Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2026-02-09 at 13.01.32.jpeg
Dok IDN Times

Intinya sih...

  • Literasi keuangan ditanamkan melalui aktivitas di sekolah dan rumah

  • Peran orang tua dan guru menjadi kunci dalam pembelajaran literasi keuangan

  • Pendekatan berbasis ekosistem untuk menjawab rendahnya literasi keuangan pelajar

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN TimesLiterasi keuangan tak lagi cukup diajarkan lewat buku teks dan papan tulis. Kini, pembelajaran keuangan mulai digeser lebih dekat ke kehidupan sehari-hari, pelajar masuk ke ruang keluarga, meja makan, hingga keputusan kecil yang mereka ambil setiap hari.

Pendekatan itulah yang dihadirkan PT FWD Insurance Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) melalui program JA SparktheDream tahun keempat. Program ini menempatkan sekolah, rumah, dan pelaku industri jasa keuangan dalam satu ekosistem pembelajaran yang saling terhubung.

1. Literasi keuangan dibangun lintas ruang

Dok IDN Times

JA SparktheDream dirancang sebagai program literasi keuangan yang holistik. Siswa tidak hanya menerima materi di kelas, tetapi juga melanjutkannya melalui aktivitas di rumah bersama keluarga.

Melalui empat sesi pembelajaran interaktif, fasilitator PJI, guru, dan relawan FWD Insurance mengajak siswa memahami konsep dasar keuangan, lalu mempraktikkannya lewat diskusi keluarga, pencatatan pengeluaran sederhana, hingga pengambilan keputusan finansial sehari-hari dengan pendampingan orang tua.

Pendekatan ini bertujuan agar literasi keuangan tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan yang melekat dalam keseharian anak.

2. Orang tua dan guru jadi kunci ekosistem pembelajaran

Dok IDN Times

Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, Rudy F. Manik, menilai keterlibatan orang tua dan sekolah menjadi faktor krusial di tengah kompleksitas ekosistem keuangan digital saat ini.

“Anak-anak kini semakin cepat terpapar berbagai pilihan finansial beserta risikonya. Karena itu, pembelajaran harus relevan dengan realita mereka dan melibatkan orang tua serta sekolah sebagai satu ekosistem,” ujarnya.

Di sisi lain, PJI memandang peran guru sebagai investasi jangka panjang. Guru tidak hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga penggerak literasi keuangan berkelanjutan di sekolah, dengan dukungan metodologi dan materi yang bisa diadaptasi ke dalam kurikulum.

3. Menjawab tantangan rendahnya literasi keuangan pelajar

Literasi Keuangan

Pendekatan berbasis ekosistem ini dinilai relevan dengan kondisi literasi keuangan nasional. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa masih berada di angka 56,42%.

Di tengah kemudahan akses layanan keuangan digital, termasuk dompet digital, minimnya pemahaman berpotensi menimbulkan risiko sejak usia muda. Karena itu, JA SparktheDream juga diawali dengan seminar literasi keuangan bagi orang tua dan siswa bertajuk “Kelola Uang Hari Ini, Aman Esok Hari”.

Melalui integrasi pembelajaran di sekolah dan rumah, program ini diharapkan mampu membangun fondasi literasi keuangan yang lebih kuat bukan hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga membentuk pola pikir dan kebiasaan finansial sehat sejak dini.

Editorial Team