Bandung, IDN Times - Di antara riuh mahasiswa yang lalu-lalang di kampus Institut Teknologi Bandung, ada satu cerita yang bikin siapa pun berhenti sejenak. Syamsun Ramli, 48 tahun, kini tercatat sebagai mahasiswa Program Doktor Arsitektur. Ia datang ke kelas dengan kursi roda dan dengan perjalanan hidup yang tidak sederhana.
Tahun 1998 jadi titik balik. Saat masih semester dua Teknik Sipil di Universitas Brawijaya, Ramli aktif di kegiatan pencinta alam. Dalam latihan panjat tebing, ia terjatuh dari ketinggian sekitar 17 meter.
Empat ruas tulang belakangnya cedera. Ia mengalami paraplegia atau kelumpuhan tubuh bagian bawah.
Awalnya, kursi roda terasa seperti vonis akhir. “Seperti semuanya selesai,” begitu kira-kira yang ia rasakan saat itu. Tapi waktu pelan-pelan mengubah cara pandangnya. Ia memilih melihat peristiwa itu sebagai kesempatan kedua untuk menata hidup.
