Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)
Di sela-sela langkah menyusuri hutan lindung seluas 2,5 hektare di area istana, Dedi berbagi pandangannya tentang filosofi ekologi Raja Pajajaran. Menurutnya, pemilihan lokasi Istana Cipanas oleh Belanda pada masa lalu selaras dengan kearifan lokal yang menganggap kawasan tersebut sakral karena kandungan mineral dan sumber air panasnya yang melimpah.
Ia pun memberikan pujian pada pepohonan besar yang tetap tegak berdiri meski berusia ratusan tahun. "Membangun jalan tol ribuan kilometer saya sanggup, anggarannya ada. Tapi menanam pohon sampai besar dan rimbun seperti ini, uang tidak bisa membelinya. Ini kemewahan yang sebenarnya," katanya.
Dedi juga menyinggung fenomena banjir di kawasan Puncak yang menurutnya sangat ironis. Hal itu dirasakannya merupakan dampak perubahan tata ruang yang tidak terkendali.
Melalui kunjungan ini, dia berkomitmen untuk terus mengembalikan fungsi lahan hijau di Jawa Barat agar situs seperti Istana Cipanas tidak hanya menjadi saksi sejarah yang bisu, tetapi tetap menjadi paru-paru bagi wilayah sekitarnya.