Ilustrasi Pendidikan (IDN Times/Arief Rahmat)
Berdasarkan pembahasan awal, Dinas Pendidikan Jawa Barat mengusulkan pembentukan 41 Sekolah Maung. Namun, Komisi V DPRD Jabar menilai rencana tersebut terlalu agresif untuk tahap awal pelaksanaan pada tahun ajaran 2026-2027.
Komisi V pun mendorong agar program dimulai melalui proyek percontohan atau pilot project sebelum diperluas ke berbagai daerah di Jawa Barat.
Sebagai langkah awal, Komisi V mengusulkan agar program difokuskan terlebih dahulu di Purwakarta yang dinilai paling siap dari sisi lahan dan infrastruktur.
"Satu saja dulu di Purwakarta. Anggarannya sudah ada, lahannya sudah ada, persiapannya juga lebih siap. Itu dulu yang dikerjakan," ucapnya.
Sebelumnya, Gubernur Dedi Mulyadi memastikan keberadaan sekolah ini bukan untuk membuat kecemburuan sekolah lainnya. Dedi menegaskan, Sekolah Maung digagas untuk memfasilitasi siswa dengan kualifikasi prestasi tertentu baik dari akademik dan non-akademik. Metode ini menurutnya sudah banyak hadir di sekolah-sekolah swasta.
Sehingga, keberadaan Sekolah Maung ini bukan untuk membuat adanya satu sekolah favorit baru, melainkan mengelompokkan seluruh murid berprestasi agar bisa meningkatkan kemampuannya.
"Begini dari dulu juga begitu kan, sama juga ada sekolah-sekolah yang punya kualifikasi khusus kaya Taruna Nusantara, kan sama juga begitu loh," ujar Dedi.
Kecemburuan yang sering terjadi di masyarakat, kata Dedi, sering kali muncul karena anaknya yang memiliki kemampuan lebih justru tidak mendapatkan kesempatan akademik yang layak dari murid lainnya. Hal tersebut dipastikan dia akan terkikis melalui Sekolah Maung.
"Nah akan menjadi kecemburuan mana sekolah itu hanya menekankan akademik misalnya memahami keunggulan anak itu hanya akademik itu kecemburuan," kata dia.
"Tapi sekarang keunggulan anak itu dibidang olahraga, dibidang seni, industri kreatif, teknologi ya itu kan tidak akan melahirkan kecemburuan maka jadi lah yang terbaik," kata Dedi.