustakawan, pemustaka, ada juga aktivasi kegiatan-kegiatannya," ujar Dewi.

Karena itu, pihaknya beberapa kali mencoba mendorong lahirnya kegiatan yang berasal dari warga sekitar. Mulai dari diskusi komunitas, aktivitas literasi, hingga agenda rutin yang bisa menjadikan Microlibrary Bima kembali menjadi tempat berkumpul masyarakat.

Dewi bahkan mengaku sudah beberapa kali mendatangi lokasi dan berdiskusi dengan pengurus wilayah mengenai kemungkinan menghidupkan kembali aktivitas di perpustakaan tersebut.

"Saya sempat sampaikan, coba bikin kalender event di sana, khusus di sana, oleh warga, dari warga, dan untuk warga," katanya.

Bagi Dewi, masa depan Microlibrary Bima tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau pengelola. Ruang itu akan kembali hidup ketika masyarakat merasa memiliki alasan untuk datang dan menggunakannya.

Sebab pada akhirnya, perpustakaan tidak kehilangan fungsi karena kekurangan buku. Ia kehilangan fungsi ketika tak lagi menjadi bagian dari kehidupan warganya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article