Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Disdik Jabar Bantah Tudingan Program Sekolah Maung Tidak Inklusif
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat, Purwanto (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

  • Disdik Jabar menegaskan Program Sekolah Maung bertujuan memberi keadilan bagi siswa berprestasi non-akademik dan ekonomi menengah ke bawah, bukan menciptakan kesenjangan pendidikan.
  • Program ini akan diterapkan pada tahun ajaran 2026/2027 di 41 SMA dan SMK unggulan di 27 kabupaten/kota Jawa Barat untuk meningkatkan layanan bagi siswa berprestasi.
  • Sejumlah pihak menilai Sekolah Maung berpotensi diskriminatif karena dianggap menciptakan sekat antara sekolah reguler dan sekolah unggulan, meski Disdik Jabar membantah tudingan tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
27 April 2026

Ketua Umum FKSS Jawa Barat, Ade D. Hendriana, menyatakan bahwa program Sekolah Manusia Unggul berpotensi menimbulkan diskriminasi dan sekat dalam dunia pendidikan tingkat SMA/SMK di Jawa Barat.

16 Mei 2026

Kepala Disdik Jabar, Purwanto, membantah tudingan tersebut dan menjelaskan bahwa program Sekolah Maung justru memberikan keadilan bagi peserta didik berprestasi non-akademik dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

tahun ajaran 2026/2027

Program Sekolah Maung dijadwalkan mulai menerima peserta didik baru dengan melibatkan 41 SMA dan SMK terpilih di 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Dinas Pendidikan Jawa Barat membantah tudingan bahwa program Sekolah Manusia Unggul (Maung) bersifat tidak inklusif dan menimbulkan kesenjangan pendidikan di tingkat SMA serta SMK.
  • Who?
    Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Purwanto, bersama jajaran Disdik Jabar, serta Ketua Umum Forum Kepala Sekolah SMA Swasta (FKSS) Jawa Barat, Ade D. Hendriana.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan di Bandung, dengan cakupan pelaksanaan program pada 41 SMA dan SMK di 27 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat.
  • When?
    Pernyataan Purwanto disampaikan pada Sabtu, 16 Mei 2026, sementara tanggapan dari FKSS muncul sebelumnya pada Senin, 27 April 2026.
  • Why?
    Tudingan muncul karena kekhawatiran program tersebut akan menciptakan diskriminasi antar sekolah; Disdik Jabar menegaskan tujuannya justru untuk memberi kesempatan bagi siswa berprestasi non-akademik dari ekonomi menengah ke bawah.
  • How?
    Program Sekolah Maung akan mulai menerima peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027 melalui sekolah-sekolah terpilih yang difokuskan melayani siswa berprestasi dengan dukungan fasilitas dan tata kelola yang lebih baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang bilang Sekolah Maung itu nggak adil, tapi orang dari Dinas Pendidikan Jawa Barat bilang itu nggak benar. Katanya sekolah itu buat bantu anak yang pinter bukan cuma di pelajaran tapi juga yang jago hal lain. Sekarang ada 41 sekolah di Jawa Barat yang disiapin buat program ini dan mulai buka murid baru nanti tahun 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pernyataan Disdik Jabar menyoroti niat positif di balik program Sekolah Maung, yaitu memperluas kesempatan bagi siswa berprestasi non-akademik dari kalangan ekonomi menengah ke bawah agar memperoleh fasilitas dan dukungan yang layak. Dengan melibatkan 41 SMA dan SMK unggulan di seluruh Jawa Barat, langkah ini menunjukkan upaya pemerintah daerah memperbaiki tata kelola serta pemerataan layanan pendidikan negeri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat membantah tudingan program Sekolah Manusia Unggul (Maung) membuat adanya gap pendidikan di tingkat SMA dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Program ini justru diklaim memberikan keadilan bagi peserta yang memiliki prestasi non-akademik bagus peserta didik dengan ekonomi menengah ke bawah.

Sekolah Maung sendiri nantinya mulai menerima peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027. Sebanyak 41 SMA dan SMK sudah dipilih untuk menjadi penyelenggara program tersebut. Sekolah-sekolah yang dipilih ini pun dulunya dicap sebagai SMA dan SMK favorit di 27 kabupaten dan kota, Jawa Barat.

1. Selama ini kebijakan dinilai belum memihak pelayanan kepada murid berprestasi

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat, Purwanto (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Kepala Disdik Provinsi Jabar, Purwanto mengatakan, murid dengan prestasi non-akademik kerap kali kurang mendapatkan fasilitas dan dukungan dari sekolahnya. Melalui program ini murid tersebut akan difasilitasi.

"Selama ini kita tidak menghargai perbedaan bahwa masyarakat kita itu ada yang membutuhkan layanan-layanan yang harus mereka terima gitu," kata Purwanto, Sabtu (16/5/2026).

Dia menilai, anak-anak yang berprestasi itu harus mendapat layanan dan perhatian yang baik. "Kasihan juga mereka itu. Selama ini, tata kelolanya itu kan kurang mendapatkan perhatian yang serius dari kami (pemerintah daerah)," lanjutnya.

2. Sekolah negeri tidak lagi jadi pilihan utama

Kepala Disdik Jabar, Purwanto (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Dengan kondisi itu, Purwanto mengungkapkan, banyak murid berprestasi dari kelas menengah ke atas yang akhirnya memilih bersekolah di swasta karena SMA dan SMK negeri di Jawa Barat, kualitasnya sudah menurun.

Dia merasa, murid dari kelas menengah ini berhak mendapatkan kualitas pendidikan yang baik juga. Apalagi, mereka yang memiliki prestasi akademik dan non-akademik.

"Karena banyak layanan pendidikan masyarakat itu kelas menengah ke atas itu, pada 'lari' ke sekolah-sekolah swasta. Ada indikasi sekolah-sekolah yang diunggulkan ini mengalami degradasi, mengalami penurunan pelayanan," katanya.

3. Sekolah Maung dituding diskriminatif dan tidak inklusif

SMAN 3 Kota Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Disdik Jabar pun menerima beberapa keluhan dari alumni-alumni dan juga kepala sekolah negeri yang ada di Jawa Barat. Purwanto mengatakan, mereka menilai, kualitas SMA dan SMK negeri saat ini tidak bisa mengejar atau disetarakan dengan sekolah swasta.

"Jadi mereka kelas-kelas menengah yang anaknya punya prestasi akademik dan non-akademik itu banyak yang pada menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah swasta karena mereka berbayar dan pelayanannya lebih bagus gitu," jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Forum Kepala Sekolah SMA Swasta (FKSS) Jawa Barat, Ade D Hendriana mengatakan, keberadaan sekolah ini berpotensi membuat adanya sekat dalam dunia pendidikan khususnya tingkat SMA/SMK di Jawa Barat.

"Program Sekolah Manusia Unggul yang diinisiasi Gubernur Jawa Barat, akan memunculkan diskriminasi dalam pendidikan dan membuat sekat antara lembaga pendidikan," ujar Ade, Senin (27/4/2026).

Sekolah Maung yang rencananya akan menampung semua murid berprestasi dan mendapatkan pembelajaran yang berbeda dengan sekolah biasa itu, dinilai Ade sangat diskriminasi terhadap calon murid. "Penggolongan kasta dalam sekolah maung dan sekolah reguler itu bentuk diskriminatif," ucapnya.

Editorial Team