Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260127-WA0012.jpg
Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, Kiai Haji (KH) Imam Jazuli (kanan) dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto, KH Asep Saifuddin Chalim (kiri)

Intinya sih...

  • Duet kiai Cirebon, KH Imam Jazuli dan KH Asep Saifuddin Chalim, dinilai ideal pimpin PBNU jelang Muktamar ke-35.

  • Berbasis karya dan rekam jejak pendidikan menjadi alasan utama kedua figur dianggap ideal memimpin PBNU.

  • Kemandirian pesantren, arah transformasi NU, representasi Cirebon, dan keseimbangan kepemimpinan menjadi faktor penentu dalam penilaian tersebut.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Duet dua kiai asal Cirebon, KH Imam Jazuli dan KH Asep Saifuddin Chalim, dinilai sebagai pasangan ideal untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35. KH Imam Jazuli, pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, disebut layak mengisi posisi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, sementara KH Asep Saifuddin Chalim, pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto sekaligus putra dari KH Abdul Chalim Leuwimunding Majalengka dipandang tepat sebagai Rais Aam PBNU.

Penilaian tersebut menguat seiring munculnya aspirasi akar rumput NU yang menghendaki kepemimpinan berbasis karya nyata, kemandirian pesantren, serta penguatan sumber daya manusia (SDM). Duet ini dinilai memenuhi kebutuhan NU di tengah tantangan perubahan sosial, pendidikan, dan ekonomi yang semakin kompleks.

1. Berbasis karya dan rekam jejak pendidikan

Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, Kiai Haji (KH) Imam Jazuli (kanan) dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto, KH Asep Saifuddin Chalim (kiri)

Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Cirebon, Dasuki menyebutkan, kedua figur dinilai memiliki rekam jejak panjang dalam pengelolaan pendidikan pesantren yang berorientasi pada kualitas dan daya saing global.

KH Imam Jazuli melalui Pesantren Bina Insan Mulia dikenal mendorong model pendidikan pesantren modern dengan jejaring internasional, termasuk pengiriman alumni ke berbagai negara untuk melanjutkan pendidikan dan penguatan kapasitas SDM.

Sementara itu, KH Asep Saifuddin Chalim melalui Pesantren Amanatul Ummah telah lama dikenal dengan sistem pendidikan yang menekankan prestasi akademik santri. Lembaga tersebut mencatat banyak alumni yang diterima di perguruan tinggi unggulan nasional hingga luar negeri, termasuk pada bidang-bidang strategis seperti kedokteran dan sains.

"Rekam jejak tersebut dinilai menjadi modal penting dalam menjawab kebutuhan NU untuk melahirkan kader yang tidak hanya kuat secara keagamaan, tetapi juga kompeten dalam ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Dasuki, Selasa (27/1/2026).

2. Kemandirian pesantren dan arah transformasi NU

Pendiri Ponpes VIP Bina Insan Mulia 2, KH Imam Jazuli

Selain pendidikan, faktor kemandirian pesantren menjadi salah satu alasan kuat mengapa duet ini dinilai ideal. Keduanya dipersepsikan sebagai figur yang tidak bergantung pada kekuatan politik praktis maupun donor eksternal, sehingga dianggap mampu menjaga independensi organisasi.

Dalam konteks NU, kata Dasuki, kemandirian tersebut dinilai penting agar organisasi dapat berperan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek kepentingan politik. Arah transformasi yang ditawarkan menempatkan NU sebagai penggerak peradaban melalui pendidikan, penguatan ekonomi umat, dan kaderisasi yang terstruktur.

"Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan NU untuk memperkuat peran sosialnya, tidak hanya dalam urusan ritual keagamaan, tetapi juga dalam peningkatan kualitas hidup warga Nahdliyin," ujarnya.

3. Representasi Cirebon dan keseimbangan kepemimpinan

Bupati Sumenep saat berkunjung ke tempat Kiai Asep, Kamis (27/10/2022). (Dok. Pribadi Bupati Sumenep)

Dasuki menyebutkan, kedua tokoh tersebut berasal dari Cirebon dan Majalengka ini juga dinilai memiliki makna strategis. Selama ini, wilayah Pantura Jawa Barat kerap dipandang sebagai kantong kultural NU yang kuat, namun kurang terwakili dalam pucuk kepemimpinan nasional. Duet KH Imam Jazuli dan KH Asep Saifuddin Chalim dipandang mampu menjembatani kekuatan kultural tersebut dengan jaringan pesantren nasional yang telah mereka bangun.

Dari sisi kepemimpinan, keduanya dinilai saling melengkapi. KH Imam Jazuli dikenal sebagai figur intelektual dengan pendekatan manajerial progresif, sementara KH Asep Saifuddin Chalim dipandang sebagai kiai sepuh yang kuat secara spiritual sekaligus berpengalaman dalam tata kelola organisasi pendidikan besar.

Kombinasi tersebut dinilai ideal untuk menjawab tantangan NU ke depan, terutama dalam menyiapkan kader unggul menyongsong agenda besar Indonesia Emas 2045.

"Dengan basis pesantren, kemandirian, dan orientasi pendidikan, duet dua kiai asal Cirebon ini dipandang sebagai representasi kepemimpinan NU yang diharapkan mampu membawa organisasi tetap berakar pada tradisi, namun relevan dengan tuntutan zaman," tutupnya.

Editorial Team